SURABAYA – Arek Suroboyo Ngremo berhasil memecahkan Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) kemarin (22/11). Sebanyak 2.110 anak SD hingga SMP berkumpul di jalan Pemuda dan membawakan tari remo Munalipatah. Tarian khas Jawa Timur itu merupakan remo dengan durasi terian terpanjang dalam kelas remo.
Lautan anak tersebut beraksi selama sepuluh menit. Geakan luwes nan lincah mereka selaras dengan gemercing suara lonceng di kaki kiri. Kostem juga lengkap dengan udeng di kepala, sampur atau selendang tari , serta gongseng alias gelang kaki,”Ini impian kami sejak dua tahun lalu. Akhirnya bisa terwujd,” kata Wardani Musban Ali selaku koordinator tari dari Padepokan Seni Budaya Kampung Ilmu.
Anak – anak yang menari kolosal itu berasal dari SDN Jemur Wonosari III, SDN Gubeng I, SDN Kendangsari , SDN Kertajaya IV, SDN Kertajaya I , SDSN Mojo VI , dan SMP 47 Surabaya. Mereka mempersiapkan acara spektakuler itu selama dua tahun . Penyelarasan anak – anak menggunakan komando yang selama ini mereka pelajari”. Tidak ada gladi resik.
Pakai Tutor Sebaya ,
Tak Ada Gladi Resik
Pas tadi tampil, musik dimainkan dan mereka langsung menari,” ujar Dani. Komando itu diberi nama tutor sebaya. Mekanismenya berupa pembelajaran yang dilakukan teman seumuran agar diproses belajar bisa berjalan lancar. Proses belajar juga dibagai tiga kelas, yaitu pemula,madya, dan utama. Pelajar yang bisa menjai tutor adalah anak yang masuk kelas madya.
“Proses ini merupakan penggodakan dari pengurus sekolah, wali murid, dan saya. Kami ingi etap ada yang melestarikan remo. Salah satu jalannya ya lewat sekolah,” papar Dani.
Amelia Putri Purwati merupakan salah seorang anak kelas madya. Dia adalah siswi kelas VI SDN Jemur Wonosari III. Amelia mengakui, awalnya cukup susah mengajarkan tari remo, apalagi dalam hitungan ritme. Meski demikian, dia merasa senang bisa mengajari teman sebayanya.” Saya menari dulu, kemudian mereka mengikuti,”ujar Amalia.
Proses belajar itu ternyata mampu menggerakan ribuan anak. Pada hari pelaksanaan kemarin, tarian tersebut dimaksukkan dalam susunan acara Surabaya Festival 2015. Acara di selenggarakan mahasiswa Uiversitas Cipura (UC).
Kepala Program Studi International Hospitality and Tourism Business UC Agoes Tinus Lis Indrianto mengatakan, mereka mendukung penuh upaya pelestarian budaya tersebut. “ Menanamkan kecintaan terhadap budaya idealnya dimulai sejak masih usia anak – anak. Ketika cinta itu melekat, dengan sendirinya kelestariannya budaya akan tetapterjaga,”ujarnya. (cik/c7/fat)
Sumber : Jawa Pos (Metropolis) 23 November 2015

