Setiap Dua Minggu Muncul Satu Pasien Baru
SURABAYA – Hari Kanker Sedunia diperingati hari ini (4/1). Seiring waktu, jumlah penderita penyakit mematikan tersebut semakin banyak. Salah satu jenis kanker yang perlu diwaspadai adalah kanker lidah.
Dokter Yoga Wijayahadi SpB-KL(K) mengungkapkan, setiap dua minggu, minimal ada seorang pasien baru yang harus dioperasi. Itu hanya data di divisi kepala dan leher RSUD dr Soetomo. Difasilitas kesehatan lain, jumlahnya diperkirakan tidak kalah banyak. Selama ini sebagian besar pasien kanker lidah datang terlambat. “Stadiumnya sudah lanjut, lidahnya memborok dan bolong,” jelasnya kemarin (3/2).
Alumnus FK Unair tersebut menyatakan, kanker lidah sangat berbahaya. Sebab, penyebarannya ke organ tubuh lain begitu cepat. Dalam hitungan minggu, pertumbuhan sel abnormal itu bisa mengenai rongga dada. Akibatnya, tenggorok dan paru-paru yang menjadi jalan napas ditumbuhi sel kanker. Jika hal tersebut dibiarkan, nyawa penderita menjadi taruhan.
Tidak hanya itu, fungsi lidah bakal terganggu. Misalnya, fungsi untuk membantu menelan makanan. Kondisi tersebut lagi-lagi bisa membuat pasien kekurangan nutrisi yang bisa mengakibatkan kematian. “Yang pasti, kemampuan bicara terancam tidak normal lagi,” ucapnya.
Menurut dia, stadium kanker lidah berpengaruh pada tindakan yang dipilih dokter. Jika stadiumnya sudah tiga ke atas, diperlukan kemoterapi dan radiasi yang lengkap sebelum operasi.
Dia menyebutkan, secara anatomi, lidah terbagi menjadi dua bagian. Dua pertiga bagian lidah menjulur ke depan. Lalu, sepertiganya berada di belakang. Jika yang terkena kanker di bagian pangkal lidah, penanganannya memang tidak bisa langsung operasi.
Pasien harus menjalani kemoterapi dan radiasi lebih dulu. Sebab, tindakan operasi berarti harus menyayat lidah. Jika lidah digores, dikhawatirkan akan membuka jalan bagi sel kanker menyebar melalui aliran darah. “Sel kanker itu bersifat seperti teroris. Walaupun cuma satu, harus diberantas karena penyebarannya progresif. Makanya, disinar dulu supaya kankernya semaput,” katanya.
Setelah itu, dokter baru melakukan pembedahan. Sel abnormal akan di buang. Lalu, tim dokter akan merekonstruksi lidah. Lantaran tindakan tersebut cukup berbahaya, Yoga mendorong penderita segera datang ke dokter bedah kepala leher jika merasakan gejala munculnya kanker lidah.
Gejala itu, misalnya, di dalam mulut terasa tidak nyaman. Lantas, ada tonjolan di bagian lidah dan muncul borok. Berbeda dengan luka biasa, borok tersebut sudah tidak berdarah. Jika diketahui lebih dini, kemungkinan kesembuhannya lebih besar. Angka keberhasilan untuk pulih lebih banyak. “Jangan menunggu lidah sudah digerogoti sampai habis,” tegasnya.
Menurut dia, dengan besarnya risiko kanker lidah itu, faktor pemicunya sebaiknya dihindari. Yang paling besar adalah merokok. Sebab, setiap batang rokok mengandung nikotin yang mengakibatkan sel sehat menjadi abnormal. Selain itu, kanker lidah juga bisa terjadi karena alat pengecap tersebut sering terluka lantaran tergores gigi yang runcing. “Kanker ini bisa dicegah dengan menjaga kebersihan rongga mulut. Yang paling penting, hindari merokok,” ujarnya.
UC Lib-Collect
Jawa Pos.4 Februari 2016

