Oleh Sawitri Supardi Sadarjoen
Barangkali kita merasa depresi saat ini karena bila kita menilai Penghayatan akan kenyamanan keluarga yang kita alami dalam kisaran rentang angka satu (1) hingga sepuluh (10), keluarga kita terasa berada dalam Rentang dua (2) Dan tiga(3) Yang dapat kita raih. Kita merasa bahwa peluang mengungkap perasaan kita yang paling dalam di lingkup keluarga hanyalah setara dengan ruang yang sempit.
Namun, seyogyanya kita merasa besar hati karena keluarga lain, Yang tampak luar secara meyakinkan diri kita seolah pasti mencapai Rentang sembilan atau sepuluh, ternyata sebenarnya hanyalah tampak luar.
Mengenai permasalahan keluarga, sebagai konselor perkawinan saya setuju dengan pendapat Merry karr. Yang mendefinisikan keluarga di Fungsional (tidak berfungsi dengan baik) adalah keluarga yang anggotanya lebih dari satu orang. Situasi keluarga dengan lebih dari satu anggota keluarga tersebut menurut Marry Karr, adalah situasi keluarga yang terkait dengan masalah “kurang dan lebih” walau harus di akui Pemahaman “kurang dan lebih” tersebut mungkin memiliki perbedaan besar bagi setiap anggota keluarga yang tergabung.
Saya lebih menyarankan agar kita tidak selalu menggeneralisasi dengan cara pemberian rentang penilaian 1-10 tentang kualitas keluarga. karena pada dasarnya keluarga adalah se- suatu yang kompleks dan penuh komplikasi, berantakan, tidak dapat dinilai secara kuantitatif dan kon- tekstual, bahkan bisa saja keluarga berada dalam situasi yang penuh pa- radoks dan kontradiksi.
Sebagai contoh konkret, ayah saya pada dasarnya seorang individu yang sangat emosional, dalam arti bila ter- ia akan bersikap “diam seribu basa” untuk beberapa jam, bahkan bisa hingga satu atau dua hari. Namun, ada saat-saat tertentu dengan rasa humor beliau yang tinggi (yang merupakan upaya kerasnya mengabaikan sifat emosionalnya tersebut), beliau mam- pu mengelola ketegangan emosi serta meleburnya dengan sikap lepas dari ketegangan emosi berlanjut dengan berkontribusi terhadap situasi kelu- arga yang rileks sebagai berikut ini. Adik saya Nn, mengungkap cerita sebagai berikut: “Kami memiliki ba- nyak pengalaman yang menyenang- kan pada hari-hari baik, saat kami (ibu, ayah, kakak, dan saya sendiri) di meja makan saling menceritakan le- lucon dan cerita-cerita gembira sam- pai kita berempat tertawa gelak-gelak sambil keluar air mata.
Makan malam saat itu menjadi makam malam yang paling menyenangkan. Saat ibu dalam keadaan tenang oleh menurunnya gejala his- teris beliau, yang sering beliau ungkap sehubungan dengan kanker payudara yang dideritanya. Memang pada bin- cang-bincang jenaka di meja makan saat itu, kami sama sekali tidak menyinggung masalah penyakit ibu. Adik saya seorang peneliti, menceritakan memotong badan katak untuk per- tama kali di meja laboratorium. Cara menceritakannya sangat menggelikan buat kami tertawa terbahak hingga mengeluarkan air mata membayangkan reaksi jijiknya tersebut.
Hal yang kemudian terjadi, saat saya diundang makan malam bersama lam selesai, dan semua anggota ke- luarga masih berada di sekeliling meja keluarga teman, setelah makan ma- makan, saya berusaha mengisi pem- bicaraan dengan mengulang cerita adik saya saat pertama kali memotong boratorium. Semua terdiam dan me- mandang aneh pada diri saya. Tidak satu pun anggota keluarga menang- kap aspek humor dari cerita saya dan kemudian apa yang terjadi? Rupanya, cerita saya tersebut menstimulasi tingkat kepekaan anggota keluarga akan rasa jijik membayangkan katak yang dipotong-potong di meja labo- seekor katak dalam penelitian di la- ratorium. Akibatnya, saya tak pernah mendapat undangan makan lagi.
Dari pengalaman itu saya dapat menyimpulkan, setiap anggota keluarga memiliki tingkat kekuatan mental dan kepekaan dan sifatnya dividual. Jadi, setiap keluarga men- ciptakan karakter spesifik dalam ber- bagai hal sebagai berikut: apakah ke- luarga dengan single parent, keluarga tiri, atau keluarga-keluarga dengan kondisi spesifik lain. Jadi, keluarga dengan anggota keluarga yang ter Gabuung memiliki kompleksitas tertentu dan membuat kita tidak akan mampu menggeneralisasi pemaham- deskripsikannya secara umum dan Keluarga, apalagi mendeskripsikan nya secara umum dan gamblang
kompleksitas keluarga
keluarga keluarga dari latar belakang budaya dan etnik yang berbeda memiliki jenis-jenis percakapan yang menjadi tabu untuk dibicarakan se- cara terbuka. Setiap keluarga memiliki aturan dan kebiasaan yang tidak ter- tulis tetapi harus dipatuhi tentang apa yang pantas diungkap secara terbuka dikeluhkan dan ditanyakan secara ter- berikan kepada anggota keluarga yang melanggar aturan-aturan tertentu. dan apa yang baik atau buruk untuk buka di’hadapan khalayak keluarga, bahkan hukuman apa yang patut di berikan kepada anggota keluarga yang melanggar aturan aturan tertentu.
Menarik sekali kiranya bila kita memikirkan bagaimana faktor-faktor budaya yang menurun pada diri kita membentuk ungkapan verbal (suara) kita yang dikelompokkan dalam suara yang “baik” dan suara yang “buruk”. Di sisi lain, pemahaman tentang ke- luarga modern yang saat ini kita ha- yati menekankan bahwa seseorang yang memiliki kompetensi spesifik dan keahlian yang menonjol diha- rapkan untuk selalu dapat menun- jukkan prestasi kerja mandiri yang optimal dan memiliki kejelasan arah perkembangan pribadinya menghadapi masa depannya.
Tuntutan ini memang bisa menjadi kenyataan, tetapi akan menjadi ham- batan bagi yang bersangkutan, yang tiba-tiba menderita penyakit serius yang membuatnya berada dalam si- tuasi kritis. Terkait dengan tatanan budaya keluarganya yang masih ber- pengaruh, dia sebagai seseorang yang dinilai mampu berdiri sendiri karena kompetensinya tersebut seolah tidak memiliki kebebasan ruang untuk me- ngeluhkan penyakitnya, meminta pertolongan orang lain.
Dia mengalami kesulitan mengungkapkan keluhan rasa sakit- untuk nya, dan kepekaan emosi sehubungan dengan penyakit yang diderita, sulit untuk menerima bantuan, sulit me- ngenali ketergantungannya dengan keluarga, serta sulit untuk menerima dukungan emosional saat melalui pro- ses kesedihan perasaannya oleh pe- nyakit serius yang tiba-tiba dideri- tanya. Hal inilah yang justru membuat dirinya menjadi kesepian, terdiam serta tercekam tahan untuk tetap ber- usaha secara mandiri. berlanjut, dengan ber tahan untuk tetap berusaha secara mandiri.
Sebaliknya, dalam keluarga di mana penekanan kebersamaan an- taranggota keluarga menjadi hal uta- ma, sering justru membuat anggota keluarga pun tidak mampu meng- ungkap kesulitan dalam memenuhi tuntutan terkait dengan makna ke- bersamaan dalam budaya tertentu, misalnya seorang ibu yang dituntut untuk menjaga dan melayani ibu mertua yang sudah demensia, se- mentara tiga anaknya menjelang re- maja tanpa seorang pun asisten rumah tangga dan atau perawat un- tuk ibu mertua. Ibu ini sakit kepala yang tak kunjung sembuh yang akhir- nya mendorong ibu tersebut ber- konsultasi dengan seorang neurolog.
Namun, karena neurolog tersebut tidak menemukan gangguan fisik spe- sifik yang melatarbelakangi keluhan pusing ibu yang diderita secara ber- lanjut tersebut, neurolog merujuknya ke seorang psikolog klinis. Atas dasar hasil anamnesis eksploratif yang di- lakukan pada ibu tersebut, psikolog klinis mendiskusikan mekanisme ke- luhan pusing berlanjut tersebut ter- kait erat dengan ketidaksanggupan- nya merawat ibu mertua, sambil mengurus ketiga anaknya sekaligus dan atau perawat khusus bagi ibu mertuanya. Ibu tidak berani menge- luhkan ketidaksanggupannya secara terus terang kepada sang suami ka- merupakan tatanan berkeluarga yang tanpa bantuan asisten rumah tangga rena kesediaan merawat ibu mertua merupakan tatanan berkeluarga yang seyogianya dilakukan menantu scorang yang dinilai “baik” oleh lingkungan budaya timbulkan oieh kompleksitas penga- setempat. Bagaimanapin situasi di atas membutuhkan keanampuan kita un- tuk mengatasi permasalahan yang di- ruh kultural yang mengandung un- sur-unsur eksesif tersebut. Untuk itu, sejalan dengan perkembangan pe- maknaan baru tentang kehidupan ke- luarga yang terkait dengan pengaruh latar belakang kultural di mana pun liki hal tersebut di bawah ini:
- Setiap anggota keluarga hendaknya membangun kemampuan mengungkap kebenaran dan menampilkan diri dengan cara tulis apa adanya.
- Walaupun pada masa lalu menyatakan Otentisitas diri merupakan perilaku yang tidak terhormat dan dapat dinas sebagai suatu yang tidak “baik”, keluarga hendaknya memfasilitasi silitasi dimulainya suatu iklim relasi keluarga mampu keluar dari tuntutan budaya yang membuat sikap diam anak atau menantu yang dianggap keluarga hendaknya memfa- dalam keluarga agar setiap anggota seribu basa, berahasia, mempertahan- kan rasa malu akan stigma sebagai tidak sopan dan tidak “baik”.
Apabila kita secara kolektif mampu memberikan tantangan terhadap stigmatisasi dan “rasa malu” oleh pengaruh kulture yang dominan kita dapat membangun ruang untuk lebih menghargai percakapan yang jujur dan tulus sebagai sarana interaksi internal dalam keluarga.
Sumber: Kompas.7-Oktober-2017.Hal_.25

