Sebulan Empat Pasien Operasi

SURABAYA – Kanker bisa menyerang organ tubuh manapun, tak terkecuali mulut, tepatnya di bagian gigi dan rahang. Jika itu terjadi, rahang pengidapnya bisa copot.

Dokter spesialis bedah kepala leher dr Urip Murtedjo SpB KL mengungkapkan, kanker di rongga mulut dikenal sebagai ameloblastoma karsinoma. Pada fase awal, penyakit tersebut masih berupa tumor jinak. Namun, jika terus dibiarkan berkembang biak, sel-sel tumor berubah menjadi ganas. “Ada pasien yang tulang rahangnya habis lebih dari setengah bagian,” ujarnya kemarin (5/2).

Menurut pria yang juga menjabat kepala Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr Soetomo itu, sel kanker tersebut memakan tulang-tulang rahang. Bisa rahang bawah atau mandibula, bisa pula rahang atas atau maksila.

Gejala awal penyakit tersebut bisa terlihat dari benjolan di dalam rongga mulut. Benjolan itu bisa terlihat dari luar. Sebab, rahang tampak membengkak seperti gondok. Ada juga yang lokasinya di gingiva atau dasar gigi, sehingga terlihat ketika penderita membuka mulut.

Gejala lainnya, gigi penderita ameloblastoma karsinoma mudah goyang atau lepas. Selanjutnya, terjadi infeksi yang memicu keluarnya nanah dari rongga mulut. Itu pertanda kanker tersebut sudah dalam stadium bahaya.

Menurut Urip, angka kejadian kasus ameloblastoma karsinoma cukup tinggi. Dalam sebulan, ada tiga sampai empat penderita yang datang ke RSUD dr Soetomo untuk operasi. Banyak pasien yang datang dalam kondisi terlambat. Yakni, rongga mulut sudah mengeluarkan nanah dan berbau. “Sebelum itu terjadi, sebaiknya kalau timbul gejala benjolan, segera ke dokter,” ucapnya.

Langkah awal pencegahan yang bisa dilakukan adalah datang ke dokter gigi. Sebagian besar pasien bedah rongga mulut pun sebenarnya hasil rujukan dari dokter gigi. Biasanya, dokter melakukan foto panoramik gigi lebih dulu. Tujuannya, melihat kondisi rongga gigi lebih detail.

Setelah itu, tim dokter harus membuang gigi dan rahang yang sudah dimakan kanker. Caranya dengan operasi reseksi. Tulang yang terserang diambil. Karena itu, organ tersebut harus diganti. “Memang harus dipotong. Kalau atidak, nanti bisa kambuh lagi,” kata Urip.

Alumnus FK Universitas Airlangga itu menyebutkan, setelah reseksi, tulang harus diganti. Sebab, tulang rahang tidak bisa tumbuh lagi. Yang paling sederhana dengan menggunakan kirschner wire. Itu adalah kawat yang cukup tebal untuk mengganti rahang.

Yang terbaru, penggantian bisa juga dengan implan dari tubuh pasien sendiri. Asalnya dari iga atau tulang panggul. Selain itu, rahang bisa berasal dari bank jaringan milik rumah sakit. “Pemasangannya seperti cangkok tulang,” ujar Urip.

 

UC Lib-Collect

Jawa Pos.6 Februari 2016

Kanker Mulut Rawan Bikin Cpopot Rahang. Jawa Pos. 6 Februari 2016. Hal.52