
Tanah longsor dan banjir yang selalu “mengintip” Dusun Kerujuk, Desa Pemenang Barat, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, tiap tahum, membuat Lukmanul Hakim (29) prihatin. Ia kemudian memelopori dan mengajak generasi muda dan warga desanya untuk menjadikan dusun itu obyek wisata berbasis lingkunan. Ajakannya berbuah manis meski pada awalnya tidak sedikit warga yang menolak gagasannya.
OLEH KHAERUL ANWAR
Memberikan pemahaman kepada masyarakat sangat sulit, terlebih lagi kesan masyarakat soal pariwisata kurang baik. Akan tetapi, berkat kerja kesar kami bersama rekan-rekan, masyarakat mendukung kami,” uajar Lukman.
Niat menjadikan dusun seluas 2 kilometer persegi itu sebagai obyek wisata berbasis lingkungan karena Lukman melihat realitas sosial masyarakat. Dari jumlah penduduk dusun 1.553 jiwa (456 kepala keluarga), 90 persen penduduk hidup dari hasil kebun dan menebang kayu hutan. Untuk mendapatkan kayu tebangan, warga harus menempuh perjalanan jauh masuk ke kawasan hutan, pulang-pergi, selama 1 hari.
Tak jarang para peramo meninggal di perjalanan karena terpeleset atau tertindih kayu yang dipikulnya. Untuk mendapatkan kayu tebangan, para peramo main kucing-kucingan dengan para polisi hutan. Padahal hasil dari satu balok kayu seharga Rp 60.000 tidak sebanding dengan risiko yang dihadapi di lapangan. Perambahan kayu hutan yang dilakukan terus-menerus akan berdampak pada degradasi kawasan hutan yang kemudian dirasakan masyarakat.
Dua puluh tahun silam, jika turun hujan, air di Daerah Aliran Sungai Kerujuk baru bisa surut seminggu kemudian. Puncaknya pada 2002 terjadi banjir tiga rumah warga dan beberapa ternak hanyut. “Kini, begitu hujan turun, air di sungai itu surut dalam hitungan jam,” kata Lukman.
Musibah banjir itu mendorong Lukman untuk memutar otak bagaiman dusunnya gar terbebas ari banjir. Namun, dia tidak mempunyai keberanian untuk mrngutarakan gagasannya kepada masyarakat. Tahun 2014, instansi pemerintah memberikan bantuan untuk pembangunan kolam dan bibit ikan nila dan bawal untuk usaha pemancingan meski usaha pemeliharaan ikan ini gagal.
Kegagalan ini menjadi “ pintu masuk” bagi lukman untuk mewujudakn idenya. Kebetulan tahun 2014, ada program pemberdayaan yang dilakukan lembaga sosial masyarakat. Kegiatannya antara lain menggali dan memetakan potensi sumber daya alam yang bisa mendatangkan nilai ekonomi, tetapi tetap menjaga lingkungan lestari.
Pilihannya jatuh pada menyediakan fasilitas rekreasi ekowisat. Tujuannya masyarakat bisa menikmati hasil dari aktivitas ekowisata tersebut, terlebih lagi dusun yang terletak di pinggir hutan itu terdapat aneka tanaman perkebunan, seperti durian, manggis, aren, mangga, arum manis, dan 12 jenis bambu.
Ada juga tanaman yang kini jarang ditemukan: buah juwet, bune, kepundung, ceruring, dan buah singgapur, serta sebek (umbi-umbian). Beberapa air terjun (tiu) di kawasan itu , seperti Tiu Pane, Tiu Loang Bukal, dan Tiu Kelambu, bisa dijadikan paket wisata alam, trekking atau hiking.
Gagasan untuk menggerakkan ekowisata itu pun disampaikan kepada masyarakat dengan berbagai cara. “Kami hampir putus asa untuk meyakinkan masyarakat, pariwisata yang mau dikembangkan bukan yang dikesankan selama ini,” kata Lukman. Dia pun mengajak teman-temannya memberi bukti kepada masyarakat dari yang mereka kerjakan.
Urunan
Beruntung ada 6 warga pemilik 3 hektar tanah sawah dan kebun yang bersedia menjadikan lahannya “disulap” menjadi lokasi rekereasi out bond. Di atas lahan tersebut di bangun, seperti arena kolam, lumpur dan berbagai permainan tradisional, termasuk spot-spot pengunjung untuk berswafoto.
Material pembangungan fasilitas rekreasi itu memanfaatkan sumber daya alam setempat, seperti kayu, bambu, dan ranting yang selama ini terbuat percuma. Mereka juga membentuk kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Kerujuk Lestari. Sejumlah warga pun memberi sumbangan. Mereka bergotong royong membangun jalan setapak sepanjang sekitar 100 meter dari pusat dusun ke obyek wisata. Jalan setapak itu terwujud setelah beberapa pemilik swah dan kebun memberikan izin tanahnya untuk dibuka akses jalan dari-ke lokasi obyek wisata.
Tahun 2015, obyek wisata ini diluncurkan, dan belakangan obyek wisata itu ramai dikunjungi wistawan lokal, Nusantara, dan mancanegara. “Dalam satu minggu, rata-rata pengunjung 150-200 orang, umumnya wiswatawan lokal lombok dan luar daerah,” kata Lukman
Warga pun menikmati hasil dari berkembangnya wisata alam di desanya. Menurut Sekretaris Pokdarwis Jon, mereka membuat ketentuan, dari pemasukan tiket wisata itu, semua pihak terkait termasuk yatim piatu mendapat bagiam. “Kalau sedang ramau pengunjung, para pemilik lahan bisa mendapat Rp 1 juta per orang sehari,” ujar Lukman.
Guna menjaga kelstarian lingkungan, ada aturan atau awiq-awiq yang harus dipatuhi warga. Aturan itu antara lain, tidak boleh memancing ikan menggunakan setrum atau potasium, tidak boleh membuang sampah di sungai, tidak boleh menebang pohon. Sanksi bagi pelanggarnya akan dikenai denda. Misalnya, pelanggar ketentuan memancing dikenai denda hingga Rp 10 juta, dan mengganti seekor ikan hasil pancingan dengan 10 ekor ikan.
Kini, di Dusun Kerujuk, Desa Pemenang Barat, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, itu bukan hanya pariwisata yang berkembang. Para perambah hutan punya pengalaman menjelajah hutan berganti profesi sebagai pemandu wisata. Mereka bisa mengantar pengunjung yang ingin menyaksikan air terjun di kawasan hutan dusun yang masuk ke kawasan Hutan Pusuk, Lombok Barat.
“Bagaimana mengubah pola pikir warga terhadap alam, dan mendapat manfaat ekonomi dari alam, itulah yang membuat saya harus pulang,” ujar Lukman.
Dalam kepercayaan masyarakat, Dusun Kerujuk memiliki magdet bagi warganya untuk pulang setelah merantau ke berbagai tempat. Kerujuk adalah kepiting air tawar yang muncul jutaan ekor dalam siklus 3 tahunan-5 tahun di dusun itu. Versi lain menyebutkan kerujuk berasal dari bahasa Arab yang berarti kembali, “Mungkin arti kerujuk yang membuat saya pulang, hehe,” ucap Lukman, menambahkan.
Lukmanul Hakim
Lahir : di Dusun kerujuk, 25 januari 1988
Istri : Nurazima
Orangtua : H. Ahmad-Salkiah
Pekerjaan : Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Mataram
Pendidikan :
- SDN 8 Pemenang Barat (2000)
- Madrasah Sanawiyah Menggala, Desa Pemenang Barat (2003)
- Madrasah Aliyah Al Hakim, Sesela, Gunungsari, Lombok Barat (2006)
- Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Mataran (2011)
- S-2 Fakultas MIPA jurusan Biologi UIN Semarang (2015)
Sumber : Kompas. 9 November 2017. Hal 16
