Pendidik di Bantaran Sungai Kahayan. Kompas.22 September 2015.Hal.16

KHAIRIA ULFAH

  • Lahir : Palangkaraya, 8 April 1982
  • Suami : Hafis Akbar Tamimi
  • Anak :
  • Azmi Maleazaki (10)
  • Azka Rahmi Hanifa (6)
  • Nadine Ribka Safa (6 bulan)
  • Pendidikan :
  • SD di MIS Miftahudin, Barito Selatan
  • SMP di MTS Islamiyah, Palangkaraya
  • SMKN 2 Palangkaraya
  • Program Studi Bahasa Inggris, Universitas Palangkaraya (2003)
  • Prestasi :
  • Juara II Pemuda Pelopor Tingkat Provinsi Kalimantan Tengah pada 2011 di Bidang Kepeloporan Pendidikan
  • Juara II Pengelola PKBM, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal; Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal 2015

 

Rumah – rumah panggung dari kayu jadi tempat tinggal padat penduduk di tepi Sungai Kahayan, Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Saat surut, sampah berserakan di sekitar tiang – tiang penyangga. Keterbatasan ekonomi dan tuntutan mencari nafkah membuat warganya mengesampingkan pendidikan. Berkat upaya Khairia Ulfah (33) dan rekan – rekannya, pendidikan mulai jadi perhatian untuk meningkatkan taraf perekonomian.

OLEH MEGANDIKA WICAKSONO

Tidak mudah menelusuri kawasan Kelurahan Pahandut, Kecamatan Pahandut, Kota Palangkaraya, untuk mencari tempat belajar masyarakat yang didirikan Ulfah. Di Jalan Rindang Banua, Gang Manggis, Nomor 26 – 33, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Luthfillah didirikan. Akses jalan hanya berupa titian kayu ulin selebar 1,5 meter atau biasa disebut  puntun oleh masyarakat setempat.

Meski kokoh, suaranya berderap – derap saat dilintasi kendaraan roda dua. Ketika berpapasan, pengendara motor lebih baik berhenti mengalah daripada oleng kehilangan keseimbangan dan jatuh dari ketinggian sekitar dua meter ke permukaan tanah rawa pasang – surut.

Bentuk rumah kayu yang hampir mirip satu sama lain serta gang – gang panjang juga berkelok membuat pendatang berada dalam suatu labirin membingungkan. Kabel listrik, kabel antena televisi, serta berbagai macam pakaian yang dijemur di depan rumah pun menambah kesemrawutan.

Padatnya penduduk tampak dari anak – anak yang bermain dan berlarian di gang sempit itu serta para ibu yang duduk mengobrol dengan tetangganya di teras rumahnya yang berimpitan langsung dengan jalan titian kayu. “Daerah ini dikenal dengan Texas yang keras, rawan kejahatan, dan marak perjudian,” ujar Ulfah yang ditemui pada Minggu (23/8) siang.

Ulfah yang lahir dan besar ditempat itu merasa prihatin dengan kondisi masyarakat yang mengabaikan pendidikan. “Banyak anak yang putus seolah hingga kelas II atau III SD. Sehari – hari mereka membantu orangtua di pasar atau mengupas bawang. Jarang ada yang lulus SD, SMP, atau SMA,” Kata Ulfah yang menyelesaikan jenjang strata satu pada Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Palangkaraya (2003)

Setelah lulus kuliah, Ulfah tidak segera mencari pekerjaan untuk dirinya sendiri. Tahun 2006, bersama kawannya, Halimatussa’diah yang memiliki keprihatinan sama, Ulfah membentuk kelompok belajar anak usia dini bagi anak – anak tanpa pungutan biaya apapun. “Saat itu ada 158 anak yang ikut belajar karena saking banyaknya anak tidak sekolah,” katanya.

Saat itu kegiatan belajar dilaksanakan di ruang milik Dinas Sosial Kota Palangkaraya yang berukuran 8 meter x 4 meter. Dalam perkembangannya, lanjut Ulfah, ibu – ibu rumah tangga ada yang ikut mengantar, melihat, dan tertarik belajar. “Orangtua mereka masih rendah dalam hal aksara. Mereka tidak buta huruf, tapi untuk merangkai dan memaknai kata tidak mampu. Akhirnya kami juga mengajar mereka,” ujarnya.

Dari sana, Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kota Palangkaraya mengapresiasi kiprah Ulfah dan mendorong dibentuknya Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Program kesetaraan Paket A,B, dan C pun digelar pada 2007. Untuk mendukung keberlangsungan aktivitas belajar itu, nenek dan orangtua Ulfah merelakan rumahnya yang bersebelahan untuk ruang kelas dan arena kegiatan para siswa.

Hingga saat ini, tercatat ada 887 anak yang mengikuti PAUD dan sedikitnya 1.000 orang yang menjalani program kesetaraan Paket A,B, dan C.

 

Sehari – hari mereka membantu orangtua di pasar atau mengupas bawang. Jarang ada yang lulus SD, SMP, atau SMA.

Selain itu, ada 80 ibu rumah tangga yang mengikuti program Keaksaraan Usaha Mandiri. “Selain baca tulis, para ibu juga dilatih berwirausaha,” katanya.

Ulfah pun mengajak sejumlah kawan dan mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Palangkaraya menjadi pengajar. Kini ada 28 guru dan tutor dari berbagai latar belakang pendidikan. Mereka adalah relawan yang berbagi ilmu tanpa imbalan gaji. Selain itu, ada pula empat pelatih menjahit, kerajinan tangan, pengolahan limbah, dan budidaya ikan keramba.

Ulfah menyampaikan, sejak ada PKBM, sudah banyak anak yang menyelesaikan pendidikan di tingkat SMA. Bahkan ada pula yang melanjutkan ke perguruan tinggi. Selain itu, kebiasaan anak – anak yang suka “ngelem” atau menghirup aroma lem sudah mulai berkurang.

“Sepanjang Gang Manggis ini dulu juga sering dijadikan tempat judi dadu gurak. Meski masih ada, tempatnya sudah bergeser jauh,” kata penerima Juara II Pemuda Pelopor Tingkat Provinsi Kalimantan Tengah pada 2011 di Bidang Kepeloporan Pendidikan itu.

BERUSAHA MANDIRI

Untuk memenuhi biaya operasional sehari – hari, PKBM memiliki unit usaha yang dikelola para siswa dan warga sekitar, seperti cuci pakaian, menjahit, serta penjualan tiket pesawat dan paket wisata. Ada pula, pusat kerajinan dan penjualan bahan baku keterampilan, budidaya ikan nila, dan pembuatan makanan seperti siomay ikan, nugget, serta abon.

Suami Ulfah, Hafis Akbar Tamimi, turut mendukung keberlangsungan PKBM. Hafis yang berlatar belakang ilmu komputer dan informasi teknologi mengajar serta memberi pelatihan perbaikan telepon seluler.

Ulfah memberi nama Luthfillah untuk PKBM yang diusahakannya. “Kami ingin anak – anak dan warga setempat merasakan kelembutan Allah melalui pendidikan yang layak,” ujarnya soal pilihan nama.

Berkat bantuan berbagai pihak, baik dari dinas, perusahaan, maupun komunitas, PKBM Luthfillah juga memiliki taman bacaan masyarakat. Hingga kini, taman bacaan ini memiliki 500 judul buku dengan jumlah 1.000 eksemplar. “Taman bacaan ini buka tiap hari pukul 07.00 – 17.00. Siapa saja bisa datang dan membaca disini,” katanya sambil menunjukkan buku – buku bacaan yang tersusun di rak – rak.

Memotivasi anak – anak dan masyarakat dilalui bukan tanpa halangan. Ulfah mengakui, setiap musim air sungai dalam atau saat musim hujan, kegiatan belajar mengajar di kelasnya lebih sepi dibandingkan saat kemarau. “Saat air dalam, anak – anak laki – laki biasa ikut orangtua menebang pohon di hutan,” katanya.

Meski demikian, Ulfah dan rekan – rekannya tetap bersemangat mengajar dan melakukan pendekatan pribadi untuk mengajak anak – anak itu kembali belajar. Ulfah berharap lebih banyak anak dan warga lagi yang bisa merasakan kelembutan Allah melalui pendidikan yang akan mengantar mereka ke kehidupan yang lebih baik.

SUMBER : KOMPAS, Selasa 22 September 2015