Sumber : Jawa Pos

 

Keberagaman Gaya dan Emosi

6 Oktober 2024

JAKARTA – Busana pria klasik yang identik dengan struktur kaku, minim ornamen lembut, dan cenderung kaku di interpretasi ulang oleh desainer Wilsen Willim. Dalam gelaran Plaza Indonesia Men’s Fashion Week 2024 beberapa waktu lalu di The Warehouse, Plaza Indonesia, Wilsen memamerkan koleksi terbarunya bertajuk huMAN.

Diwawancarai seusai fashion show, Wilsen menjelaskan bahwa koleksi yang terdiri atas 28 busana pria dan 7 busana perempuan itu adalah pemaknaannya atas sisi lembut manusia. “huMan bacanya “hyu-men’ (huruf ‘e’ dibaca seperti dalam kata ‘elok, Red), aku eksplorasi emosi dan sisi laki-laki yang lebih beragam,” papar Wilsen.
Dia menyadari bahwa tiap lald-laki memiliki ciri khas masing-masing. Ada yang nyaman dengan pakalan rapi dan tallored. Ada yang suka bereksplorasi dengan gaya yang lebih kalem. Ada juga yang gemar tampil beda dengan sentukan seperti lipit. Hal yang sama berlaku untuk emosi manusia yang senantiasa berubah dan berbeda-beda.
Lewat koleksi huMan, Wilsen memberikan aneka pilihan bergaya. Gaya maskulin klasik muncul dari potongan kemeja, outer, dan jas yang dijahit rapi atau clean, salah satu ciri khas Wilsen. Kelembutan, sentuhan feminin, dan romantisme muncul darl penggunaan embroidery floral. Unsur etnik lokal ditampilkan Wilsen lewat penggunaan batik tulis Cirebon.
Wilsen juga menambahkan tren terkini busana pria dalam karyanya. Yakni, aksen lipit menyerupai rok yang dipasang di bagian pinggang celana. “Apalagi, sekarang ada tren gender-fluid. Tapl, aku ingin tetap mempertahankan gaya maskulin dalam pakalan laki-laki, tegas Wilsen.
Desainer yang merintis label WILSEN WILLIM pada 2016 itu pun mempertahankan ornamen personalnya, yaitu kincir angin, dalam bentuk print, pola lipatar, dan hiasan pada busana. “Melambangkanm masa kecil dan proses tumbuh besar saya, juga sebagai pengingat bahwa kita tetap memiliki jiwa anak-anak, kata Wilsen.
Meski secara utama Wilsen menyajikan busana laki-laki, dia tetap menampilkan busana perempuan.
‘Karena memang aku suka bikin baju perempuan dan supaya shownya lebih hidup,” terang Wilsen.
Rok, yang menjadi salah satu karya favorit Wilsen, muncul dengan paduan gaya yang lebih maskulin.
Misalnya, dipadu dengan atasan tailored mirip jas (c7/len)