Kecap Legendaris di Surabaya yang Berproduksi Sejak 1937.Jawa Pos.24 Maret 2015.Hal.34

Surabaya dikenal dengan kulinernya. Salah satu kecap legendaris ada disini. Berproduksi sejak 1937, Kecap Cap Jeruk Pecel Tulen mempertahankan keaslian.

ANTIN dan tiga rekannya tampak sibuk menempelkan kertas label ke botol – botol berisi kecap hangat. Kertas itu berwarna putih dengan hiasan gambar warna hitam berbentuk segi tiga yang ditengahnya ada buah jeruk pecel. Satu lagi di kertas berukuran sama berwarna merah muda, terpampang foto yang konon merupakan anak pencipta kecap tersebut. “Semua pekerja disini harus bisa masak sampai menempelkan label seperti ini,” ujar perempuan asli Madiun itu. Ketika awal bekerja sekitar 15 tahun lalu di pabrik Kecap Cap Jeruk pecel Tulen tersebut, Antin diberi tugas untuk memasak. Selanjutnya, dia harus mampu memasukkan kecap ke botol dan sekarang menempel label. Tak sedikit pekerja lain yang mayoritas perempuan itu yang bekerja secara turun – menurun.

Wakil Ketua Pabrik Wahyu Handoko menyebut, kakeknyalah yang mengawali usaha pembuatan kecap pada 1937. Pada mulanya Hwan King Hien, kakek Handoko, memulai usaha dari industri rumahan. Berawal dari puluhan botol kecap. Kecap – kecap tersebut ditawarkan ke tetangga – tetangga. “Anak – anaknya yang menjajakan ke tetangga – tetangga,” imbuhnya.

Dari puluhan botol itu, pabrik terus berkembang. Perkembangan paling pesat terjadi ketika bisnis itu dilanjutkan dua Hwan King Hien, yakniHwan Hong Piek dan Hwan Hong Poen. Generasi kedua tersebut mampu merambah pasar Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo. “Saya dapat cerita kalau dulu setiap usaha pasti diberi foto. Biar menunjukan keaslian.” Uca kakek dua cucu itu sembari menunjukan label bergambar foto.

Foto Hwan bersaudara itu lantas menjadi ciri khas kecap tersebut. Selain, tentu saja, logo hitam putih dengan gambar dua buah jeruk pecel yang menjadi identitas. Dia menambahkan, konon logo dua jeruk tersebut digambar dengan menggunakan tangan. “Tapi, saya tidak tahu siapa yang menggambar,” tegasnya.

Awalnya kecap itu bernama Kecap Madiun. Sebab, Hwan King Hien berasal dari Madiun. Kemudian, ketik merek ddaftarkan ke badan pengawas obat dan makanan (BPOM), ada saran untuk menggantinya.”Nanti takutnya konsumen bingung. Karena kecapnya diproduksi di Surabaya, tapi kok mereknya Madiun,” ujar pria 57 tahun tersebut.

Kecap itu sampai hari ini eksis bukan tanpa batu sandungan. Munculnya produk – produk kecap lain yang ditawarkan lewat televisi menjadi pesaing terbesar.”Kebanyakan konsumen akan kembali ke kecap kami. Katanya kalau untuk buat sate lebihsedap.” Ungkap Handoko.

Meski keturunan ketiga, Handoko tidak dengan enak langsung menjadi wakil pimpinan. Semasa muda, dia ikut memasarkan. Bahkan, ada kewajiban mencari pasar baru. Awalnya dia diajak ayahnya. Lama – kelamaan dia mendapat tanggung jawab untuk memasarkan. “Saya juga diajari resep dan tata cara pembuatan kecap ala Kecap Manis Asin Cap Hjeruk Pecel,” katanya bangga.

Pengalaman tidak mengenakkan menjadi asam garam kehidupan Handoko meneruskan bisnis keluarga. Ketika selesaibertransaksi dengan distributor, dia sempat akan dirampok. “Beruntung, saya diberi tahun. Sya lewat jalan belakang,” katanya.

Bukan hanya itu. Inovasi dilakukan untuk melestarikan usaha tersebut. Dia antaranya, sumber masukan inovasi dari pelanggan. “Sejak setahun belakangan, saya memproduksi kecap dalam bentuk refill,” ujarnya.

Sebagai salah satu pabrik tertua di Surabaya, pabrik kecap di kawasan Krembangan itu serng menjadi kunjungan wisatawan. Biasanya wisatawan datang secara rombongan dengan janji temu terlebih dahulu. Mereka dengan leluasa menyaksikan pembuatan kecap. (*/c10/nda)

Sumber: Jawa Pos. 24 Maret 2015.Hal.34