Stres yang Memicu Keluhan Fisik hingga Memperburuk Kondisi Kesehatan
7 Januari 2024. Hal. 20
Faktor psikis dapat menimbulkan keluhan fisik maupun memperberat kondisi kesehatan seseorang. Gangguan itu disebut psikosomatis. Jika tidak tuntas ditangani, gangguan tersebut dapat menurunkan kualitas hidup. Kelola stres untuk mencegah dampak negatif pada kesehatan fisik.
STRES atau ketegangan emosional dapat memengaruhi aktivitas sitem saraf otonom yang mengarah pada perubahan fungsi-fungsi tubuh. Ketika stres, denyut jantung atau tekanan darah dapat meningkat. Pikiran dan emosi juga memicu pelepasan hormon kortisol yang memengaruhi fungsi kekebalan tubuh dan metabolisme.
“Karena itu, stres bisa memperburuk gejala maupun mempercepat perkembangan penyakit kronis yang kerap dipengaruhi faktor psikis seperti penyakit jantung, diabet, asma, autoimun, alergi, hingga keganasan,” ungkap dr Brihastami Sawitri SpKJ.
Pikiran dan perasaan, lanjut dia, juga memengaruhi rasa sakit atau nyeri yang dirasakan. Di situasi stres, seseorang juga cenderung mengabaikan kebiasaan hidup sehat. Semua hal itu menunjukkan keterkaitan yang kompleks antara pikiran dan tubuh. Gangguan psikosomatis itu dapat dialami semua rentang umur. Gejalanya bisa bervariasi antar individu.
“Misalnya, nyeri berkelanjutan di area kepala, punggung, perut, dan otot tanpa penyebab fisik yang jelas. Atau gangguan pencernaan seperti kembung, mual, dan diare yang tidak bisa dijelaskan lewat pemeriksaan medis,” beber pskiater RS Universitas Airlangga itu.
Pada beberapa orang, gejala dapat menyerupai atau memperberat gangguan neurologis seperti kelemahan otot, tremor, dan kejang. Pada individu lain juga dapat bermanifestasi pada kulit seperti ruam, eksim, atau psoriasis yang kerap dipicu stres. Individu dengan gejala psikosomatis mengalami tingkat kecemasan dan depresi yang tinggi.
“Tidak jarang mereka meminta pemeriksaan medis yang berlebih atau pengobatan yang tidak perlu sampai gonta-ganti dokter, padahal keluhan fisik yang dialami akibat pikirannya sendiri,” imbuhnya.
Untuk membedakan sakit akibat infeksi virus atau bakteri dengan sakit akibat faktor psikologis, dokter akan mempertimbangkan beberapa hal. Di antaranya, detil gambaran gejala, perjalanan penyakit, termasuk durasi dan progresivitas sakit, serta riwayat kesehatan sebelumnya.
Perawatannya mencakup perawatan medis dan psikososial. Jika tidak tertangani dengan tuntas, gangguan psikosomatis dapat berdampak pada kesehatan dan kualitas hidup penderita. International Mind-Body Wellness Day yang diperingati tiap 3 Januari menjadi reminder untuk menjaga kesehatan pikiran dan tubuh karena saling berkaitan.
“Penting untu diingat bahwa deteksi dan intervensi dini gangguan psikosomatis dapat mengurangi dampak negatif yang terjadi. Penyebab psikosomatis itu, pikiran jadi kelola stres dengan baik,” kata Brihastami. Temukan aktivitas atau hal positif yang dapat mengurangi stres. Misalnya, relaksasi, berolahraga, menonton film komedi, atau melakukan hobi. (lai/c7/nor)

