SURABAYA, Jawa Pos-“Shinta, bersama akulah kau akan tetap jelita. Meski kau belum tahu, betapa derita yang sebenarnya,” kata Rama. Ucapan itu lantas ditanggapi Laksmana. “Kanda, cinta mengharuskan seseorang rela membiarkan kekasih hatinya berkembang dalam hidupnya,” tandas Laksmana.
Dialog itu adalah adegan awal dalam film Lentera Ksatria. Film itu merupakan seri kedua Dayang the Movie. Film tersebut me masukkan drama kisah wayang yang naskahnya terinspirasi dari kisah Ramadan Shinta. Karya tersebut dikemas dengan menggabungkan sejumlah seni pertunjukan. Di antaranya, wayang kulit, wayang orang, dan tari tradisional.
Film yang diunggah di kanal You Tube Budaya Saya itu berdurasi satu jam. Seni wayang kulit menjadi pembuka cerita. Lantas, alunan gamelan dan kidung Jawa terdengar sebelum dialog pertama antara Rama dan Laksmana. Para pemain kompak menggunakan kostum wayang orang. Mereka berdialog menggunakan bahasa Indonesia.
Lentera Ksatria mengisahkan cinta dan kesetiaan Rama dan Shinta melalui perspektif dari tokoh Wibisana. Cerita dimulai saat Shinta diculik Prabu Rah wana. Wibisana berusaha membantu Rama menjemput Shinta. Perbuatan itu dianggap sebagai pengkhianat negeri. Sebab, Wibisana adalah adik Prabu Rahwana. Namun, di balik itu, dia ingin berjuang untuk kebaikan Alengka.
FILM
Sepanjang film berlangsung, terdapat berbagai penampilan seni yang ditampilkan. Mulai tari tradisional hingga lagu yang memadukan musik tradisional dengan modern. Mereka juga mengakhiri film dengan sebuah penampilan. Yakni, nyanyian Jawa dengan diiringi tarian Jawa bertempo lambat.
Sutradara dan penulis naskah Irwan Riyadi menjelaskan film tersebut. Menurut dia, karya itu merupakan upaya para pegiat seni pertunjukan di Indonesia dalam menghadapi pandemi. Yakni, melalui film yang memasukkan unsur wayang. Tujuannya, mendekatkan cerita cerita asli Indonesia kepada masyarakat luas. Khususnya generasi muda.
Tim Drayang the Movie menyadari bahwa kemauan membaur ke media digital penting pada masa saat ini. “Kami tidak mau seni ini dilupakan selama masyarakat belum bisa menonton langsung,” ujarnya. Pembuatan film tersebut didukung Direktorat Perfilman, Musik, dan Media Baru, Ditjen Kebudayaan, serta Kemendikbudristek.
Okvalica Harlis, salah seorang pemain, menyatakan kesannya. Dia senang menjadi salah satu seniman muda yang terpilih untuk bermain dalam film itu. Pemeran Shinta tersebut mengaku banyak belajar mengenai dunia keaktoran. “Terlebih latar belakang pendidikan saya seni tari, merugikan banyak belajar dengan dunia ini,” kata sidoarjo itu. (nas/c12/tia)
Sumber: Jawa Pos. 13 Agustus 2021. Hal.20

