Konsumsi rumah tangga selalu menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Terutama industry makanan menjadi salah satu penopang.
Harry Sunogo, Presiden Direktur PT. Sekar Laut tbk, menganggap factor demografi mampu menjadi penopang naiknya permintaan di industry makanan. Khusus untuk indsutri,makanan kemasan siap saji, tren gaya hidup juga menjadi pendongkrak permintaan
Lebih mahal kirim ke Sulawesi daripada Singapura
“saat ini orang menjadi semakin sibuk. Suami istri kerja. Belum lagi sekarang juga sudah mulai banyak yang tinggal di apartemen. Mereka lebih memilih yang instan” katanya. Dia melanjutkan, mayoritas industri makanan diindonesia pun menggunakan bahan baku local. Pangsa pasar produk makanan local masih bisa dominan dan mampu bersaing dipasar global saat menghadapi masyarakat ekonomi asean (MEA). Itu juga ditunjang cita rasa orang Indonesia yang tetap menyukai makanan lokal. Kemasan makanan produksi dalam negri juga tidak kalah bersaing dengan negara lain. Selama ini makanan impor hanya tersebar dikota. Itu pun juga lebih disebabkan gaya hidup. Saat ini, kata Harry,yang terpenting adalah mendorong industrialisasi pertanian. Adanya bahan makanan pokok yang masih impor, kata dia, lebih disebabkan rendahnya riset dan pengembangan dibidang pangan. Juga karena penggunaan teknologi yang terbatas. “Padahal, teknologi bisa meningkatkan produktivitas”, paparnya. Menurut dia, industrialisasi untuk sektor pertanian harus dilakukan. “dengan penggunaan bibit unggul serta peralatan pertanian yang canggih, produktivitas bisa bertambah” katanya. Dia mengatakan, secara iklim pun, Indonesia punya keunggulan untuk bisa mengembangkan beberapa komoditas seperti udang, singkong dan tebu. Khusus komoditas udang, Indonesia punya garis pantai yang panjang sehingga bisa digunakan untuk budidaya komoditas tersebut. Disisi lain,harry mengatakan bahwa Indonesia masih memiliki kelemahan di sector infrastruktur. Kendala di infrastruktur itulah yang membuat biaya logistic di Indonesia termasuk tinggi jika dibandingkan dengan negara lain. “kami mengirim barang ke Sulawesi dan ke singapura. Biayanya lebih mahal ke Sulawesi daripada ke singapura” katanya. Selama ini, kata dia, masih banyak potensi bahan baku yang berada di daerah, tapi belum bisa dimaksimalkan untuk industri. Salah satu sebabnya adalah factor infrastruktur. Indonesia yang kaya akan komoditas seperti sektor pertanian dan perkebunan harus diberi nilai tambah dengan diolah menjadi industri. Dia berharap konsep tol laut yang diangankan pemerintah bisa diimplementasikan pada pembangunan infrastruktur maritime. Dengan demikian, pengiriman bisa menjadi lebih efisien dan produk dari jawa bisa semakin luas lagi masuk ke luar pulau. Dia mengatakan selama ini biaya logistik untuk pengiriman produk di jawa dan bali bisa mencapai 10 persen dari total biaya produksi. “jika sudah di luar wilayah tersebut,biaya bisa mencapai 20 persen. Akibatnya, harga untuk di luar Jawa dan Bali lebih mahal” ujarnya. Mengenai paket kebijakan ekonomi, dia cukup mengapresiasi paket kebijakan tentang perizinan. Menurut dia, izin tiga jam dan one stop servis saat ini sudah mulai berjalan baik. Di tingkat daerah, menurut dia, beberapa daerah sudah mulai terbuka dengan memahami bahwa tujuan masuknya investasi ke daerah mereka adalah kepentingan masyarakat. Dia juga mengungkapkan, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi daripada tahun lalu, perlu ada sinergi antara pemerintah pusat dan daerah. Juga stabilnya kondisi kondisi politik dan nilai tukar serta infrastruktur yang tertata. “jika beberapa hal tersebut bisa dibenahi, pertumbuhan ekonomi kita mampu melampaui negara lain” ujarnya.
Sumber: Jawa Pos, Senin, 8 Februari 2016

