Ma, Boleh Pakai Make Up. Jawa Pos. 8 Januari 2017.Hal.36

SURABAYA – Bukan anak perempuan namanya kalau tidak membutuhkan make-up. Biasanya minat anak untuk memoleskan make-up tumbuh saat memasuki masa puber. Tapi, sah-sah saja latihan dulu memakai peralatan make-up anak yang berukuran serbamini. Berbagai produk versi anak belakangan menjamur di pasaran. Kemasan, tekstur, dan warnanya mirip dengan make-up sungguhan.

Dalam mengaplikasikan make-up, biasanya anak meniru perilaku orang dewasa. Tak heran, alat make-up seperti kuas, sikat alis, sampai sikat bulu mata memiliki bentuk yang sama atau mirip dengan yang asli. Hanya, kandungan dan tekstur warnanya sedikit berbeda.

Misalnya, salah satu eye shadow pallet milik Jade Hartono, 5. Jika dilihat sepintas, warna-warna eye shadow tampak nyata. Begitu dipoleskan ke kulit, warna yang tercetak sangat samar. Beberapa bagian bahkan hanya diisi glitter bening. “Aku pengen bikin video tutorial make-up. Aku udah bisa dandan sendiri tiap hari,” ujarnya sambil memulaskan kuas blush on ke pipinya. Karena warna blush on sangat soft, bungsu dua bersaudara itu mengulangnya berkali-kali.

Jade mengerti tahap demi tahap cara ber-make up. Teknik penempatannya pun sudah tepat. Lipstik di bibir, blush on di pipi, dan maskara untuk bulu mata. Pertama, dia memoleskan compact powder di pipi dan dahi. Setelah itu, Jade mengambil maskara yang di dalamnya terdapat cairan kental bening. Bocah mungil itu lalu memejamkan matanya dan mengoleskan maskara di bulu mata. “Untung warnanya bening ya. Jadi, nggak kotor kalau belepotan,” ucap sang mama, Elly Mayasari.

Setelah bosan bermain dengan maskara, Jade mengambil lipstik berwarna merah terang. Gagang lipstik diputarnya. Dia memonyongkan mulut dan memoleskan lipstik tersebut secara tak beraturan. Wajar saja kalau make-up-nya masih berantakan.

Elly mengaku tidak hobi tata rias. Dia juga heran mengapa putri bungsunya itu suka berdandan. “Jade suka nonton tutorial make-up di Youtube. Belajarnya mungkin ya dari itu,”tambahnya.

Sementara itu, psikiater anak dr Yunias Setyawati SpKJ(K) menjelaskan, ada masa anak meniru lingkungannya. Hal itu dilakukan pada usia sekolah. Sekitar usia 5-12 tahun. “Pada usia tersebut, anak mulai mengaplikasikan apa yang dilihat. Dia ingin seperti mama atau papanya,” jelasnya.

Pada usia tersebut, si anak memang terlihat ingin seperti orang dewasa. Misalnya, memakai make-up. Sebenarnya dalam ber-make-up, si anak belum mengerti kegunaannya. Anak tidak bermaksud untuk berpenampilan cantik, apalagi untuk menarik lawan jenis.

Si kecil hanya mengartikan bahwa ber-make up merupakan kegiatan yang dilakukan perempuan. Dia hanya meniru apa yang dilihatnya. “Oh mama atau orang dewasa di sekitarnya melakukan kegiatan itu, maka dia meniru,” tuturnya.

Psikiater RSUD dr Soetomo tersebut menyarankan orang tua tetap memantau. Si anak pun diberi pengertian kenapa dan kapan harus menggunakan make-up. (lyn/esa/c7/nda)

 MAKE-UP AMAN UNTUK ANAK

  1. Hindari membeli make-up dari produsen yang tidak jelas.
  2. Pilih make-up yang mencantumkan bahan baku dan izin dari BPOM.
  3. Kenali kondisi kulit si kecil. Jika perlu, konsultasikan ke dokter spesialis kulit.
  4. Pantau pemakaian pada anak. Kenalkan kondisi seperti apa yang harus tampil dengan make-up dan tanpa make-up.
  5. Perhatikan jika mulai ada tanda kulit bermasalah seperti gatal dan muncul warna merah, segera hentikan make-up.

 

Sumber: Jawa Pos. 8 Januari 2017.Hal.36