Sang Penjaga Kerukunan dari Muntilan. Kompas. 17 Januari 2015. Hal.16

Bocah lourdes Callista (8) tampil di panggung kecil meniup suling dan menyanyikan tembang “Selendang Sutra”. Ia berduet bersama ayahnya, Didik SSS, yang memainkan saksofon. Di pengunjung lagu, murid Sekolah Dasar Santo Vincentius itu mengucapkan, “Selamat ulang tahun, Eyang Kardinal.” Sapaan itu begitu hangat, akrab, dan tulus.

OLEH HERLAMBANG JALUARDI / IMAM PRIHADIYOKO

Ucapan itu ditujukan kepada Kardinal Julius Darmaatmadja SJ, pemuka umat Katolik yang memperingati hari jadinya ke-80 pada Sabtu (10/1) di Bentara Budaya Jakarta. Ia berpesan agar umat selalu memuliakan Tuhan dengan cara memuliakan sesama manusia.

Setelah keduanya pentas, Kardinal Julius menyongsong mereka, menyalami dan mencium pipi Callista. Didik tidak menduga penyambutan salah seorang tokoh pemuka lintas agama itu. “Itu mengharukan sekali,” kata Didik.

Rupanya, keluarga Didik tidak asing bagi Kardinal Julius. Dalam sambutannya di pengujung acara, Kardinal menjelaskan kepada tetamu yang hadir bahwa Didik pernah meminta didoakan agar dapat keturunan setelah tujuh tahun berumah tangga.

Acara peringatan ulang tahun itu juga dibarengi dengan peluncuran tiga seri buku biografi Kardinal Julius bertajuk Sang Abdi, yang dikeluarkan Penerbit Obor. Ada tiga buku didalamnya, yaitu Terlahir untuk Mengabdi, Di Mata Para Sahabat, dan Alam Pikiran dan Kharisma.

Di usia senja saat ini, Kardinal Julius mengaku sehat. Ia bisa makan apa saja, tanpa ada pantangan apa pun dari dokternya. “Asal makannya dengan bijaksana,” katanya yang juga sesekali masih menikmati musik langgam jawa dan musik klasik kegemarannya.

Ditemui di Keuskupan Agung Jakarta, Selasa (13/1), Kardinal menceritakan proses penulisan buku ituyang dimulai sejak lima tahun lalu. “Saya juga belum selesai baca semuanya. Apalagi buku yang terakhir karena selesai paling belakangan,” ujarnya, yang terlahir prematur pada 20 Desember 1934, bernama lahir Riyadi ini.

Ia bersdia kisah hidup dan kegelisahannya dituliskan menjadi buku, untuk mengabdikan jejak pengabdiannya kepada umat Katolik, dan bangsa Indonesia pada umumnya. Kardinal Julius bercermin pada pendahulunya. Kardinal Justinus Darmojoewono yang tidak sempat memiliki biografi.

“Sekarang mumpung saya masih hidup, saya bisa membantu menyumbangkan sumber tulisan,” ujarnya yang mengenakan jubah pastor pertama kali di Novisiat Santo Stanislaus Kostka, Novisiat Serikat Jesuit di Girisonta, Kabupaten Semarang, pada 1957 ini.

Awalnya ia terpikir untuk menuliskan sendiri kisah hidupnya itu. Namun, ia merasa gamang karena dituntut obyektif pada kekurangan dan kelebihannya. “Saya juga merasa tidak punya bakat menulis. Makin dipikir biasanya makin macet (proses penulisannya). Kalau saya tulis sendiri bisa sampai 10 tahun ndak selesai,” katanya diiukuti tawa.

Seperti yang tertulis di buku Terlahir untuk Mengabdi, Julius remaja dikenal serba bisa. Ia aktif dalam berbagai kegiatan di Seminari Code, Yogyakarta, dan Mertoyudan, Kabupaten Magelang. Ia adalah bek yang tangguh dalam tim sepak bola. Ia selalu terpilih dalam tim inti bola voli, dan jago bermain bulu tangkis. Di bidang seni, Julius piawai memainkan trompet, dan giat tampil dalam kesenian tonil setiap Natal. Ia juga pemangkas rambut yang andal.

Julius adalah putra bungsu dari enam bersaudara dari pasangan Joachim Djasman Darmaatmadja dan Maria Siti Soepartimah. Meski paling bontot, ia berjiwa pemimpin dengan wibawa yang terpancar. Selama menempuh pendidikan di Seminari pada 1951-1957, ia berulang kali dipercaya sebagai bidel, atau pemimpin, baik di kelas maupun asrama.

Pesan untuk bangsa

Selama berbincang dengan Kompas hampir dua jam, Kardinal Julius banyak membagi harapan dan kegelisahannya. Ia menjelaskan bahwa perannya sebagai seorang Kardinal sebagai penasihat Paus.

“Saya hanya sebagai penerus Kardinal sebelumnya, yaitu Kardinal Justinus Darmojoewono yang wafat pada 1994,” ujar Julius yang ditunjuk langsung oleh Paus Yohanes Paulus II pada 26 November 1994. Seperti Kardinal lainnya, ia berhak mendapat “istana” di Vatikan, yaitu di Basilika Santa Cuore di Maria. Jabatan itu ia sandang saat bertugas sebagai Uskup Agung Semarang, posisi yang sebelumnya juga ditempati Kardinal Justinus Darmojoewono.

Dari pendahulunya itu, Julius melanjutkan langkah yang diambil Kardinal Justinus, yaitu mengembangkan Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi, dan Komisi Pendidikan. Dari dua komisi itu terlihat bahwa Gereja memiliki peran untuk membangun masyarakat melalui aspek ekonomi dan pendidikan. Satu hal lain yan ia anggap penting adalah aspek kesehatan.

Umat Katolik, pesan Julius, harus bisa “bergaul” di masyarakat sekitarnya, tanpa memandang perbedaan latar belakang sosial, ekonomi, dan pendidikannya. Umat beragama manapun harus saling membantu siapapun yang kesulitan tanpa memandang perbedaan agama.

“Agama menginginkan partisipasi semua pihak untuk mendukung pembangunan manusia. Institusi pendidikan memegang peranan besar. Namun, yang terjadi sekarang pada bimbingan konseling di sekolah lebih banyak mengarahkan siswa perihal karier, bukan membahas soal perilaku baik,” kata Julius yang mengenyam pendidikan filsafat di Kolese de Nobili, di Poona, India, pada 1961 ini.

Hidup beragama itu, hidup dalam persaudaraan yang menjadi dasar dalam kerukunan antar umat bergama. Ia bersahabat baik dengan tokoh agama, seperti KH Hasyim Muzadi, Buya Ahmad Syafii Maarif, Pendeta Andreas Yewangsoe, dan Biksu Sri Pannaaro Mahathera. Julius, yang pensiun sebagai Uskup Agung Jakarta pada Juni 2010 ini, mengharapkan kerukunan itu bisa menjadi contoh bagi golongan yang lebih muda.

Pada masa sekarang ini, Julius merisaukan bahwa agama ditampilkan lewat pemujaan yang berlebih pada simnol keagamaan, tata upacara, dan ibadah. “Hal itu penting. Namun, inti agama bukan di situ (simbolisasi), melainkan disini,” katanya sembari menunjuk dadanya.

 

KARDINAL JULIUS DARMAATMADJA SJ

Lahir      : Muntilan, Jawa Tengah, 20 Desember 1934

Ayah     : Joachim Djasman Darmaatmadja

Ibu         : Maria Siti Soepartimah

Kakak   : Stephanus Sudigdo, Felicianus Priharto, Catharina Soelaksmi, Juliana Matutina Nurani Ambarichtiar, Caecilia Subijati Ambaristiti

Pendidikan :

  • SMP Kanisius Muntilan (1951)
  • Seminari Menengah di Code, Yogyakarta (1952)
  • Seminari Menengah St Petrus Kanisius, Metroyudan, Magelang (1957)
  • Studi Filsafat di Kolese de Nobili, Poona, India (1964)
  • Studi Teologi di Institut Filsafat Teologi, Kentungan, Yogyakarta (1970)

Sebagai Jejak Karya

  • Pastor Paroki Marganingsih, Kalasan, Sleman, Yogyakarta (1971)
  • Rektor Seminari Menengah St Petrus Kanisius (1981)
  • Provinsial Serikat Yesus Provinsi Indonesia, Anggota Dewan Penasihat Keuskupan Agung Semarang (1983)
  • 19 Februari 1983 ditunjuk sebagai Uskup Agung Semarang oleh Paus Yohanes Paulus II
  • 25 Juni 1984 ditunjuk sebagai Uskup Ordinat Militer Indonesia
  • Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan, Majelis Agung Waligereja Indonesia (1985-1988)
  • Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) (1988-1997)
  • 27 Oktober 1994 diangkat sebagai Kardinal oleh Paus Yohanes Paulus II
  • 26 November 1994 dilantik sebagai Kardinal di Basilika Santo Petrus, Vatikan
  • 29 Juni 1996 menjadi Uskup Agung Jakarta
  • Anggota Kongregasi Evangelisasi Bangsa-bangsa (1994)
  • 2003 Ketua Delegasi Indonesia dalam audiensi para tokoh pemuka agama dengan Paus Yohanes Paulus II (2003)
  • 2003 Anggota Dewan Kepausan untuk Budaya
  • 18-19 April 2005 menghadiri konklaf yang memilih Paus Benediktus XVI
  • 28 Juni 2010 pensiun sebagai Uskup Agung Jakarta

 

Sumber: Kompas.Sabtu.17 Januari 2015.Hal 16