
Pertanian sesungguhnya memiliki potensi luar biasa. Namun, petani perlu kerja secara berkelompok supaya kuat. Tak hanya itu, dengan memasuki proses bisnis, kesejahteraan mereka akan membaik.
OLEH NINA SUSILO
Demikian keyakinan Luwarso, petani asal Pemalang, Jawa Tengah, yang berkarya di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. “Bahkan, keberhasilan kepemimpinan Indonesia bergantung pada politik pangannya,” ujarnya.
Alumnus Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto, ini sudah membuktikan kekuatan sektor pertanian ini. Melalui pemberdayaan petani dalam koperasi syariah yang dinamakan Koperasi Arrohmah serta memasukkan petani pada bisnis PT Badan Usaha Milik Rakyat (BUMR) Pangan Terhubung, pendapatan petani mulai membaik. Perusahaan tersebut merupakan perusahaan profesional yang menyerap beras panenan petani sekaligus mengolah, mengemas, dan memasarkannya.
Jika menggarap 1 hektar saja, setidaknya petani bisa mendapatkan pendapatan sekitar Rp 2 juta per bulan. Angka ini belum termasuk pembagian keuntungan pada akhir tahun sesuai dengan proporsi beras yang dihasilkan setiap petani pada tahun itu.
Saat ini, untuk lahan garapan 1.000 hektar, petani penggarap yang berkolaborasi berkisar 850-2.400 orang. Ini belum termasuk 74 anak muda yang mengelola PT BUMR Pangan – pemasaran, desain, sampai pendampingan petani.
Model pemasarannya modern, tak hanya menggunakan pola konvensional, pemasaran daring juga diterapkan. Data konsumen pun tercatat rapi sehingga perusahaan tinggal menyerahkan beras yang dibutuhkan pelanggan setiap periode tertentu.
Pemrosesan gabah sampai menjadi beras siap dikonsumsi hanya memakan waktu satu hari. Teknologi dimanfaatkan sebaik-baiknya. Beras langsung dimasukkan ke dalam kemasan cantik. Kemasannya tak kalah pamor dibandingkan dengan kemasan beras-beras premium yang bisa ditemukan di pusat perbelanjaan.
Semua teknologi penunjang di pabrik pengolahan beras dibangun dengan biaya Rp 48 miliar. Meski demikian, Luwarso percaya diri dengan PT BUMR Pangan Terhubung ini karena skala ekonominya tercapai. Setiap hari, pabriknya mengolah hasil dari 8 hektar sawah, setidaknya 40-60 ton gabah atau 20-30 ton beras. Pabrik itu terus menerus beroperasi tanpa henti. Dengan kerja operasional seperti itu, pabrik pun mencapai efisiensi.
Namun, untuk itu, setiap hari harus ada penanaman padi seluas 8 hektar. Musim hujan dan kemarau tak lagi menjadi halangan. Teknologi dan inovasi menjadi kunci. Secara sederhana, ketika musim kemarau, benih yang digunakan adalah benih padi yang tahan kekeringan. Sebaliknya, ketika musim hujan, para petani memilih benih padi yang tahan genangan.
“Bangsa ini punya peneliti yang hebat-hebat, juga punya lebih dari 150 varietas unggul nasional dengan berbagai keunggulannya,” kata Luwarso.
Dia mengatakan, pihaknya bekerja sama dengan sepuluh lembaga riset dan perguruan tinggi untuk memperoleh benih pola tanam – manajemen, strategi pemasaran, mesin pascapanen, dan produk derivat serta pengemasan produk terbaik. Salah satu perguruan tinggi yang bekerja sama dengan Luwarso adalah almamaternya, Unsoed.
Dengan pemanfaatan teknologi, inovasi, dan manajemen yang sangat profesional, Presiden Joko Widodo mengapresiasi langkah yang dikerjakan Luwarso.
“Yang sering saya sampaikan, mengorporasikan petani, ya, seperti ini,” kata Presiden Jokowi ketika mengunjungi Koperasi Arrohmah/PT BUMR Pangan Terhubung di Desa Pasirhalang, Kecamatan Suka –
Tidak hanya sampai di kunjungan, Presiden bahkan mengundang Luwarso untuk memaparkan apa yang dilakukannya dalam rapat terbatas kabinet di Kantor Presiden, 12 September lalu. Harapannya, apa yang dilakukan Luwarso bisa dicontoh di daerah lain.
Luwarso segera menghitung. Jika dibuat 65 unit usaha serupa PT BUMR Pangan Terhubung dengan luas lahan garapan masing-masing 5.000 hektar, akan dihasilkan 2,5 juta ton beras per tahun. Modal yang diperlukan Rp 15 triliun. Namun, katanya, ini adalah pinjaman yang dikeluarkan hanya satu kali – keempat, jika 2017 dimulai, Luwarso rheyakini, tahun 2022 sudah bisa masuk IPO.
Dia menuturkan, perusahaan penggilingan beras saja bisa mendapatkan untung, apalagi petani yang mengolah sampai pemasaran. Rantai pasok dipotong sehingga biaya distribusi lebih sedikit. Jelas petani mendapat hasil lebih banyak dan keuntungan menjadi niscaya.
Dari nol
Semua perhitungan itu bukan omong kosong. Luwarso muda membuktikan dan memulai dari nol. Setelah lulus sarjana pertanian dari Unsoed tahun 1989, lelaki kelahiran Pemalang, 16 Juni 1965, ini menjadi kernet truk pembawa hasil bumi Semarang-Bengkulu. Tahun 1993, dia mengikuti temannya mencari peruntungan di Sukabumi dengan berjualan nasi goreng. Namun, kualitas beras di pasar kerap berubah-ubah sehingga Luwarso mencoba membeli ke penggilingan.
Mengenal pemilik penggilingan beras, dia pun menambah usaha dengan memasarkan beras ke hotel, rumah makan, pengusaha katering, dan perusahaan besar. Usaha ini membawa untung sehingga tahun 1999 penggilingan beras PT Tunggal Jaya bisa dimiliki.
Supaya kualitas dan pasokan ke – mendampingi petani. Lima tahun kemudian, CV Buana Citra Lestari didirikan untuk menyalurkan pupuk cair.
Gabungan Kelompok Tani Sentra Pelayanan Agribisnis dibentuk pada tahun 2007 untuk mengembangkan pertanian dan sumber daya manusia petani anggota. Supaya petani juga bisa memanfaatkan lembaga keuangan, Baitul Maal Wat Tamwil Rohmah didirikan pada 2008 dan menjadi Koperasi Arrohmah setahun kemudian. Koperasi ini yang menunjang kegiatan budidaya pertanian dan memberikan modal kepada petani untuk membeli benih, pupuk, dan sarana produksi lainnya.
Agar produksi dan pemasaran semakin baik, sistem pertanian holistik berbasis informasi dan teknologi dimulai pada 2012. Pengembangan dan riset benih padi, pengendalian penyakit, serta pengembangan pupuk organik dan pestisida nabati juga dilakukan.
Baru tahun 2016, pengelolaan Sentra Pelayanan Agribisnis dikuatkan menjadi badan usaha milik rakyat dengan badan usaha bernama PT BUMR Pangan Terhubung. Harapannya, petani bisa menjadi pelaku ekonomi berposisi sejajar dengan badan usaha lain, demikian juga kesejahteraannya.
LUWARSO
- Lahir: Pemalangg, 16 Juni 1965
- Istri: Rahma Yuniawati
- Pendidikan:
- SMA Negeri 1 Pemalang
- Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, angkatan 1984
Sumber: Kompas, 20 September 2017
