Di era tahun 1930-an alat transportasi cikar atau pe dati masih digunakan. Bah kan petugas kebersihan pa da zaman dulu juga menggunakan pedati sebagai sarana transportasinya. Tampak pada foto tahun 1938, ada dua orang petugas kebersihan yang sedang ber keliling menunggangi pedati. Pedati itu memiliki ben tuk seperti gerobak berukuran kurang lebih 2 x 3 meter, masing-masing terdapat satu hingga dua ekor sapi sebagai tenaga pengger aknya.

“Bisa jadi asal usul nama Pesapen itu karena banya knya sapi di kawasan sana. Kemungkinan orang terda hulu yang tinggal di kawa san situ menjulukinya dengan Pesapen itu karena banyak sapi,” kata pemerhati sejarah dan pustakawan Universitas Ciputra (UC) Surabaya Chrisyandi Tri Kartika kepada Radar Surabaya.

Pada peta tahun 1866, kawasan Pesapen belum tercantum pada peta Kota Surabaya. Kemudian pada peta tahun 1905 juga masih belum ditulis oleh pemerintah kolonial. “Kemungkinan kawasan ini berkembang mulai tahun antara 1930 – 1935. Itu berdasarkan peta kuno Surabaya,” tuturnya. Pada kala itu alat transportasi bermesin memang belum ada, kalaupun ada belum banyak. Pedati menjadi alat transportasi utama, khususnya untuk mengangkut komoditi per dagangan yang hendak di naikkan ke kapal dari gudang maupun dari kapal menuju gudang, pasar, toko dan lain sebagainya.

“Dahulu mobil masih untuk angkutan orang, trem juga belum banyak, jadi pedati menjadi andalan untuk mengangkut barang atau komoditi perdagangan di seki tar sungai Kalimas,” pungkasnya. (bersambung/nur)

 

Sumber: Radar Surabaya. 16 Juli 2021. Hal. 3