Badan Ekonomi Kreatif Bekerja
Jakarta, Kompas – Dengan beragam keterbatasan, Badan Ekonomi Kretaif memilih kuliner, fashion, dan musik sebagai lokomotif untuk menggerakkhan suksektor lain dengan industri kreatif. Langkah ini diharapkan dapat mendorong pendapatan negara dan masyarakat secara langsung.
“Dengan batasan anggaran, personel, dan wakti, lokomotif ekonomi kreatif ditentukan agar ada pekerjaan yang bisa menghasilkan nilai ekonomi dengan cepat. Selain itu, dapat menginspirasi sebagian besar subsektor lain,” kata Ketua Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf di Jakarta, Selasa (27/1).
Badan Ekonomi Kreatif memilih kuliner, fashion, dan musik sebagai prioritas pengembangan industri kreatif karena bersifat umum dan sudah diterima masyarakat luas. Badan itu diarahkan untuk mengoptimalkan pendapatan atau nilai ekonominya.
“Pada subsektor musik, ada kendala kepastian hukum karena pembajakan hak cipta masih marak. Badan Ekonomi Kreatif berencana menjalin nota kesepahaman dengan Kementrian Hukum dan Hak Asasi manusia serta kepolisian Negara RI untuk membentuk satuan khusus pemberantasan pembajakan hak cipta,” tutur Triawan.
Pengoptimalan nilai ekonomi dari subsektor kuliner, fashion, dan musik diharapkan menjadi lokomotif yang menarik gerbong-gerbong industri kreatif yang lain. Di dalam Rencana Pengembangan Industri Kreatif Menuju Visi Ekonomi Kreatif Indonesia 2025, industri kreatif mencakuo 14 subsektor.
“Badan Ekonomi Kreatif juga bertugas mendekatkan produk-produk kreativitas generasi muda ke pasar. Masalah yang dihadapi sekarang, banyak diantara generasi muda mampu menciptakan produk kreatif, tetapi tidak bisa menyalurkannya dan diterima pasar,” lanjutnya.
Triawan meluruskan anggapan orang, Badan Ekonomi Kreatif memiliki peran melestarikan warisan-warisan kebudayaan. “Itu jusstru yang mau dihindari. Ada kesalahan persepsi mengenai bahaya Ekonomi Kreatif,” ujarnya.
Dimulai dari Istana
Pengaman kuliner William Wongso mengatakan, dukungan terhadap kuliner Indonesia harus dimulai dari Istana Negara. Jamuan makan kenegaraan harus menu Indonesia, bukan menu internasional. “Menu Indonesia disajikan lebih baik dan otentik. Itu adalah langkah awal untuk menarik hal-hal lain,” katanya.
Dari Istana seharusnya semuanya bermula. Badan Ekonomi Kreatif juga diharapkan bisa menggarap materi pendidikan sekolah menengah kejuruan pariwisata dan perhotelan dengan menekankan pendidikan kuliner lokal minuman sampai 80 persen. “Sekarang yang terjadi justru terbalik, menu internasional 80 persen,” ujar William.
Badan Ekonomi Kreatif seharusnya menggarap masalah kuliner dari hulu ke hilir. Indonesia yang memiliki ragam kuliner sangat kaya dan beragam saat ini tertinggal dari negara-negara di Asia, bahkan Asia Tenggara. Sebagai perbandingan, Thailand memiliki 23.000 lebih restorant khas Thailand di seluruh dunia. Jepang memiliki 55.000 restorant. Begitu juga dengan restorant Tiongkok, Korea, dan Vietnam. Adapun jumlah restoran Indonesia di luar negeri masih tergolong sangat sedikit.
Hal senada diungkapkan pengamat kuliner dan pakar minuman anggur Yohan Handoyo. “Promosi menjadi hal utama yang wajib dilakukan Badan Ekonomi Kreatid,” katanya.
Yohan mencontohkan, Thaailand memiliki program Thai Food for The World. Usahanya mengumpulkan aneka resep masakan Thai dan disebarkan melalui kedutaan-kedutaan besar Thailand di luar negeri.
“Kita adalah negara paling kaya kulinernya. Kalau dimanfaatkan dengan baik, dampaknya langsung ke masyarakat bawah sangat besar. Saat pemerintah tidak bisa memberikan lapangan kerja formal, sektor informal ini harus didorng,” tutur Yohan.
Sumber : Kompas, 28 januari 2015, hlmn 12

