Kalau mau, ramlah bisa saja duduk berpangku tangan dan hanya berharap dari orang tuanya yang berkecukupan. Atau dia bisa saja mencari pembenaran dan berharap belas kasih sebagai penyandang disabilitas.
Namun, dia tak melakukan itu. Menjadi bisu dan tuli sejak kecil, tak membuatnya pasrah. Dia melakukan banyak hal yang melampaui keterbatasannya. Membantu berdagang baju di pasar sentral Makassar,menjadi kasir, menjual kue dan kae yang terbilang sukses. Merintis usaha kue donat yang di mulai dengan menitip di toko toko dengan jumlah puluhan donat perhari, pernah merugi, menghadapi pembeli yang bingung karena keterbatasannya, tetapi semua itu tak membuat ibu dua anak ini putus asa. Sebaliknya, semangatnya makin terlecut untuk belajar dan terus berusaha. Kalau kini dia sudah memiliki usaha kue dan kafe, mempekerjakan belasan penyandang disabilitas, menjual 1000 hingga 5000 donat perhari, itu merupakan buah kerja keras dan ketekunannya. Baginya, memiliki keterbatasan tak berarti langkah mesti terbatas. “saya ingin menunjukkan kepada orang orang bahwa saya pun bisa mandiri. Perbedaan saya dan orang lain hanya sebatas saya bisu dan tuli, diluar itu, sama saja. Bahkan saya juga selalu berusaha agar bisa berkomunikasi dengan normal pula yang membuat ramlah memajang poster besar di kafe miliknya yang berisi panduan simbol-simbol jari yang menjadi bahasa isyarat penyandang disabilitas. Tersedia pula dalam bentuk lembaran yang kerap di bagi kepada pengunjung yang datang. “pengunjung disini umumnya orang normal dan kami di kafe ini ingin memperkenalkan kepada mereka bahasa isyarat kami. Selain itu, kami ingin tetap bisa berkomunikasi dengan pengunjung” kata ramlah. Rupanya hal ini justru menjadi salah satu daya tarik. Selain kekaguman orang kepada ramlah dan semua pegawainya yang selalu penuh senyum dan semangat, banyak yang datang berkunjung karena juga ingin belajar bahasa isyarat.
Mandiri
Sore awal Maret, saat ditemui di Kafe Mella miliknya di jalan hari sunu, Makassar, adalah pertemuan setelah tiga kali janji dijadwal ulang. Kesibukan ramlah dan kebiasaannya tetap terjun ke dapur walau memiliki belasan pegawai membuatnya kerap cukup sulit ditemui. Selain sibuk mengelola usaha kuenya, dia juga aktif di sejumlah perkumpulan atau organisasi disabilitas. Di organisasi, dia aktif member motivasi kepada sesame penyandang disabilitas atau kebutuhan khusus. Dia member pelatihan agar mereka bisa mandiri dan hidup sejahtera. Lahir normal, ramlah tumbuh besar menjadi bisu dan tuli setelah menderita panas tinggi saat kecil. Sulung dari enam bersauadara ini sempat sedih saat melihat teman sebayanya bisa berbicara dan dia tidak. Namun, kesedihan itu hanya selintas. Dia lebih memilih mensyukuri bagian tubuh lain yang normal. Lalu, dia berusaha tumbuh seperti orang normal lainnya waktu tetap harus bersekolah di SD,SMP, SMU luar biasa. Berada dalam keluarga yang sangat berkecukupan, kedua oarng tuanya tak mengajarinya manja. Ramlah pun ingin menunjukkan bahwa keterbatasannya tak membatasinya untuk mandiri. Sejak usia 15 tahun, dia “bekerja” kepada kedua orangtuanya, membantu menjual kain dan pakaian dipasar sentral. Dia mendapat upah dari jerih payah menjual. Uangnya dia tabung. Ingin merasakan dan belajar pekerjaan lain, saat masih belajar di SMU, dia meminta izin menjadi kasir di kafe orangtuanya. Seperti sebelumnya diapun digaji untuk pekerjaannya. Ramlah tak minder walau pengunjung kafe sebagian besar remaja seusianya.
Jatuh bangun dan bangkit
Tahun 1995, ramlah bertemu Irwansyah, temannya semasa sekolah dan sesama penyandang disabilitas, lalu memutuskan menikah. Seusai menikah, dia tetap bekerja menjadi kasir di kafe milik orangtuanya sepanjang sore-malam dan membantu menjual kain pagi-siang. Ingin menambah pengalaman, dia beralih membantu iparnya membuat donat. Bekerja beberapa tahun kepada iparnya, rupanya dimanfaatkan ramlah untuk belajar dan akhirnya tertarik membuat sendiri dan menjual. Ada pun suaminya, membantu usaha orangtuanya. “tahun 2009, saya berbicara sama suami dan dia setuju. Untuk modal awal, kami sepakat menjual kendaraan. Lalu, ditambah dengan uang tabungan saya dan tabungan suami. Lalu saya beli peralatan dan bahan membuat kue. Saya akhirnya memberanikan diri membuat sendiri. Awalnya 50-100 biji” kata ibu dua anak ini. Kue yang dibuat sendiri itu semula dititipkan ditoko toko penjual kue. Ketika produksi makin banyak,dia pun mempekerjakan dau rekan sesama penyandang disabilitas. Usaha ini sempat merugi,tetapi dia tak berputus asa. Dia terus belajar hingga akhirnya mulai berpikir untuk menjual di tempat sendiri. “saya meminta izin sama orang tua untuk meminjam teras dan membangun sedikit tempat untuk menjual. Awalnya hanya tempat kecil, dan khusus menjual untuk dibawa pulang. Tapi lama lama ternyata makin banyak pembeli. Lalu, saya merenovasi teras orangtua dan menata menjadi kafe” katanya. Usahanya membuahkan hasil, kafe milknya makin ramai. Dia tak lagi sekedar berurusan dengan orang yang datang membeli dan membawa pulang atau yang duduk di kafe, tetapi juga pesanan yang kadang hingga 5000 donat perhari. Usahanya makin maju, bahkan mulai mempekerjakan sesama penyandang diabilitas. Kini pegawainya berjumlah 15 orang. Kegigihannya dan aktivitasnya menjadi motivator membuat ramlah dipercaya menjadi ketua DPD gerakan untuk kesejahteraannya tunarungu Indonesia (gerkatin) Sulses selama 13 tahun hingga tahun ini. Dia juga aktif dan menjadi pengurus di organisasi persatuan penyandang disabilitas Indonesia (PPDI) Sulsel dan himpunan wanita disabilitas Indonesia (HWDI) Sulsel.
Sumber: kompas, selasa 26 mei 2015

