Oleh: Freddy H. Istanto (Dosen Arsitektur-Interior Fakultas Industri Kreatif Universitas Ciputra Surabaya)

Viral di jagad media sosial, sekelompok rohaniawan terkena Covid-19. Foto pimpinan tertinggi-nya juga terserang penyakit ini, beredar di beberapa WhatsApps-Group. Lalu ada beberapa yang keberatan dengan munculnya foto pemimpin itu, yang sedang dalam keadaan terbaring dengan semua peralatan medis di wajahnya. Rekan yang keberatan itu bilang, sebaiknya tidak diedarkan foto itu, tidak etis. Lebih baik bawa saja dalam doa untuk kesembuhannya.

Di WhatsApps-Group yang lain, seorang teman yang tinggal di Eropa bertanya mengapa foto semacam itu di-upload? Saya baru sadar dan teringat, ketika anak saya yang juga tinggal di sana, pernah bertanya, mengapa orang Indonesia suka meng-upload foto-foto orang sakit bahkan orang meninggal. Itu “tidak etis”, katanya.

Memang banyak pranata sosial yang tidak kita miliki dalam bermedia sosial. Kita tidak punya aturan “dos and don’ts” – nya.

Karut marut unggahan-unggahan di media sosial memang dalam tahap mengerikan. Kecelakaan dengan korban berdarah-darah sering diunggah dengan segala ke-vulgaran-nya. Ditampilkan lewat rekaman video lagi. Komentar-komentar yang muncul juga terlihat serampangan dan seenaknya. Warga-net Indonesia tidak bisa digebyah-uyah sebagai insan-insan yang pandai memilah dan memilih berita yang baik dan berita yang tidak baik.

Pengunggah juga terkesan tidak paham akibat-akibat dari rekaman yang diedarkan itu. Susahnya juga, ketika diberi tahu bahwa berita tersebut tidak layak diedarkan, dijawab santai, “Ya hapus saja, gitu aja kok repot.”

Memang tidak semua wargaa-net bersikap demikian. Tetapi mayoritas mereka tidak paham bahwa ada wilayah-wilayah privasi yang harusnya tidak etis untuk dipublikasikan ke mana-mana. Belum lagi beredarnya berita-berita hoax yang juga menjadi berita sampah era digital ini.

Berita-berita tentang kecelakaan yang meminta korban besar, seperti Jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 baru-baru ini akan melejitkan perputaran berita besar di media sosial. Orang berlomba-lomba ingin menjadi yang pertama membagi berita ke mana-mana. Untuk mereka yang pengin eksis di era digital ini, cogito ergo sum sudah tidak relevan lagi.

Zaman Descartes yang menghadirkan pemikiran “aku berpikir maka aku ada”/cogito ergo sum itu memang sudah lewat. Zaman sekarang, pemikiran Descartes itu sudah jadi “Aku share, maka aku ada”. Share berita tidak lagi bermaksud untuk berbagi berita supaya khalayak tahu. Tetapi sudah menjadi bagian dari eksistensi diri. Bahkan ada Meme yang menggambarkan “Muncullah dan komenlah sekali-dua kali sehari, supaya semua tahu bahwa Anda masih ada…”

Ada yang bilang belajarlah pada media Korea dan Jepang yang sangat santun dan etis memberitakan peristiwa-peristiwa kecelakaan, seperti tsunami, gempa bumi dan lainnya. Mereka tidak pernah mengedarkan foto korban. Langkah ini tidak hanya untuk menghormati dan rasa simpati pada korban, tetatpi sekaligus menjaga perasaan keluarga dan kerabat korban. Jangan lupa, berita-berita itu bisa menambah beban keluarga yang ditinggalkan, bahkan juga bisa menimbulkan trauma berkepanjangan karena berita-berita di media-sosial bisa viral dan ada saatnya berputar kembali.

Berita-berita jatuhnya pesawat Sriwijaya Air segera tumpah ruah di media massa konvensional, terutama juga media-sosial.

Apabila Anda menerima foto-foto yang dianggap tidak layak/etis, hentikan di gawai Anda.

Biarlah berita itu hanya untuk Anda. (*)

 

Sumber: Harian Di’s Way. 14 Januari 2021. Hal.5