Masih banyak kawasan di Kota Surabaya yang sejak dulu digunakan sebagai pusat niaga dan berlaku hingga saat ini. Seperti kawasanStasiun Semut, Tunjungan, Kembang Jepun hingga Kawasan Ampel.

Pemerhati sejarah Kota Surabaya Chrisyandi Tri Kartika mengatakan, Jalan Stasiun Kota tidak hanya tersohor  dengan Stasiun Semut saja, tapi sejak dibangunnya stasiun di kawasan itu memang aktivitas niaga dan kinerja di sana yang terus tumbuh dan berkembang. Bahan hingga kini kawasan itu tetap menjadi kawasan ramai dan sibuk dengan kegiatan perekonomian.

“Saat ini di Jalan Stasiun  Kota dapat dilihat dari berbagai aktivitas perniagaan dan perekonomian lain. Mulai dari pedagang barang bekas yang menjual tong dan jergen-jerigen bekas, pertokoan warung makan, hingga pusat perbelanjaan (mal) dan perkantoran ada di sana,” ujarnya.

Lokasinya yang startegi menjadi alasan utama kegiatan perekonomian muncul dan terus berkembang di kawasan itu. Lokasi yang dekat dengan sungai Kalimas, yang dahulu menjadi salah satu jalur perdagangan yang dilalui kapal-kapal yang membawa beragam komodiri.

“Saat itu, kawasan yang dekat dengan sungai sangat strategis. Karena jalur perdagangan kala itu kebanyakan menggunakan trasnportasi sungai, yakni dengan kapa, belum ada kendaraan darat atau kereta api,” paparnya. Aktivitas perniagaan dan perekonomian di kawasan Jalan Stasiun Kota tersebut mampu bertahan hingga kini. Meskipun Stasiun Surabaya Kota atau Stasiun Semut sudah tutup atau tidak difungsikan lagi