“Kemampuan Kevin Sukamuljo,saya tak pernah melihat itu sebelumnya!!! #sangatbertalenta”. “Selalu menikmati permainan ganda putra, tetapi dengan adanya Kevin Sukamalju, ganda putra menjadi permainan di level berbeda”.
Itu adalah cuitan pebulu tangkis Inggris, suami-istri Gabrielle dan Chris Adcock,melalui Twitter setelah Kevin/Markus menjuarai All England. Dalam laga final di Barclaycard Arena, Birmingham, Inggris, Minggu ( 12/3 ), ganda putra nomor satu Indonesia itu mengalahkan Li Junhui/Liu Yuchen ( China ), 21-19, 21-14.
Kevin memiliki kelebihan yang mengundang decak kagum tak hanya penonton, tetapi juga sesamas atlet. Dia cerdik mengecoh lawan dengan kecepatan tangan dan kaki sehingga bisa menguasai lapangan depan dengan baik.
Saat mengalahkan pasangan Denmark,Mads Conrad-Petersen/Mads Pieler Kolding, 19-21, 21-13, 21-17, di semifinal, misalnya, Kevin mengecoh lawan dengan servis panjang.
Di komunitas bulu tangkis, trik yang sering disebut dengan “nyolong servis” ini dilakukan dengan mengarahkan servis ke area belakang lapangan. Padahal, nomor ganda sering kali memainkan servis pendek. Ini membuat lawan yang telah mengantisipasi servis pendek terkecoh.
Salah satu legenda bulu tangkis Indonesia, Christian Hadinata, membandingkan bakat Kevin dalam melancarkan pukulan yang penuh trik dengan mantan pebulu tangkis Eddy Hartono dan Sigit Budiarto. Pujian ini juga pernah dikemukakan mantan pebulu tangkis Inggris, Gillian Clark, saat menjadi komentator turnamen Super Series Premier China Terbuka, November 2016. Saat itu Kevin/Marcus juara.
Itu menjadi kombinasi yang tepat bagi Marcus sebagai “tukang gebuk”di belakang lapangan. Markus tak hanya memiliki smes keras, tetapi juga drop shot yang membuat lawan mati langkah.
Keduanya memiliki kesamaan mengandalkan permainan cepat. Keagresifan inilah yang akhirnya menjadi senjata untuk menghadapi lawan dengan postur lebih tinggi.Di semifinal dan final All England, Kevin dan Marcus yang bertinggi badan 170 sentimeter menaklukkan lawan dengan postur 190-200 sentimeter.
Pertahanan yang yang kuat juag sering kali membuat pasangan ini mendapat poin, justru, saat di serang lawan, seperti dari pengembalian smes yang di arahkan ke area lapangan kosong.
“Kalau dibilang unik, saya juga kurang tahu. Itu memang gaya permainan kami berdua,” ujar Kevin, yang tiba di Jakarta pada selasa (14/3 ) malam.”Ya, itu gaya permainan kami. Kami tidak bisa meniru gaya yang lain karena setiap orang punya karakter sendiri-sendiri,” timpal Marcus.
Meski demikian, Kevin menyatakan, apa yang mereka raih pada saat ini karena dirinya dan Marcus bisa saling mendukung di lapangan. Koh Sinyo itu punya tenaga kuat. Dia bisa menguasai lapangan belakang dengan bagus,”puji Kevin ( 21 ) yang berusia empat tahun lebih muda dari pada Marcus yang sering dipanggil dengan nama Sinyo.Sementara Marcus memuji Kevin yang cerdik dalam mengatur serangan di dekat net.”Dia sangat bagus bermain di depan, mendukung permainan saya di belakang, karena main di depan tak mudah,”komentar Marcus.
Pantang Menyerah
Kurniahu, ayah Marcus yang merupakan mantan pebulu tangkis nasional, bercerita, putranya tak pernah berhenti kemampuan meskipun telah menjuarai turnamen Super Series/Premier yang hanya berada satu level di bawah Kejuaraan Dunia atau Olimpiade. Saat libur latihan di pelatnas bulu tangkis di Cipayung, Sabtu siang hingga Minggu, Marcus selalu mengisi waktu libur di rumahnya dengan berlatih bersama ayahnya.
Pujian atas karakter Marcus ini juga dikemukakan Christian dan mantan partner Marcus, Markis Kido.”Semangat belajarnya tinggi,” ujar Kido.
Tak hanya kemampuan teknis, tim pelatih menilai, semangat pantang menyerah yang tinnggi telah membawa mereka pada prestasi yang melebihi ganda putra lain di pelatnas utama. Di lapangan, ini terlihat dari sikap ngotot meski tinggal dalam perolehan angka.
Bakat Kevin, yang awalnya berlatih di PB Putra 46 Argopuro, Jember lalu bergabung dengan PB Djarum,setehun setelah bergabung ke pelatnas, dia menjadi finalis Kejuaraan Dunia Yunior untuk nomor ganda campuran bersama Masita Mahmudin.
Sementara Marcus pernah menunjukan semangat pantang menyerahnya ketika keluar dari pelatnas pada 2013. Setelah tiga tahun berlatih di Cipayung, dia memutuskan berhenti berlatih di sana karena berbeda pendapat tentang pengiriman pemain ke All E ngland.
Meski sempat kecewa dan berkeinginan berhenti bermain bulu tangkis, Marcus bangkit ketika ditawari berpartner dengan Kido pada 2013. Hanya dua bulan menjalani debut di turnamen Internationalmereka menjuarai Super Series Perancis Terbuka pada Oktober. Itu diraih setelah keduanya menapaki final sejak babak kualifikasi.
Saat tak lagi berdasangan dengan Kido, Marcus pun kembali ke Cipayung atas usul salah satu pelatih pelatnas, Chafidz Yusuf. Dia direncanakan berpasangan dengan Kevin yang tidak punya pasangan karena partnernya, Selavanus Geh, sakit.
Tawaran resmi dari Rexy Mainaky, yang menjabat Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI pada 2014, diterima. Marcus pun memulai perjalanannya menuju pasangan top dunia bersama kevin.
Pada debutnya di arena Internasional tahun 2015, mereka tampil hingga perempat final All England. Pada tahun itu, mereka meraih satu gelar juara di level Grand Prix, yaitu di Taiwan.
Setahun berikutnya, duet yang mendapat julukan ”Minions” oleh para penggemar ini mulai diperhitungkan sebagai pasangan top dunia. Kevin/Marcus menjuarai tiga Super Series/Premier, yaitu di India, Australia, dan China.
Kini, setelah mewujudkan impian menjuarai All England, mereka berjanji akan selalu menjadi yang terbaik di setiap penampilan untuk menuju puncak podium Olimpiade Tokyo 2020.
Sumber: Kompas 16 Maret 2017, Hal 16

