Latih Anak Bantu Pekerjaan Rumah.

Bisa Mulai Usia 18 Bulan, Asah Inisiatif dan Tanggung Jawab

Jawa Pos. 14 April 2024. Hal.22

Banyak pekerjaan rumah menanti ketika Lebaran. Apalagi jika asisten yang biasa membantu belum kembali dari mudik. Moms bisa melibatkan anak untuk membantu tugas domestik sesuai kemampuannya. Aktivitas itu akan melatih rasa tanggung jawab dan kepercayaan diri anak.

ANAK mulai bisa dikenalkan dengan pekerjaan rumah sejak usia 18 bulan. Sebab, pada usia itu anak mulai mengembangkan otonomi atau kemandirian. Kenalkan dengan tugas yang ringan sesuai kemampuan si kecil. “Sejak usia 18 bulan anak bisa dilatih untuk merapikan mainannya dan memakai baju sendiri,” kata Cania Mutia MPsi Psikolog.

Pada balita, ortu perlu mencontohkan terlebih dulu agar anak melihat dan meniru. Baru kemudian ajak anak untuk mencoba melakukannya. Tidak semua jenis pekerjaan rumah bisa diberikan kepada si kecil. Sesuaikan dengan usia dan kemampuan anak.

“Untuk anak yang lebih besar, buat aturan terkait macam pekerjaan rumah dan siapa yang mengerjakan. Lalu, buat kesepakatan bersama pekerjaan apa saja yang dia ingin lakukan,” imbuh founder Rumah Rangkul itu.

Cania mengatakan, anak yang dilatih untuk membantu pekerjaan rumah sejak dini akan jadi lebih percaya diri dan penuh inisiatif. Aktivitas itu juga bisa melatih rasa tanggung jawab dan kedisiplinan. “Sebaliknya, jika anak tidak dikenalkan dan diajari melakukan pekerjaan rumah, dia akan berkembang menjadi individu pemalu dan penuh keraguan,” ungkapnya.

Melibatkan anak dalam pekerjaan rumah tangga juga menjadi bagian dari proses belajar dan bermain. Namun, masih banyak ortu yang tidak memperbolehkan anaknya ikut mengerjakan pekerjaan rumah karena berbagai alasan. Misalnya, takut mengganggu waktu bermain anak atau takut hasil pekerjaan anak kurang baik sehingga harus mengerjakan ulang.

“Beri anak kesempatan mencoba. Seiring waktu, anak akan belajar cara mengerjakan pekerjaan rumah dengan lebih baik. Kembangkan mindset bahwa anak punya hak untuk bermain. Salah satunya lewat mengerjakan pekerjaan rumah sambil bermain,” ujar psikolog di biro APDC Indonesia itu.

Ortu dan anak, lanjut Cania, akan memiliki waktu berdua yang lebih banyak saat bersama-sama menyelesaikan pekerjaan rumah. Dengan begitu, bonding ortu dan anak bakal lebih erat. Tentu, tugas ortu akan jadi lebih ringan dengan bantuan anak. (lai/c18/nor)