Salah satu materi kuliah di Prodi Interior Arsitektur Universitas Ciputra adalah pembuatan green building. Pada masa kini, green building adalah sebuah kebutuhan. Demi mengurangi konsum: istrik. Sehingga bangunan lebih ramah lingkungan.

MENURUT Green Building Council Indonesia (GBC!), green building merupakan bangunan yang sejak tahap perencanaan, pembangunan, pengoperasian, hingga pemeliharaannya memperlihatkan aspek-aspek lingkungan.

Termasuk melindungi, menghemat, serta mengurangi penggunaan sumber daya alam. Menjaga mutu dari kualitas udara di ruangan, dan memperhatikan kesehatan penghuninya. Serta berpegang pada kaidah pembangunan yang berkelanjutan.

Konsep green building merupakan perencanaan bangunan untuk membuat hidup menjadi lebih baik tanpa mengorbankan kehidupan manusia dan lingkungan generasi masa kini dan generasi masa

depan. “Menerapkan konsep green building berarti juga menyelamatkan kelestarian alam, kesehatan dan sosial,” jelas Susan ST., MT., GP, dosen Prodi Interior Arsitektur, Universitas Ciputra.

Untuk meningkatka wawasan mahasiswa tentang green building dan aplikasinya pada bangunan, Susan mengajak kolega dan empat mahasiswa dia untuk melakukan penelitian. Rekan dosen dia adalah Yusuf Ariyanto ST., M.Ars. Sedangkan tim mahasiswa adalah Reynald, Quisha, Rahmat, dan Adella. Penelitian green building yang mereka lakukan, difasilitasi langsung melalui program Kedaireka-Matching Fund. “Jadi para mahasiswa bisa secara langsung belajar mengenai green building dan penerapan pasif desain pada bangunan Bersama pakarnya,” ujarnya.

Pakar yang dimaksud adalah Ir, Daud Tjondroraharjo, MBA, GP, ketua Green Building Council Indonesia representatif Yogyakarta. Tim Susan berangkat ke Jogjakarta pada 17 Oktober. Di sana mereka

bertemu dengan Daud dan banyak berdiskusi. Objek penelitian adalah seputar bangunan di Jogja yang menerapkan konsep green building dan desain pasif.

Desain pasif adalah desain yan memanfaatkan potensi iklim setempat Untuk menciptakan kenyamanan pada bangunan, tanpa bantuan peralatan mekanis. Jadi misalnya untuk pencahayaan, memaksimalkan penggunaan daylight, lampu sebagai pelengkap untuk penghawaan dan memanfaatkan ventilasi alami, bukan AC.

Pada hari kedua, para dosen dan mahasiswa mengunjungi beberapa green building yang dimaksud. Perhentian pertama mereka adalah Hotel Greenhost Boutique. Lokasinya di Jalan Gerilya No.629, Brontokusuman, Kecamatan Mergangsan. Hotel tersebut memang tampak hijau. Fasadnya dipenuhi tanaman rambat yang menggantung bebas.

Kolam renang juga penuh tanaman hijau. Jika berenang di sana, rasanya alami seperti di tengah hutan rimba. Menurut Susan, bangunan tersebut menggunakan konsep green building. “Paling jelas terlihat, Greenhost Boutique menerapkan shading device berupa vegetasi di seluruh fasad bangunannya,” kelas perempuan 40 tahun itu.

Vegetasi di fasad, selain untuk filter polusi, juga untuk menjaga kondisi termal di dalamnya. Maka, vegetasinya diubah menjadi buffer radiasi matahari. “Sehingga cahaya yang masuk ke dalam ruangan dapat berkurang. Hawa dalam ruangannya tidak terlalu panas,” tutur dia.

“Jika melihat hotel yang bersistem pasif, biasanya koridornya terletak di tengah- tengah kamar. Sehingga perfu suplai AC,” ujamya. Berbeda dengan bangunan Greenhost Boutique. Hotel tersebut memniliki Koridor di tepi bangunan dan terbuka. Dinding bagian luar tidak didesain dengan full, melainkan dibuat seperti raling setinggi sekitar 80 cm. “Jadi koridomya dapat suplai udara alam,” tambah dia.

Kunjungan berikutnya, dosen dan mahasiswa diajak menuju The 101 Tugu. Bangunan itu memiliki bentukan massa seperti huruf U. Fungsinya untuk menangkap angin serta outdoor hallway.

“Sehingga tidak memertukan AC. Setelah itu, mereka beranjak ke Bandara Intemasional Jogjakarta. Bangunan tersebut menggunakan material kaca low-e sebagai kaca termal. Sehingga dapat menghambat panas yang masuk ke dalam bangunan. Berbeda dengan bangunan yang menggunakan kaca clear. Bangunan seperti itu biasanya menyerap radiasi matahari ke dalam bangunan.

“Ruangan jadi panas. Beban AC-nya besar. Energi yang digunakan untuk pendinginan juga besar,” ungkap dia. Jika menggunakan kalo kaca low-e, radiasi matahari dipantulkan ke luar.

Kolaborasi antara Program Studi Arsitektur Universitas Ciputra Surabaya dengan GBC! Berlangsung selama lima bulan. Dengan target output berupa web Net Zero Healty Building Assessment Tools, video edukasi, artikel ilmiah, hak cipta, dan sertifikasi untuk mahasiswa.

“Saat ini web-nya sudah jadi. Sudah disosialisasikan melalui webinar dan workshop,” terang dia. Susan dan para mahasiswa memberinya nama DEFINE. Singkatan dari Design for Net Zero and Healthy Building.

Video edukasi juga telah jadi dua seri. Yang pertama berjudul, Net Zero and Healthy Building. Kedua, Passive Design as a Window to Net Zero Healthy Building.

“Sedangkan untuk hak cipta sudah tiga yang di-granted. Antara lain: parameter optimasi untuk DEFINE dan dua untuk video edukasi,” pungkas dia. Melalui penelitian tersebut diharapkan semakin banyak arsitek yang dapat berkontribusi dalam upaya mendukung Net Zero Indonesia pada 2050. Melalui bangunan yang ramah lingkungan. (Retna Christa-Guruh Dimas)

 

Sumber: Harian Disway. 23 Desember 2021.