Oleh F. Rahardi (Pengamat Agribisnis)

Sengon Solomon kembali menyita perhatian masyarakat dalam beberapa waktu terakhir. Tanaman ini diklaim mampu tumbuh sangat pesat, sampai tujuh meter pada tahun pertama penanaman. Ini wajar sebab benih sengon yang dipasarkan saat ini rata-rata sudah setinggi satu meter.

Klaim kehebatan sengon solomon, sebenarnya bukan hal baru. Beberapa tahun lalu, Majalah Trubus pernah menulis: “Sengon Unggul Dua Tahun Bisa Panen”. Saat saya ditanya oleh salah satu pembaca majalah ini , saya jawab, “Bukan hanya dua tahun. Dua hari mau dipanen juga bisa. “Maksud saya, hari ini ditanam, dua hari kemudian dicabut lagi untuk dijual sebagai benih. Sebab saya melihat, hampir tidak mungkin dalam satu areal penanaman sengon sebagian besar bisa mencapai diameter tebang pada umur dua tahun.

Klaim kehebatan sengon solomon berasal dari produsen dan penjual benih, Klaim seperti ini pernah terjadi pada tanaman jati unggul (Tectona grandis). Ada aneka nama jati unggul mulai jati emas, jati super, dan jati biotropika. Jabon (Neo-lamarckia cadamba) pernah diklaim lebih ketimbang sengon bahkan jati. Pada 1990-an juga pernah heboh sengon buto ( Enteroplobium cyclocarpum ) yang diklaim tumbuh sangat pesat.

Pada 2017, cerita tentang kehebatan sengon buto, jati emas,dan jabon tak ada kelanjutannya. Mereka yang pernah berharap cepat kaya karena menanam sengon buto, jati emas, dan jabon, musti kecewa karena impian itu tak pernah jadi kenyataan. Yang tetap eksis jati dan sengon biasa.

Kini, muncul lagi cerita fantastik tentang sengon solomon. Kali ini  pun banyak pihak yang percaya dan tergoda untuk membeli benih seharga Rp15.000.000 bahkan Rp25.000.000 per kilogram. Kalau benih ini disemai akhir 2017, artinya awal 2018 ditanam; hasilnyabaru dipanen paling cepat 2023. Saat itu produsen benih ini sudah menghilang dan akan bermunculan penangkar benih baru, dengan cerita lebih hebat lagi.

Banyak faktor

Dalam dunia pertanian, benih unggul hanyalah salah satu faktor penentu keberhasilan. Masih ada faktor lahan dan agroklimat.

Faktor lahan pun masih bisa dirinci lagi berupa jenis tanah, ketebalan solom, ketersediaan air dan lokasinya dari jalan raya. Jenis lahan, ketebalan solum dan ketersediaan air berpengaruh pada kecepatan perumbuhan.

Tanaman jati dan sengon biasa terbukti eksis dan terjamin ketimbang jenis lain.

Benih seunggul apapun akan tetap kerdil kalau ditanam di lahan berbatu-batu kawasan kering Nusa Tenggara Timur. Jarak dari jalan raya menentukan nilai kayu saat panen. Semakin jauh dari jalan raya, nilai kayu akan semakin rendah.

Faktor agroklimat juga bisa dijabarkan lagi menjadi suhu dan kelembapan udara, serta intensitas sinar matahari. Faktor agroklimat akan terkait erat dengan elevasi lahan dan lokasinya di Indonesia. Sama-sama ketinggian 800 meter, lahan di Jawa Barat dan di NTT, sangat bebrda agroklimatnya.

Faktor-faktor ini, disengaja di sembunyikan oleh produsen dan pedagang benih. Sama seperti saat pedagang benih menawarkan “kurma tropis” yang mereka sebut sukses dibudidayakan di Thailand. Para pedagang benih itu tak pernah menyebutkan bahwa kebun kurma tropis di Nakhonrtachasima, Thailand, bukan merupakan kawasan tropis. Posisi Nakhonrtachasima 15 derajat Lintang utara atau sejajar dengan Yaman, Sudan, dan Chad;negara-negara penghasil kurma.

Produsen dan pedagang benih sengon solomon sengaja tak menyampaikan hal-hal lain yang akan berpengaruh terhadap pertumbuhan komoditas yang mereka tawarkan.

Di dunia agribisnis. Lahan dan agroklimat hanya salah satu faktor penentu keberhasilan. Masih ada faktor  moidal (menyangkut skala usahja), manajemen, keamanan, dan kebijakan pemerintah. Empat faktor ini justru lebih besar pengaruhnya terhadap keberhasilan usaha dibandingkan faktor lahan, agroklimat, terlebih benih.

Untuk meyakinkan konsumen, produsen dan pedagang benih sengon solomon, mencantumkan nama botani Albizia moluccana oleh Barneby dan J.w. Grimes. Selanjutnya sengon berganmti-ganti nama, termasuk Paraserianthes falcataria. Tapi sejak 2010, International Plant Names Index (IPNI) mengumumkan nama sengon Falcataria moluccana. Limabelas nama lain, hanya sinonim.

Yang lebih kacau lagi, ada situs penjual benih sengon solomon menyebut nama botani Albiziya chinensis. Padahal Albizia chinensis (genus albizia), beda genus dengan sengon jeungling. Itulah sebabnya di Jawa Tengah, sengon disebut sengon laut (datang dari seberang lautan kepulauan Maluku); sementara sengon yang sudah ada di pulau Jawa, disebut sengon Jawa.

Albizia chinensis adalah sengon Jawa, bukan sengon laut. Ini juga menunjukan bahwa informasi tentang nama botani sengon solomon yang dipublikasikan melalui media massa, terutama media digital, cenderung tak akurat.

Sumber: Tabloid Kontan.6 November 2017.Hal.21