Ketika Koko dan Cece Merayakan Imlek. Jawa Pos.6 Februari 2016. Hal.4

Akhir dasawarsa milenium ketiga meninggalkan jejak-jejak budaya. Salah satunya ditandai dialek-alek yang mulai mendominasi kosakata panggilan di kalangan Tionghoa, minimal di Surabaya.

 

Yang lebih muda biasanya memanggil mereka yang lebih tua dengan panggilan om dan tante. Ada pula yang menggunakan engkoh dan tacik. Kemudian, muncul kosakata untuk pengertian yang sama, yaitu shushu dan ayi. Untuk kalangan muda dan setara seperti mas dan mbak, kini lazim digunakan panggilan koko dan cece.

 

Gejala-gejala itu tampak biasa-biasa saja. Namun, sejatinya di balik kata-kata sederhana tersebut muncul sebuah fenomena budaya. Tanda-tanda bahasa menunjukkan fenomena sosial yang sedang terjadi.

 

Masyarakat Tionghoa tidak homogen, seperti juga suku-suku bangsa lain. Ketika belanda menjajah bangsa lain, banyak warga Tionghoa yang dimanfaatkan sebagai pimpinan-pimpinan komunitas.

 

Mereka diangkat menjadi kapitan Tiongkok (Kapitein der Chinesen) atau mayor Tiongkok (Mayoor der Chinesen). Mereka tidak hanya di hormati, tetapi juga kaya dan berpengaruh. Tidak heran, generasi mereka berikutnya punya kesempatan mengenyam pendidikan tinggi, bahkan sampai studi ke luar negeri.

 

Kemudian, muncul banyak pakar seperti dokter, sarjana hukum, ekonomi, politisi, dan profesional lain. Kemudian dikenal sebagai Tionghoa kebelanda-belandaan. Bukan hanya gaya busananya yang kebarat-baratan, tetapi juga keseluruhan gaya hidupnya. Di samping itu, hadir pebisnis-pebisnis tangguh dengan gaya hidup yang sama.

 

Disamping itu, banyak Tionghoa yang setia dengan naluri dominan kesukuannya, yaitu menjadi pebisnis di berbagai tingkat. Banyak diantara mereka yang masih lekat dengan budaya asli Tiongkok daratan.

 

Sampai sekitar era 1960-an, kebudayaan Tionghoa di Indonesia berlangsung aman-aman saja. Perayaan Imlek riuh dengan tambur yang mengiringi barongsai, semeriah bunyi petasan dimana-mana. Anak-anak kecil berebut angpao yang dibagi-bagikan oleh mereka yang lebih senior.

 

Sampai akhirnya lahir sebuah orde yang refresif, menebarkan politik anti Tiongkok yang kelewatan. Orde baru yang culas itu bahkan menganggap penggunaan aksara Tionghoa sebagai perbuatan subversif. Kebudayaan Tionghoa pun terbelenggu dalam banyak pembatasan. Gus Dur-lah yang membangunkan kembali kebudayaan yang mati suri itu.

 

Perlahan tetapi pasti, terjadi pergeseran-pergeseran sosial. Gejala-gejala itu bisa diamati dari kosakata panggilan-panggilan tadi. Dari om dan tante yang kebelanda-belandaan bergeser ke engkoh dan tacik yang lebih ke peranakan. Kini panggilan yang populer digunakan adalah shu shu dan ayi. Yang terakhir itu berasal dari sistem fonetik pembacaan karakter Mandarin.

 

Menyusul shu shu dan ayi adalah koko dan cece. Juga titi dan meme untuk yang lebih muda. Penggunaan kosakata-kosakata tersebut merupakan gambaran fenomena sosial yang teridentifikasi dari penggunaan bahasa sehari-hari.

 

Kosakata atau bahasa bukan sekedar alat komunikasi. Bahasa tidak mungkin hadir dengan tiba-tiba tanpa peran faktor-faktor diluar bahasa, begitu yang ditulis Tjahjono Widarmanto (Jawa Pos, 2015)

 

Pertanyaannya kemudian, akan kembali berjayakah kebudayaan Tionghoa. Kalau engkoh dan tacik itu bernuansa tempo doeloe, keberadaan koko dan cece saat ini tentu berbeda.

 

Sama halnya penggunaan koko dan cece itu berbeda, saat generasi pertama mereka turun dari Jung dan perahu-perahu sederhana. Dengan kondisi koko dan cece saat mereka turun dari lamborghini-nya.

 

Awalnya, tentu kosakata itu seolah menawarkan harapan bahwa warga Tionghoa kini hadir  dengan kebudayaan Tionghoa mereka kembali. Namun, kenyataannya tidak sepenuhnya benar.

 

Generasi koko dan cece tidak hanya kehilangan relasi emosional dengan kebudayaan nenek moyangnya. Terutama karena mereka rata-rata dilahirkan setelah kekuasaan Orde Baru sehingga mulai samar dengan kebudayaan aslinya.

 

Kini tidak banyak generasi koko dan cece yang berdoa dikelenteng-kelenteng. Mereka bahkan lebih mengenal Rihanna ketimbang Sie Djien Koei, tokoh di Wayang Potehi. Gaya dandan mereka malah lebih berkiblat pada negara tetangga nenek moyangnya, yaitu Korea.

 

Generasi pertama mereka mengukir kejayaannya di Indonesia dengan membangun Rumah-Rumah Abu yang megah. Kini perayaan Imlek disanapun sepi dari kunjungan generasi-generasi berikutnya.

 

Mereka justru merayakan Imlek di restoran-restoran. Juga, di mal-mal. Lagu-lagu Mandarin pasti masih dilagukan dengan seru, sekencang bunyi tambur yang meliukan tari liang-liong (dragon dance) dan barongsai (lions dance). Meski kebanyakan pemain tarian-tarian itu bukan lagi koko-koko dan cece-cece.

 

Termasuk di Surabaya, dalang dan pemain musik untuk pentas Wayang Potehi bukan lagi warga Tionghoa. Cheongsam atau qiban mungkin hanya sekali itu dipakai, saat imlek itu saja.

Hegemoni global mengantar Si Kecil kini lebih fasih menyapa: “Hi Grandpa, Hello Grandma!,”

 

Engkong dan emaknya membalas “Hi Honey, how are you?” Angpao pun berpindah ke tangan si cucu. Angpaonya tetap berwarna merah, hanya berisi dolar Amerika. Imleknya sama, maknanya kini berbeda. Gong Xie Fa Cai.

Oleh Freddy H Istanto

*Dekan Fakultas Industri Kreatif Universitas Ciputra Surabaya.

 

Sumber : Jawa Pos. 6 Februari 2016.