Banyak orang menganggap bahwa hidup “Sudah berakhir” saat dinyatakan mengindap penyakit kanker. Seolah tidak ada harapan saat mengetahui sel kanker menghuni tubuh. Nyatanya, banyak orang yang mampu melepaskan diri dari kanker. Para survivor ini menjalani hidup normal seperti semula, bahkan mampu bertahan hingga bertahun-tahun sejak dinyatakan mengalami kanker.
TITIK(42),seorang surivor kanker mengaku pernaj mengalami kanker payudara sekitar tahun 2003. Setelah menjalani penanganan kanker , ia beraktivitas seperti biasa dengan kontrol rutin selama beberapa bulan sekali meskipun tidak ada tanda-tanda munculnya kanker .
“Selama masih bisa, saya tetap berkativitas . Pasti ada ketakutan terkena kanker lagi, tetapi di bawa enjoy saja,” kata titik.
Hal serupa juga dituturkan oleh ita (48), yang pernah mengalami kanker ovarium atau kanker rahim pada tahun 2006 . Begitu terlepas dari kanker , Titik merasa perlu untuk menikmati hidup . Ia tidak ingin kanker yang dialami beberapa tahun lalu membayang-bayangi pikirannya dan ingin menjalani hidup dengan lebih bahagia.
“Berfikir positif saja, positive thinking . Makan dengan niat, semoga makan menjadi berkat , tetapi ada batasan , jangan sembarag makan,” kata ita.
Sudah menjadi pengetahuan umum, stres memang menjadi pemicu utama bertambah parahnya suatu penyakit, termasuk kanker. Kanker yang semula stadium I pun bisa menjadi stadium III atau IV akibat beban pikiran . Oleh karena itu, diajurkan setiap pasien kanker untuk hidup lebih santai dan bahagia. Gaya hidup sehat tetap dijalankan . Pola makan juga harus tetap dijaga.
“Yang penting aman-aman saja . Garis besarnya, kita harus hidup sehat . Hindari 5P soal makan, yaitu pembakaran, pemanis, pewarna, pengawet, dan penyedap,”ungkap Ambar (57), salah satu survivor kanker .
Tetap Waspada
Meskipun banyak survivor membuktikan bahwa kanker bisa ditaklukan , setiap orang perlu berhati-hati pada penyakit ini . Oktober diperingati sebagai Bulan Peduli Kanker Payudara. Berbagai acara seperti seminar mengenai kanker payudara digelar di banyak lokasi sehingga media sosialisai dan mengunggah kesadaran bahayanya penyakit ini.
Ada alasan di balik penetapan Oktober sehingga Bulan Peduli Kanker Payudara . Menurut dr Alfiah Amiruddin MD MS, dari Rumah Sakit Mitra Kemayoran Jakarta , kanker payudara merupakan masalah utama kerena jumlah penderita penyakit ini sangat tinggi .
Semula, kanker rahim adalah menduduki posisi paling atas dalam hal jumlah pasien . Namun , dengan langkah pencegahan seperti vaksin, jumlah orang yang mengalami kanker rahim menurun. Giliran kenker payudara yang jumlahnya naik, mulai dari sekitar tahun 1980-an
“ Ini PR bagi semua orang . Masalahnya , dari 40-70 persen kasus kanker payudara, pasien datang dengan stadium lanjut . Ini karena penyebabnya tidak diketahui secara pasti . Dari tahun ke tahun , getting worse , jumlah pasien bertambah,” ungkap Alfiah dalam seminar yang diadakan oleh Cancer Information and Support Center di Jakarta, baru-baru ini .
Alfiah menuturkan , selama ini , sosialisasi mengenai bahaya dan pengenalan kanker payudara telah banyak dilakukan. Namun, angka penderita kanker payudara masih tetap tinggi .Apalagi jika berdiam diri, jumlah penderita kanker payudara di khawatirkan akan semakin meningkat .
Hal yang perlu diingat , kanker payudara tidak hanya menyerang kaum perempuan , tetapi juga kaum laki-laki . Oleh kerena itu, langkah deteksi dini seperti Sadari atau periksa payudara sendiri perlu dilakukan . (MIL)
Sumber: Kompas 27 Oktober 2015, hal 33

