LOKASI ini dipilih lanta ran strategis. Mulai dari dekat dengan pelabuhan dan sungai yang menjadi jalur perdagangan komoditi, Jalan Pesapen juga dinilai dekat dengan kawasan pemerintahan Kota Surabaya zaman dulu.
Jejak dari pusat bisnis Kota Pahlawan itu dapat dilihat ba nyak rumah dan bangunan gu dang kuno mirip seperti pabrik. “Zaman dulu kawasan ini mayoritas penghuninya orang Eropa. Tapi selarang sudah bercampur, semenjak dihapusnya aturan wijk (pembagian kawasan pada zaman Koloni al, Red),” kata Pustakawan dan pemerhati sejarah Universitas Ciputra (UC) Surabaya Chrisyandi Tri Kartika kepada Radar Surabaya.
Karena dijadikan kawasan bisnis, di Jalan Pesapen juga terdapat pasar yang biasa disebut Pasar Babakan. Semenjak aturan pembagian wilayah suku bangsa dihapuskan, lokasi ini pun ditempati oleh berbagai etnis. Mulai dari Tionghoa, Madura, Melayu dan Jawa. “Sekarang kawasan itu sudah bercampur. Apa lagi ada pasar di sana,” ujar Chrisyandi.
Berbeda dengan saat ini dimana pusat bisnis dan perdagangan menyebar merata diberbagai wilayah Surabaya, mulai barat, selatan, timur, utara dan pusat. Pada masa kolonial pusat bisnis dan perdagangan berpusat di kawasan utara yang mana dekat dengan pelabuhan dan sungai yang menjadi jalur transportasi komoditas perdagangan kala itu. Dimana jalur dan alat transportasi darat masih sangat terbatas, maka kapal dan perahu menjadi pilihan. “Karena lokasinya yang strategist, dekat sungai dan pelabuhan maka kawasan Pesapen menikmati perkembangan yang dibangun Belanda kala itu. Menjadi salah satu kawasan sentral terhadap kejayaan Belanda,” pungkasnya
Sumber: Radar Surabaya. 10 Juli 2021. Hal. 3

