Tak banyak motif batik yang menunjukkan “milik” Surabaya. Yang telah ada di pasaran adalah motif batik mangrove (bakau). Ada pula motif batik khas Surabaya lainnya yang sudah digarap warga. Salah satunya motif Pakis Kencana.
Batik tulis tersebut dibuat sejak 2010 dan merupakan karya orisinal seorang warga di Kelurahan Dukuh Kupang, Kecamatan Dukuh Pakis, yakni Suparta. “Saya kan tinggal di Dukuh Pakis. Ya sudah saya pakai motif daun pakis saja,” ungkapnya.
Tak mudah bagi perempuan 53 tahun itu untuk memulai usaha batik tulis. Apalagi, dia tidak memiliki keahlian membatik. Keterampilan membatik hanya didapatnya dari pelatihan. “Dari situ saya coba membuat motif sendiri,” ucapnya.
Selain motif daun pakis, perempuan asal Ngawi tersebut mengaplikasikan berbagai macam bunga untuk menjadi motif batik. Contohnya kamboja, kembang sepatu, sedap malam, dan teratai. “Teratai itu pesanan Bu Nina Soekarwo. Katanya jangan lupa bikin teratai. Soalnya, itu merupakan salah satu ciri batik Surabaya,” katanya.
Terkait dengan pemasaran, dia masia mengandalkan pameran. Menurut Suparti, karya batik bisa bertahan bila berani berinovasi. Pakis Kemcama yang dihargai mulai Rp 150 ribu hingga Rp 600 ribu itu pun acap kali menjadi perhatian. Terutama saat pameran.
Sebab, banyak batik lain yang dijual dengan harga murah yang justru kurang laku. “Yang penting berani dan kreatif. Jadi pas dilihat, orang kepinging beli. Itu kuncinya,” ujar juara kedua pemenang Pahlawan Ekonomi 2013 tersebut.
Misalnya pesanan batik dari sebuah perusahaan swasta yang sedang digarapnya. Bila biasanya memakai gambar bunga, tanaman, Sawunggaling, hingga burung, dia justru dimintta membuat motid eskavator. Tinggal di-block dengan warna cerah, batik mobil berat itu pun tampil memukau. “Saya pernah buat empat baik lontong balap dan langsung laku karena motifnya aneh,” tuturnya.
Sumber : Jawa Pos 22 Maret 2015 Hlmn 29

