Bagi sebagian anak, berpuasa terasa sulit. Apalagi, di masa pandemi ini membuang mereka banyak tinggal di rumah sehingga mudah menjadi bosan.
Menurut psikologi dari Fakultas Psikologi Universitas Ciputra, Stefani Virlia, kebosanan muncul karena tidak adanya stimulasi. Ketika menemukan stimulasi, maka kejenuhan itu akan hilang.
Oleh karena itu, ia menyarankan agar orang tua menyiapkan kegiatan atau aktivitas yang seru selain sekadar menonton televisi atau bermain gawai. Ada banyak alternative kegiatan, salah satunya belajar sambil bermain. Dalam hal ini, disesuaikan dengan usia anak.
Alternatif lainnya yang bisa dilakukan yakni membuat kerajinan. Tidak perlu menggunakan bahan yang susah dicari, cukup yang tersedia di rumah.
“Membuat karya seni dari barang bekas bisa menjadi aktivitas yang menarik bagi anak,” tambahnya.
Saat kegiatan berlangsung, sebaiknya orang tua juga turut terlibat. Begitu juga sebaliknya, aktivitas orang tua juga bisa dibantu oleh anak-anak.
“Contohnya, menyiapkan takjil atau makanan berbuka puasa. Kadang orang tua melarang anak ikut, padahal ini kegiatan bagus yang bisa membuat anak terlibat,” ungkap Stefani.
Anak bisa dilibatkan dalam aktivitas yang ringan seperti mencuci sayur, menata perlengkapan makan, merapikan meja, dan sebagainya. Anak juga dapat dilibatkan dalam pemilihan menu takjil. Menyiapkan takjil bersama selalu menjadi aktivitas menyenangkan bagi anak.
“Saat itulah, orang tua dapat mengajak anak ngobrol. Selain itu, kegiatan bersama juga bisa meningkatkan bonding antara orang tua dan anak,” pungkasnya.
Stefani Virlia M.Psi
Psikolog
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Ciputra
Sumber: Jawa Pos, 5 Mei 2021

