Lontong Balap dan Kupat Keteg Dinobatkan sebagai Warisan Budaya Takbenda

18 Desember 2025

Ferstival kuliner bisa diperluas tidak hanya rujak uleg. Lontong balap juga layak dtampilkan sebagai identitas kota Hari Minantyo.

Kementrian Kebudayaan (kemenbud) menobatkan lontong balap dari Surabaya dan kupat keteg dari Gresik sebagai warisan budaya takbenda.

Penobatan itu jadi momentum untuk semakin mengenalkan kuliner khas tersebut. Sekaligus mengangkatnya menjadi kebanggaan daerah.

Dosen Program Studi Pariwisata Bisnis kuliner Fakultas Pariwisata Universitas Ciputra Surabaya Hari Minantyo menilai, tantangan utama lontong balap saat ini adalah pada penyajian yang cenderung stagnan. Secara rasa, lonton balap sudah akrab di lidah. “Penyajian bisa dibuat lebih kreatif, lebih modern, tanpa meninggalkan pakem tradisionalnya,” ujar Hari kemarin (17/12).

Generasi muda perlu didekati lewat tampilan dan pengalaman makanan yang berbeda. Jika terus disajikan dengan pola lama, lontong balap berisiko kehilangan peminat di tengah gempursn kuliner modern. Komposisi isian hingga tekstur, termasuk olahan lento, perlu mendapatkan perhatian agar lebih ramah bagi selera masa kini.

Pemkot bisa berperan lebih aktif dengan menggandeng hotel berbintang. “Hotel-hotel seharusnya dilibatkan untuk mengankan kuliner lokal. Lontong balap bisa jadi signature dish dengan konsep yang lebih elegan,” katanya.

Menu Andalan Pemkot

Kepala Disbudporapar Surabaya Hidayat Syah menjelaskan beragam upaya dilakukan untuk memperkenalkan lontong balap sebagai salah satu kuliner khas Kota Pahlawan. Salah satunya di setiap kegiatan pemkot, makanan tersebut menjadi menu wajib yang disajikan. “Daam kegiatan di lingkungan pemkot lontong balap sering menjadi menu andalan. Ini adalah salah satu strategi meperkenalkan dan melestarikan makanan khas daerah,” paparnya.

Kepala Bappendalitbang Surabaya Irvan Wahyudrajad menjelaskan Surabaya telah memiliki 1.966 pelaku ekonomi kreatif yang tersebar di empat sektor unggulan, yakni kuliner, fashion, seni pertunjukan, dan kriya. Ada lebih dari 500 pelaku usaha kuliner. “Menu seperti Lontong Balap hingga Rujak Cingur banyak dicari ketika orang datang ke Surabaya,” terangnya.

Tersedia di Bulan Ramadan

Sementara itu, kupat ketheg dari Gresik biasanya dibuat pada malam ke-25 atau selawe di bulan Ramadan. Pada hari biasa masih ada bebrapa warga yang membuatnya untuk dijual. Terutama di dekat kawasan religi Sunan Giri.

Ketupat ketheg menggunakan kentan, bukan beras. Pembukusnyapun bukan menggunakan janur tetapi daun debang. Ketupat punya rasa gurih yang khas itu disajikan dengan kelapa parut dan gula jawa. “Disebut Kupat Keteg karena pembuatannya menggunakan air sumur keteg,” ungkap Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Disparekrafbudpora) Gresik drg Saifudin Ghozali.

Selain ketupat keteg, ada empat tradisi yang jadi warisan budaya takbenda. Yakni Malam Selawe, Pasar Bandeng, Rebo Wekasan, dan Pancak Macan. (omy/ata/son/jun)