
Mendenganr suara ketika bola menyentuh senar raket menjadi faktor penting dalam tenis. Namun, ketika suara itu tak pernah didengar Lee Duckhee (19), yang terlahir dalam kondisi tuli, petenis Korea Selatan itu menggantinya dengan insting dan penglihatan yang menjadi kekuatannya.
OLEH YULIA SAPTHIANI
Duckhee mengangkat raketnya untuk menarik perhatian wasit saat bertanding melawan Taiwan, Wu Tung Lin, pada perempat final turnamen TEZ Terbuka Indonesia Futures F7, di Jakarta, Kamis (23/11).
“Out?” dia bertanya. Ibu jari dan telunjuk kanannya kemudian membentuk huruf U, memberikan pendapat ketika bola dari servisnya jatuh tipis di atas garis servis, setipis huruf U yang dibatnya. Sementara penjaga garis, lalu diperkuat keputusan wasit, menyatakan bola itu keluar. Itulah cara Duckhee berkomunikasi dengan wasit dan pertandingan.
Namun, ketika berkomunikasi dengan salah satu pelatih yang juga sepupunya, Woo Chyung-hyo, Duckhee berbicara seperti halnya orang dengar. Tak ada gerakan isyarat tangan dalam komunikasi mereka.
Ketika Kompas mewawancarainya, Duckhee juga berbicara. Woo menjadi penerjemah karena Duckhee tak bisa berbahasa Inggris. Duckhee membaca gerak bibir Woo, kemudian menjawabnya dengan bahasa Korea.
“Dua tahun lalu, saya bermain di sini. Mudah-mudahan saya bisa juara lagi dengan permainan yang lebih baik,” katanya. Duckhee pernah tampil pada dua seri turnamen sirkuit profesional Federasi Tenis Internasional (ITF) itu pada 2015. Dia menjuarai seri kedua (F2) dan F3.
Dalam kemenangan, 6-4, 6-2, melawan Wu, Duckhee membuat lawannya itu beberapa kali menggelengkan kepala. “Oh my God!” teriak Wu pada saat momen ketika Duckhee mendapat winner (poin dari pukulan) melalui passing shot. Duckhee mendapat poin dari backhand keras nan datar hingga bola melewati Wu.
Insting dan melihat gerakan lawan dengan cepat menjadi alat untuknya dalam menentukan pukulan. Dua kelebihan itu menggantikan merdunya suara dentuman lembut impact bola pada senar raket. Apalagi jika perkenaan bola pas pada wilayah tengah raket. Titik paling ideal perkenaan raket.
Dalam tenis, suara itu teramat penting. Petenis nomor satu dunia Rafel Nadal, mengeluhkan kerasnya suara hujan pada atap Stadion Arthur Ashe yang di tutup. “ Saya jadi tidak bisa mendengar suara bola saat memukul,” katanya. Dikutip dari USA today.
Perjuangan Orangtua
Duckhee adalah putra pertama dari dua bersaudara. Dia diketahui tak bisa mendengar saat berusia dua tahun. Ketika itu, Duckhee hanya tinggal bersama ibunya, Park Mi-ja, karena sang ayah, Lee Sang-jin, harus menjalani wajib militer. “dokter mengatakan anak saya tak bisa mendengar apa-apa. Saya terkejut, tak bereaksi apa-apa,” kata Park seperti di tulis New York Times, 22 November 2016.
Park langsung mengunjungi adiknya di Seoul. Dia menangis tanpa henti. Beberapa jam baru Park menelpon suaminya. Mereka berdiskusi dan memutuskan tak larut dalam kesedihan.
“Saya ingin dia bergaul dengan orang-orang normal. Saat melihat siswa tuli di sekolah disabilitas bertambah dewasa, mereka hanya berkomunikasi dengan bahasa isyarat menggunakan tangan. Peluang untuk bekerja terbatas. Akhirnya mereka bergantung kepada orangtua,” kata Park.
Tak mau itu terjadi pada anaknya, Park mengajari Duckhee berbicara dan membaca gerak bibir setiap malam. Dia menggunakan kartu gambar dan memperagakan cara membacanya dengan berbagai gerakan mulut. Duckhee akhirnya bisa berbicara seperti orang yang bisa mendengar.
Beberapa tahun kemudian, orang tuanya memutuskan Duckhee hanya belajar di sekolah umum. Kemudian sang ayah menambah kemampuan putranya pada golf, panahan, dan menembak.
Namun, Duckhee yang sadar tuli pada usia 6 tahun, justru tertarik pada tenis setelah melihat sepupunya. Woo Chung-hyo, berbain tenis. Sejak usia 7 tahun, mulailah Duckhee berlatih tenis. Woo hingga kini selalu menemani setiap kali saudaranya bertanding.
Keinginan Duckhee menekuni tenis ditanggapi serius oleh orangtuanya. “Sekitar 90 persen pelatih, keluarga, petenis lain, dan orangtua petenis selalu menilai Duckhee tak akan bisa menjadi atlet ptofesional. Pada awal latihan, dia bisa melakukannya karena laju bola pelan. Tetapi saat memasuki arena profesional, dia harus berhadapan dengan kecepatan pukulan karena tak bisa mendengar Duckhee dinilai tidak akan bisa melakukannya, “ kata Lee yang bersama istrinya tidak peduli pada kritik itu.
Ditemani pelatih, terkadang ayahnya, dalam menjalani tur, Duckhee mulai memasuki persaingan di arena tenis profesional pada 2012. Saat meraih poin dari turnamen pertamanya di Jepang, dengan tampil hingga babak kedua sejak kualifikasi, dia mendapat ucapan selamat dari Rafael Nadal melalui Twitter.
Tantangan datang pada turnamen kecil yang berlangsung tanpa penjaga garis. Penilaian jatuhnya bola ditentukan oleh petenis saat penglihatan wasit terhalah untuk menilai. Duckhee sering dicurangi lawan, terutama pada poin-poin krusial.
Namun momen-momen itu membuat mentalnya lebih tangguh meski hingga sekarang berkomunikasi dengan wasit menjadi kendala besar. “Kadang, saya tak tahu ketika bola jatuh tipis di luar lapangan karena saya tidak dapat mendengar wasity. Selain itu semuanya baik-baik saja. Saya tidak bisa mendengar, tetapi mata saya menggantikannya. Saya bisa menilai gerakan lawan hingga gerakan terakhirnya,” kata Duckhee, yang sering mempelajari kemampuan petenis lain melalui video.
Seperti petenis lain, cita-cita besarnya adalah menjadi petenis nomor satu dunia. Petenis peringkat ketiga di negaranya ini mencoba menjalani dunia tenis profesional setahap demi setahap. Duckhee saat ini berada di peringkat ke-216 dunia dan ingin mencapai jajaran 100 besar dunia pada 2018.
Perjalanan menuju cita-citanya masih jauh. Akan tetapi, dia telah menjadi inspirasi banyak orang. Dia disponsori produsen mobil negaranya Hyundai, sejak 2011 hingga 2020.
“Banyak yang menjadi sumber inspirasi saya. Keluarga, teman-teman, pelatih, agen, dan petenis lain,” katanya
Lee Duckhee
Lahir : Jecheon City, Korea Selatan. 29 Mei 1998
Tinggi/BB : 175 cm/ 75 kg
Pegangan Raket : Tangan kanan (“backhand” dua tangan)
Pelatih : Im Kyu-tae dan Woo Chung-hyo
Peringkat Dunia : ke-216 (20 November 2017)
Peringkat Dunia Tertinggi : ke-130 (10 April 2017)
Menang-kalah : 168-105
Gelar juara : 10 (turnamen ITF)
Sumber: Kompas. 25 November 2017
