https://www.balipost.com/news/2022/08/02/283410/Keluhuran-Nilai-Traveling.html

 

Misi perdamaian Presiden Jokowi ke Ukraina dan Rusia merupakan perjalanan bersejarah yang tidak hanya bagi perjalanan kepemimpinan periode kedua, tetapi juga sebagai wujud sumbangsih dan dukungan kemanusiaan yang konkret bangsa Indonesia bagi warga dunia yang dilanda peperangan. Sekalipun perjalanan ke daerah perang dinilai berbahayam namun misi mulai ini telah dipersiapkan dengan matang oleh aparat keamanan Indonesia dan negara-negara tujuan, mengalirkan dukungan akan berhentinya peperangan.

Perjumpaan antarmanusia yang berbeda latar belakang budaya dan negara merupakan intisari dari pariwisata. Apalagi perjumpaan dalam konteks untuk menyapa, memberi dukungan , menguatkan berbagi empati dan perhatian mendalam, merupakan keluhuran dalam interaksi kemanusaiaan yang implisit pada perjalanan untuk bepergian. Transformasi pariwisata telah bertumbuh dari sekedar menikkmati keindahan alam (sea, sun, sand) menjadi perjalanan untuk mencari pemaknaan dan kedalaman hidup.

Fenomena Elizabeth Gilberth dalam novel yang difilmkan berjudul Eat, Pray, Love, merupakan cerminan kerinduan umat manusia era modern akan pemaknaan hidup yang diupayakan dan ditemukan melalui traveling

Bepergian juga tidak sebatas untuk mencari dan memenuhi kesenangan dan ego terbatas pada individu, tetapi sebagai apresiasi terhadap praktik konservasi alam dan kelestarian budaya. Pemilihan destinasi wisata tidak melulu mainstream destination, tetapi pada destinasi-destinasi baru yang dianggap seperti surga tersembunyi . Benang merah dari perjalanan, people mobility dan traveling ini adalah memuliakan kehidupan, memperluas cakrawala pengetahuan dari pengalaman berpetualang ke berbagai penjuru Nusantara dan dunia

Sejarah perjalanan Presiden Jokowi ke Ukraina dan Rusia menumbuhkan kesadaran akan pentingnya toleransi dan persatuan di antara umat manusia yang harus terus diupayakan dan meresap dalam diri traveler masa kini. Perspektif berwisata sambil berbagi (charity tourism) dapat dikenakan pada niatan pelaku perjalanan untuk mengemban misi kemanusiaan seperti yang dilakukan Presiden Jokowi, meski berbeda konteks dan obyek yang dituju.

Lewat bencana alam, misalnya,  kepariwisataan sebetulnya memiliki ruang wisata sambil berbagi. Wisata sambil berbagi juga mulai tumbuh terutama di daerah-daerah yang membutuhkan perhatian khusus, sentuhan sosial, kunjungan dan pengenalan yang mendala, Di bagian lain, wisata di destinasi-destinasi yang lazim dikunjungi dan populer di mata wisatawan, perlu diarahkan ke ranah sosial. Geliat kepariwisataan di destinasi-destinasi populer seperti Bali, Yogyakarta, Makassar, Surabaya, Jakarta, Bandung, Lombok, dan sebagainya, patut dikembangkan dalam konteks charity tourism

Praktik perjalanan wisata untuk berbagi dan bermisi kemanusiaan tidak semata-mata pengembangan komoditas tourisme yang menjanjikan dan berpotensi merengkuh devisa negara lewat kedatangan wisatawan mancanegara, tetapi lebih sebagai medan riil mengupayakan tercapainya tujuan pariwisata sebagaimana diamanatkan Undang-undang Nomor 10 tahun 2009 tentang kepariwistaan. Disebutkan di sana, pariwisata memiliki 10 tujuan sebagai berikut, meningkatkan kesejateraan rakyat, menghapus kemiskinan, mengatasi pengangguran, melestarikan alam, lingkungan dan sumber daya, memajukan kebudayaan, mengangkat citra bangsa, memupuk rasa cinta tanah air, memperkukuh jati diri dan kesatuan bangsa, serta mempererat persahabat antar bangsa. Karena itu, bepergian untuk misi kemanusiaan menjadi mediator yang mendekatkan cita-cita kepariwisataan menjadi kenyataan.

Di Aceh misalnya, pengembangan charity tourism melalui Aceh Tourism Board selama ini telah eksis dan berperan penting dalam melakukan rebranding, positioning dan promosi destinasi. Ada kecenderungan yang besar pada masa kini dan era mendatang, sensitivitas wisatawan mancangera terhadap isu-isu budaya, lingkungan hidup, ekonomi kerakyatan dan kemiskinan di suatu daerah wisata.

Dalam sebuah pengalaman membawa romobongan tur ke agrowisata di Jawa Timur, salah satu tour operator spesialis inbound tour menceritakan, wisatawan Eropa dapat diedukasi dan berminat untuk mengunjungi destinasi wisata agro yang relatif baru. Dengan kata lain, destinasi tersebut bukan mainstream agroswisata yang telah populer. Tour guide menjelaskan kepada rombongan yang dibawanya bahwa agrowisata kebun apel yang akan dikunjungi adalah kebun apel milik petani dan dikelola langsung oleh pemiliknya. Lebih lanjut tour guide menjelaskan uang yang dibelanjakan wisatawan untuk membeli apel dan suvenir khas daerah itu langsung masuk ke kantong petani. Mendengar penjelasan itu, rombongan wisatawan asal Eropa langsung antusias.

Lebih-lebih, ketika wisatawan diajak bersentuhan langsung dengan realitas kehidupan masyarakat sekitar agro yang tergolong miskin, meskipun telah ditetapkan sebagai kawasan agropolitan, nurani kemanusiaan mereka semakin tersentuh. Mungkin, pengalaman berwisata sekaligus berbagi (charity) jelas tampak pada pasar wisatawan mancanegara, terutama pada niche market kalangan adventurous, mature, well educated, termasuk kalangan usia milenial.

Hikmah penting dari pengalaman itu adalah, hakekat penting perjalanan dan kegiatan bepergian sebagai saran untuk menumbuhkan kesalingpengertian antarbangsa selama ini mungkin kurang mendapatkan porsi yang lebih dibandingkan pariwisata yang semata-mata mengumbar kesenangan (leisure) dan membelanjakan uang tanpa sensitivitas sosial yang tinggi serta tanpa mengindahkan kepentingan kemanusiaan. Dibutuhkan keberanian serta kalkulasi yang cermat, niscaya nurani kemanusiaan pasar wisatawan di dalan dan luar negeri mudah tersentuh, apresiatif dan berkesan mendalam. Perjalanan misi perdamaian Presiden Jokowi ke Ukraina dan Rusia beberapa waktu lalu menjadi teladan keluhuran nilai bepergian untuk membagikan dukungan dan perhatian kepada sesama umat manusia.

Penulis, Dosen Hotel & Tourism Business, School of Tourism, Universitas Ciputra Surabaya.