Ling Tedjo_Menjaga Semriwing Permen Legenda.Kompas.10 Maret 2016.Hal.16

Nama permen Davos cukup diingat oleh sebagian masyarakat, setidaknya di Jawa. Permen berbentuk tablet putih dengan sensasi rasa “Semriwing” ini sudah diproduksi sejak lebih dari 85 tahun dan kini dikelola generasi ketiga. Permen asal Purbalingga itu bisa terus ada karena semangat kekeluargaan  pemilik pabrik dan karyawan.

Oleh Megandika Wicaksono

Pabrik permen Davos didirikan almarhum Siem Kie Djian pada 28 Desember 1931. Pengelolaan pabrik kemudian disarahkan pada anak ketidanya yang bernama Siem Tjong An yang memimpin pada 1961-1967. Karena Siem Tjong An melanjutkan studi ke Belanda, kendali perusahaan diserahkan kepada anak pertama Siem Kie Djian, yaitu Corie Simadibrata, dan suaminya, Toni Siswanto Hardi, hingga 1985.

Sejak 1 juni1985, perusahaan ini dipimpin anak Corie dan Toni, yaitu Budi Handojo Hardi dan istrinya, Iing Tedjo. Budi kini berusia 71 tahun, sedangkan Iing 65 tahun. Mereka berdua menjadi pemilik sekaligus pemimpim pabrik Davos yang kini berlabel PT Slamet Langgeng.

Bersama 225 karyawan, mereka berdua berikhtiar mempertahankan pabrik permen yang melegenda itu. Sebagian besar karyawan pabrik bergabung sejak berusia belia hingga usia mereka kini menua. Menariknya, anak-anak mereka sebagian mengikuti jejak orang tuanya bekerja di pabrik Davos.

Salah satu karyawan Davos, Saliyan (64), mengatakan sudah bekerja di pabrik itu sejak 1971. Dia bekerja di bagian produksi. Saliyan bahkan bertemu dan berpacaran dengan pasangan hidupnya saat ini, Sahyati (62), karena sama-sama bekerja di Davos. Kini kedua anak mereka, Daryanto dan Maryanto, juga bekerja di Davos. “Saya bekerja disini sejak masih bujang sampai punya 11 cucu. Kerja disini enak, gajinya lancar. Kami dianggap keluarga,” ujar Saliyan.

Hal serupa disampaikan Sulatiani (50) yang kini menjabat supervisor bagian produksi. Sulatiani sudah bekerja di Davos selama 27 tahun. Putanya, Rosidi Saputra (20), juga bekerja di pabrik itu. “Semuanya nyaman. Kalau sakit, ditanggung perusahaan,” ujarnya.

Iing tedjo mengatakan, para karyawan bertahan bertahun-tahun karena pihak perusahaan memanusiakan karyawan. “Jika ada masalah, selalu bisa dirembuk sehingga hubungan kekluargaan dengan karyawan tetap terjaga,” ucap Iing Tedjo, ditemui di pabrik Davos di Jalan Jendral A Yani Nomor 67, Kelurahan Kandang Gampang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, Kamis (9/2).

Iing menyebutkan mengadopsi semangat yang ditanamkan Siem Kie Djian, yakni membuka lebar pintu pabrik bagi warga setempat yang ingin bekerja. “Dulu sistemnya borongan dan siapa saja bisa bekerja. Karyawan bisa 400-an orang karena kerjanya santai. Mereka, misalnya, bisa pulang pukul 11.00 karena mau ngurus anaknya. Kalau sekarang, karena ada aturan pemerintah, jadi selektif,” tutur ibu dua anak itu.

Selain mencukupi kebutuhan dasar serta hak karyawan, seperti gaji sesuai upah minimal kabupaten, jaminan kesehatan, dan tunjangan hari raya,, menurut Iing, relasi kekluargaan dengan karyawan juga dijalin dengan baik. Mereka biasa menggelar piknik bersama dua tahun sekali.

Nasionalisme

Nasionalisme juga tetap dijaga. Mereka acap kali menggelar syukuran, upacara bendera, atau minimal menyanyikan lagu kebangsaan setiap 17 Agustus. “Jika perusahaan untung lebih, kami memberikan sembako pada akhir tahun,” ujarnya.

Prinsip lain dalam pengelolaan perusahaan yang dijaga betul oleh Iing dan Budi adalah berbagi. Jika ingin berbisnis, tidak boleh hanya mengunutngkan diri sendiri, tetapi juga mesti berbagi dengan karyawan.

Dengan model pengelolaan seperti itu, suasana kerja jadi nyaman dan dinamis. Hari itu, ratusan karyawan yang mengenakan celemek, masker, dan penutup kepala duduk berbaris mengemas ribuan butir permen Davos. Sirkulasi udara yang lancar serta aroma peppermint yang segar menyeruak di sekeliling ruangan.

Berkat kekompakan pemilik perusahaan dan karyawan, sampai sekarang permen Davos masih bertahan. Perusahaan juga memperoleh sejumlah piala dan penghargaan dari berbagai instansi yang dipajang berjejer di ruang tamu pabrik.

Pedagang Gula

Iing mengisahkan, awalnya Siem Kie Djian adalah pedagang gula pasir di wilayah Purbalingga. Kemudian, usahanya berkembang dan memulai memproduksi permen di salah satu ruangan kecil. Permen didistribusikan dengan gerobak sapi ke Purbalingga, Banyumas, dan Cilacap. “Sambil keliling menjual permen, pulangnya bawa gula pasir,” ucap Iing.

Kini, ruangan kecil tersebut berubah menjadi bangunan pabrik yang berdiri diatas tanah seluas 6.000 meter persegi. Distribusi barang dilakukan dengan delapan mobil boks.

Yang tidak berubah adalah permen buatan mereka. Iing menjamin, Davos menggunakan 98 persen gula pasir asli dan sisanya mentol serta zat pengikat. Mereka tidak pernah memaakai zat pengawet dan pemanis buatan sehingga permen bisa bertahan 1,5 tahun hingga 2 tahun.

Iing menceritakan nama Davos diambil dari salah satu kota di bagian timur negara Swiss. Daerah itu dikenal beriklim dingin dan sejuk, seperti sensasi rasa permen Davos yang semriwing. Adapun perusahaan kemudia diberi nama PT Slamet Langgeng karena letak pabriknya berada di kaki Gunung Slamet. “Slamet Langgeng artinya juga agar perusahaan tetap selamat dan lenggeng,” ujarnya.

Selan permen Davos, perusahaan juga pernah memproduksi kembang gula Kresno. Perusahaan juga pernah memproduksi limun pada 1933 dan biscuit pada 1937. Karena sulitnya pemasaran dan ketatnya persaingan, biscuit dan limun merk Slamet tidak lagi diproduksi.

Davos terkenal dengan dua varian yang melegenda. Davos Roll berupa tablet putih berukuran 22 milimeter yang dibungkus kertas warna biru tua serta Davos Lux yang berdiameter 12 milimeter dan dibungkus di dalam kotak warna hijau. “Davos Roll lebih pedas disbanding Davos Lux. Davos Roll lebih banyakj disukai orangtua, mereka sangat loyal. Sementara Davos Lux lebih disukai anak-anak dan remaja,” tutur Iing.

Menyesuaikan tuntutan pasar, Davos terus berinovasi. Mereka kini membuar dau varian dengan kemasan lebih modern, yakni Davos Classic dan Davos Mini.

Di bawah Budi Handojo Hardi sebagai direktur utama dan Iing Tedjo sebagai direktur operasional, Davos tetap menebar semriwing di masyarakat, terlebih bagi ratusan keluarga karyawannya. Nama Purbalingga pun terangkat dengan keberadaan permen legenda ini.

Sumber: Kompas 10 Maret 2017, hal 16