Kesetiaan Untuk Tari Bali. Kompas.13 Maret 2015.Hal.16

Ni ketut arini (72) penari asal Denpasar,Bali tidak pernah berhenti menari . mengajar tari bali di sanggar nya atau melayani panggilan melatih di luar negeri menjadi keseharian Arini, panggilannya. Oleh karena kesetiannya pada tari, Arini ingin tetap mejaga dan melestarikan seni tari Bali melalu ratusan anak didiknya sampai kapanpun itu.

Menari bagi Arini baagi menyatu dalam jiwa sejak berumur sekitar tiga tahun,dia sudah belajar menari. Jiwa seni dalam tubuh Arini mengalir dari ayahnya, seorang penabuh gamelan. Seringnya dia melihat pementasantari Bali di puri-puri keratin membuat obsesi Arini pun bertumbuh.

Tahun 1957 dia sudah menjadi penari pilihan untuk upacara Sang Hyang Dedari di Banjar Pande Sumerta Kaja, Denpasar. Pada waktu itu, biasa tampil dalam upacara tersebut menjadi kebanggaan bagi seorang penari.

“saya bertekad harus mwnjadi penari, saya harus serius belajar (menari) bahkan, tidak pernah berhenti belajar menari sampai sekarang” kata Arini.

Legong menjadi salah satu tarian keahlian Arini. Terbukanya kera n pariwisata membuka peluang masyarakat untuk naik ke pentas tari. Alasanya, tarian seperti legong sebelumnya terbiasa hanya dipentaskan di keraton.

Arini kemudian bercerita banjar-banjar pada masa remajanya ramai menjadi tempat latihan sekaligus pementasan tari-tarian. Turis-turis mancanegarapun sering berdatangan ke banjar untuk menyasikan tari-tarian yang dipentaskan.

Seiring bejalanya waktu, banjarpun kemudian berkembang menjadi pusat kegiatan adat hingga pementasan tari-tarian untuk pariwisata. Anak-anak dan remaja juga giat dan bersemangat berlatih tari. Kegiatan tari menari itu kemudian tidak hanya untu kepentingan pada upacara-upacara adat di pura-pura.

Entah mengapa lanjut Arini kegiatan tari-menari serta pemantasan lambat laun menghilang memasuki tahun 1980-an, pementasan tari-tarian bali kemudian berpindah ke hotel-hotel serta objek-objek wisata. Sesekali pementasan tari masih berlangsung, tetapi biasanya hanya ketika ada seremoni.

Kondisi tersebut menjadi keprihatinan Arini. Dia khawatir anak-anak muda tidak lagi berminat untuk belajar menari. Banjar-banjarpun terkena imbasnya, dan mulai sepi dari kegiatan tari-menari.

“beruntung saya belajar guru-guru terbaik di Bali kala itu. Oleh karena itulah, saya ingin terus berbagi ilmu (menari Bali) kepada siapapun  yang mau belajar,” kata Arini dengan serius.

Belajar dari maestro

Memiliki darah seni mempermudah Arini memahami karakter tari-tarian yang dipelajarinya. Dia berkeyakinan, keseriusannya dalam belajar di sekolah seni hingga berguru kepada para maestro di Bali tidak akan sia-sia.

I Wayan Rindi dan INyoman Kaler merupakan dua diantara guru-guru tari terbaik bagi Arini, khususnya untuk tari legong selama hampir 40 tahun, ibu empat anak ini menggeluti tari Legong yang ada telah dikuasainya.

Kepiawaian Arini menarikan tari-tarian Bali membuat dia seringkali diminta untuk mengajar di luar negeri, seperti Jepang dan Filipina. Tak sedikit pula mahasiswa asing dan penari asal mancanegara juga berdatangan ke sanggar yang berada di rumahnya.

Mereka belajar menari Bali di sanggarnya. Arini memang tidak pernah menolak siapapun yang datang untuk belajar menari. Dia justru merasa senang jika semakin banyak anak muda yang mau belajar tari Bali. Hanya saja, Arini tetap meminta pertanggung jawaban mereka. Dia akan memberikan semua pengetahuan tari miliknya dengan syarat sang murid mau belajar menari dengan serius.

“saya tidak suka anak murid yang tidak tidak disiplin. Teknik menari itu ada aturannya, dan bukan sembarangan asal kita bisa menari” ucap Arini serius.

Penari juga dituntut untuk memahami gamelan pengiringnya. Menurut Arini, hal ini menjadi penting karena penari dan gamelan pengiringnya harus menyatu.

Seorang penari, lanjut Arini, bisa lihai dan gemulai meskipun dia tidak memiliki darah seni dari keluarganya. Keseriusan seseorang dalam mempelajari tarian menjadi kunciny. Oleh karena itulah, Arini tidak menuntut siapa pun yang datang belajar kepadanyaharus memiliki bakat.

“bakat itu bukan segalanya. Semangat dan niat seseorang untuk belajar menjadi yang utama. Meski orang itu berbakat tetapi tidak punya semangat dan niat, tidak akan peranah menjadi penari yang hebat,” tutur dia.

Prihatin dan kormersialisasi

Sebagai pengamat tari,Arini tetap ingin membangun pemahaman teknik menari yang benar dan baik. Menurut dia, belakangan ini ada sebagian penari ataupun sanggar yang hanya mengedepankan anak muridnya bisa menari.

Sementara itu, pemahaman bagaimana menarikan suatu tarian yang benar dari hati masih kurang ditekankan cara berdiri,cara melirik,cara menggerakkan dagu yang benar, serta cara menepatkan tangan dan kaki mejadi beberapa contohnya.

Dia menilai, kormersialisasi telah membuat orientasi menari yang benar menjadi luntur. Beberapa tarian Bali pun kemudian bisa dipersingkat durasinya.

Keprihatinan Arini tak berhenti di sini. Tentang pendokumentasian tari-tarian Bali pun, dia menilai, pemerintah daerah belum melakukan nya secara maksimal. Arini bahkan menemukan sejumlah dokumtasi mengenai tari-tarian Bali justru dari temanya di Belanda.

“teman yang menemukan dokumtasi (tari-tarian Bali) itu meminta saya untuk merevitalisasikan tari-tarian tersebut. Ini juga menjadi salah satu faktor yang membuat saya bersemangat untuk menggali kembali tari-tarian klasik yang hilang,” katanya.

Jika memang anah kelahirannya belum bisa menghargai karya para penarinya sendiri,Arini tak akan patah semangat. Kalau Bali belum bisa, bangsa lain masih menghargai tari-tarian Bali. Hal ini menjadikan Arini tetap hidup dalam kesetiaannya sebagai penari. Dia tak akan berhenti menari dan membagikan semangat itu terutama anak muda.

NI KETUT ARINI:

  • Lahir: Denpasar, 15 maret 1943
  • Pendidikan formal: sekolah konservatori kerawitan Indonesia (kokar) Bali, kini institute seni Indonesia (ISI) Denpasar
  • Anak:

-Gusti Putu Alit Aryani

-Gusti Made Aryantha

-Gusti Ketut Sri Susanti

-Gusti Putu Ary Ruthini

  • Tari ciptaan, antara lain:

-Tari Dharma Putri 1973

-Tari Galang Sasih 1980

-Tari Legong Kreasi Suprapbha Duta 1990

-Revitalisasi Tari Legong Bapang Durga 1996

– Revitalisasi Tari Putri dan Bebancihan 2004

-Pembuatan VCD enam tari Legong bsgi mahasiswa ISI Denpasar

  • Kegiatan, antara lain:
  • Penari legong 1953-1993
  • Pelatih di sanggar earini 1973-kini
  • Pengamat seni di ISI Denpasar 2005-2009
  • Pembina tari di Denpasar 1992-kini

Oleh : AYU SULISTYOWATI

Sumber: Kompas.13-Maret-2015.Hal_.16