Menjaga Rumah Indonesia
oleh Brigita Isworo L dan Rini Kustiasih

KH Ahmad Mustofa Bisri mengaku tak paham soal nasionalisme ataupun hak asasi manusia. Akan tetapi, pandangan dan sikap hidupnya sesungguhnya sangat menjaga nasionalisme dan menghormati HAM. Pekan ini, ia bahkan menerima penghargaan Yap Thiam Hien karena ketokohannya dalam memperjuangkan kebebasan beribadah dan beragama.

“Indonesia tanah air mata, bahagia menjadi nestapa. Indonesia kini tiba-tiba selalu dihina-hina bangsa. Di sana banyak orang lupa, dibuai kepentingan dunia. Tempat bertarung merebut kuasa sampai entah kapan akhirnya…”

Sosok di mimbar, KH Ahmad Mustofa Bisri (73), menyanyi dengan suara menggeletar lagu yang dinyayikan dengan irama “Indonesia Pusaka” oleh Gus Mus itu mengiris kesadaran sebagai warga “rumah” Indonesia.

Bagi Gus Mus, nasionalisme bukan untuk dimengerti, nasionalisme bukan untuk dijadikan pengetahuan dan hak asasi manusia bukan sebuah pengetahuan. “Saya tidak tahun HAM, enggak tahu nasionalisme, saya tidak tahu,” ujarnya saat memberikan sambutan seusai menerima penghargaan Yap Thiam Hien. Rabu (24/1) di Jakarta. Gus Mus dipilih karena ketokohannya dalam memperjuangkan kebebasan beribadah dan beragama.

“Saya hanya tahu pondok pesantren dengan guru-guru saya, orang orang sederhana yang mengajari “Indonesia adalah rumahmu”, jadi saya jaga rumah saya, saya tidak tahu nasionalisme,” ujarnya.

Dari para gurunya, Gus Mus mendapat wejangan untuk mendahulukan kewajiban daripada hak. “Jadi kalau saya memaknai hak, maka saya wajib menghargai hak orang lain”, itu hak asasi manusia.” Soal hak juga telah tertulis dalam kitab suci.

“Kiai-kiai saya bilang. Tuhan saja memuliakan manusia dan yang diutus Tuhan adalah manusia yang paling manusia”, Nabi-nabi adalah manusia yang paling manusia, yang mengerti manusia, yang memuliakan manusia. Akan tetapi, manusianya kadang-kadang justru tidak menghormati dirinya sebagai manusia lalu meniru monyet serakahnya dan meniru tikus,” ujarnya.

Mengukur diri
Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibru, Rembang ini dalam hidupnya senantiasa memegang prinsip “mengukur diri”. Meski sudah masuk di dalam struktur Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Gus Mus beberapa kali menolak menduduki jabatan tertentu.

Kiprahnya di NU berawal sepulangnya dari pulangnya dari sekolah di Kaior Mesir. Pada pemilihan Ketua Umum PBNU 2004-2009, dia menolak dicalonkan menjadi ketua umum. Pada multamar ke 33 NU di Jombang, ia dipilih sebagai Rais Aam PBNU. Namun. ia menolak sehingga posisi jatuh ke KH Ma’ryf Amin yang duduk sebafai Rais Aam PBNU periode 2015-2020.

Di dunia politik, pemihakan Gus Mus jelas dan konsisten. Sebagai anggota-anggota DPRD Jateng 1982-1992 dan anggota MPR 1992-1997, Gus Mus kerap turun tuk hanya ke konstituennya, dengan biaya sendiri. Namun, lingkungan kerja di legislatif kerap berbenturan dengan hati nuraninya. Dia pernah mengatakan “…antara kinerja dan gaji yang diberikan tidak imbang. Jauh lebih besar gaji yang diterima.”
Gus Mus cinta kemanusiaan, keberagaman, dan setia membela orang kecil. Pandangannya dia ungkapkan dalam puisi-puisinya. Ratusan sajaknya dihimpun dalam lima antologi puisi Gus Mus juga produktif melukis “Kau ini bagaimana/ Kau suruh aku taqwa/ khutbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa/ Kau suruh aku mengikutimu/ langkahmu tak jelas arahnya.. (Puisi Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana).

Pembelaannya kepad orang kecil sungguh nyata. Tentang masyarakat Kendeng yang menolak pendirian pabrik semen, misalnya, sejak 2014 pondok pesantrennya beberapa kali memfasilitasi istigasah untuk mereka. “Mereka hanya bermaksud menjaga kelestarian lingkungan. Menjaga kelestarian lingkungan oleh rakyat yang sekecil itu, bagaimana tidak terpikirkan oleh yang segede itu. Itu tidak masuk akal saya,” jelasnya,

Lahir dari keluarga ulama, Gus Mus tumbuh bersama kitab-kitab klasik berbahasa Arab yang diterjemahkan sang ayah. KH Bisri Mustofa, yang dikenal sebagai ulama “nyeleneh” karena menjadi penulis. Dia dan kakaknya, cholil Bisri mewarisi bakat sang ayah.

Tokoh agama yang damai
Sosok Gus Mus dalam konteks politik menjadi antitesis dari kehidupan berbangsa dan bernegara yang saat ini cenderung terbelah lantaran kontestasi politik kerap diwarnai politik identitas. Dalam situasi politik yang kini kerap memakai agama sebagai bahan kampanye, Gus Mus bertindak sebaliknya.

Dewan juri penghargaan Yap Thiam Hien menilai Gus Mus sebagai ulama dan cendekiawan Muslim yang mampu menghadirkan perspektif berbeda, citra yang berbeda tentang tokoh agama yang belakangan kerap diasosiasikan dengan kepentingan politik. Terpilihnya sosok Gus Mus tak lepas dari penilaian bahwa dia adalah tokoh agama yang damai.

Pandangannya banyak dia curahkan dalam puisi-puisinya. Menurut dia, agama berbicara tentang kemanusiaan, keadilan, dan hukum. “Banyak sekali dalilnya, cuman orang sempat atau tidak mempelajari itu. Kadang, orang semangat beragam, tetapi tidak sempat melihat agamanya. Orang yang semangat, tetapi tidak mengerti, itu kadang-kadang jadi masalah,” katanya.

Menurut Gus Mus, keimanan seharusnya menjadikan seseorang sebagai human being,” Perbedaan itu di kehendaki Tuhan. Kalau tidak ingin ada perbedaan, itu menyalahi Tuhan, karena perbedaan adalah fitri. Kalau tak mau perbedaan, ya, ojo urip neng ndonya (jangan hidup di dunia),” ujarnya suatu kali

Gus Mus pedul terhadap hak asasi manusia. Akan tetapi, dia melakukanya tanpa berteriak lantang, tanpa demonstasi, tetapi melalui khotbah-khotbahnya.

 

Sumber : Kompas.26 Januari 2018.Hal.16