Banyak Faktor Ikut Mempengaruhi
Surabaya – anak tidak mendapatkan apa yang diinginka, lantas mengamuk, menangis sambil bergulung-gulung mungkin pernah kita lihat. Kondisi begini, menurut dr Nining Febriyani SpKJ(K), tergolong normal. Dalam istilah medis, hal itu disebut temper tantrum atau amarah yang meledak –ledak.
Anak usia balita, menurut psikiater anak dan remaja tersebu, belum mampu mencerna penjelasan boleh dan tidak. Makanya, kalau tidak sesuai dengan mood si kecil saat itu, emosi langsung meluap. Temper tantrum tersebut dipengaruhi beberapa faktor. Diantaranya, faktor genetic, pola asuh, lingkungan, organic (akibat penyakit), maupun gangguan mental.
Nining menjelaskan, pada dasarnya memang ada anak yang dari sononya terlahir dengan temperamen “sulit” (difficult child). Abak itu sulit diatur dan mudah marah jika keinginanya tidak dipenuhi.
Namun, ledekan emosi tersebut juga bisa dipupuk dari faktor lingkungan. “Anak dimanja, lingkungan yang keras, dan banyak mempertontonkan kekerasan bisa memicu temper tantrum pada anak,” tutur spesialis kesehatan jiwa lulusan FK Unair tersebut. Pada kasus anak yang kemauannya sering dituruti orang tuanya, tantrum menjadi senjata. Mereka akan mengamuk agar keinginan dikabulkan ayah dan ibu.
Lingkungan sekolah atau tentangga sekitar yang banyak mempertontonkan luapan emosi berlebih juga bisa memunculkan tantrum. Bedanya, gangguan itu bersifat sementara.
Untuk kasus-kasus tertentu, ada pula tantrum yang dipicu penyakit. Mislanya, epilepsy, trauma kepala, ataupun radang selaput otak. Perempuan yang berpraktik di Divisi Psikiatri Anak dan Remaja RSUD dr Soetomo tersebut menjelaska, penyakit itu mempengaruhi produksi hormone yang berperan dalam mengatur emosi seseorang.
Sementara itu, gangguan mental yang berkaitan dengan tantrum meliputi autism, ADHD (gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif), serta gangguan tingkal laku. Untuk mengetahui ada tidaknya gangguan tersebut, anak dan orang tua hendaknya berkonsultasi dengan ahli jiwa.
Nining menegaskan, penanganan anak dengan temper tantrum butuh ketelatenan. “orangtua harus tahu akar penyebab luapan emosi tersebut. Caranya, perhatikan saat apa saja si anak mulai mengamuk,”ucapnya.
Ayah dan ibu hendaknya memberi tahu anak lewat kata-kata yang menenteramkan. Dia menerangkan, anak akan menurut jika dibimbing lewat kata-kata yang memotivasi, positif, dan menyenangkan. (fam/c7/nda)
Sumber: Jawa Pos, Senin 26 Januari 2015

