Dari singapura, jenazah almarhum langsung dibawa ke Jakarta dan tiba di Ciputra Artpreneur, Kuningan, Jakarta Selatan, pada pukul 22.50.

Jenazah taipan itu disemayamkan disatu-satunya pusat seni di Indonesia yang memiliki teater Internasional tersebut.

Jenazah disambut keluarga serta kolega. Sang istri Dian Sumeler rak Nampak hadir tadi malam saat persemayaman. Namun, keempat anak Ciputra, menantu, cucu, dan para cicit berkumpul. Ciputra meninggalkan istri, 4 anak, 4 menantu, 10 cucu, dan 7 cicit.

Suasana haru terus menyelimuti keluarga besar. “Kami sangat kehilangan sosok Ayah, kakek, dan pimpinan yang menjadi suri Teladan bagi keluarga dan keluarga besar dari grup Ciputra,” Ujar Rina Ciputra Sastrawinata yang merupakan putri pertama almarhum.

Perempuan yang juga menjabat direktur PT Ciputra Surya, direktur PT Ciputra Development, dan Presiden direktur Ciputra Artpreneur tersebut tak bisa menyembunyikan kesedihan. Siang hari ini (28/11) keluarga rencananya baru memberikan keterangan melalui jumpa pers yang digelar di Ciputra Artpreneur atas kepergia komisaris utama PT Ciputra Development Tbk itu.

Tim Jawa pos kemarin juga mendatangi Singapura. Sesampai disana, jenazah Ciputra berada di Singapore casket service sebelum diterbangkan ke Jakarta. Tempat tersebut merupakan layanan salon pemakaman yang terkemuka dinegara itu.

Keluarga Ciputra berangkat ke Jakarta dengan Maskapai Garuda Indonesia pada pukul 20.20. kabar keberangkatan itu didapat jawa pos dari Duta Besar Indonesia di Singapura I Gede Ngurah Swajaya kemarin.

Saat jawa pos mendatangi Gleneagles Hospital Singapore, pihak rumah sakit enggan membeberkan penyakit dan lamanya perawatan. Salah satu resepsionis yang ditemui menyatakan bahwa hal itu adalah privasi pasien.

Namun, menurut informasi yang dikumpulkan jawa pos, Ciputra mengalami Pneumonia. Oenyakit itu adalah inflamasi adalah paru-paru.

Swajaya menyatakan, selama perawatan, keluarga Ciputra tidak meminta pendampingan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Singapura. “Kami hanya membantu urusan surat dan pastikan kepulangannya hari ini (kemarin, red),” ujar Swajaya.

Sosok Ciputra meninggalkan kesan mendalam bagi orang-orang terdekatnya. Hal itu diutarakan Priono, salah seorang sopir keluarga Pak Ci, sapaan akrab Ciputra. “Bapak itu baik sekali, perhatian sama karyawan. Karyawan semua ngak boleh sakit, ngak boleh telat makan. (Kami) selalu ada medical check up setiap tahun,” ujar dia kepada jawa pos.

Pria yang telah mengabdi sebagai sopir keluarga selama 10 tahun itu menyebut pak Ci selalu sigap jika ada karyawannya yang sakit. “langsung disuruh periksa kerumah sakit,” imbuh dia yang juga merupakan sopir pribadi anak sulung Pak Ci, yakni Rina Ciputra Sastrawinata, itu. Begitu mendengar kepergian atasanya, Priono mengaku kaget dan sedih. “sedih sekali, bapak orang baik,” katanya.

Bukan hanya keluarga dekat, kolega dan para rekan bisnis pun mengaku kaget. Komisaris dan Founder Crown Group Iwan Sunito mengatakan, berpulangnya Ciputra merupakan kehilangan besar bagi Indonesia. “saya kira, bukan hanya saya dan keluarga besar Ciputra, melainkan seluruh bangsa Indonesia merasa kehilangan sosok yang humanis dan inspiratif seperti beliau,” katanya kemarin.

Bagi Iwan, Ciputra bukan sekadar sosok yang dikagumi, melainkan juga mentor yang luar biasa  dan figure legendaris. Bahkan, Iwan mengenang pertemuan terakhirnya dengan Ciputra saat mengadakan sesi foto untuk persiapan bukunya. “dan seperti kemarin saja rasanya,” ujar Iwan.

Ketika mendengar kabar Maestri property itu berpulang, seluruh anggota persatuan Perusahaan Relestat Indonesia (REI) memberikan penghormatan terakhirnya pada pembukaan musyawarah Nasional REI 2019 kemarin. Penghormatan terakhir dipimpin menteri Agraria dan tata ruang/badan Pertahanan Nasional (ATR/BPN) Sofyan Djalil dengan mengheningkan cipta.

“kita berdoa bersama, semoga almarhum mendapat tempat yang mulia disisi Tuhan,” ujar Sofyan katika memimpin mengheningkan cipta.

Ketua Umum Relestat Indonesia (REI) Soelaeman Soemawinata menyebut pak Ci sebagai mahaguru semua pengembang Real Estat di Indonesia. “kita melihat-nya dari dua sisi,” katanya.

Bagi dia, pak Ci adalah pengusaha andal. Dia menyebut Ciputra sukses dengan konsep-konsep pengembangan kawasan perumahan yang selalu menginspirasi kalangan property.

“Kemudian, pak Ci itu juga yang memprakarsai platform atau organisasi REI sehingga organisasi ini bsia disegani dari dulu sampai sekarang,” katanya.

Dikutip dari Forbes, keluarga Ciputra masuk daftar orang terkaya 2018 diposisi ke-27. Saat ini nilai kekayaan Ciputra tercatat mencapai 1,3 milliar dollar AS atau setara dengan Rp 18,3 trilliun (kurs Rp 14.000)

Dalam acara the 5 Annual Jakarta Marketting Week 2017 pada medio Mei 2017, Pak Ci menyebut seorang pengusaha sukses menerapkan tiga prinsip yang disebut IPE. IPE yang dimaksudkan adalah intgritas, professionalism, dan entrepreneur. Prinsip itu juga diterapkan dalam menjalankan bisnis di Grup Ciputra.

Peraih doctor honoris causa bidang teknik dari Universitas Tarumanegara Jakarta  itu menjelaskan, ada berbagai cara untuk memangkas kesenjangan. Diantaranya ialah pendidikan dan pelatihan pada buruh. Dengan begitu keahlian, produktivitas, serta pendapatan akan meningkat.

Namun, menurut dia, hal itu merupakan upaya jangka pendek. Sebab, diukur berdasar upah minimum. “yang benar dapat mengatasi kesenjangan tersebut adalah entrepreneurship,” ujar dia.

Pak Ci memandang entrepreneurship merupakan usaha untuk memberikan nilai tambah. Mendiang juga bercita-cita dapat menciptakan lebih banyak entrepreneur di Indonesia, yakni generasi muda yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi diri sendiri.

“kaki lima bukan entrepreneurship, buka toko kelontong taka da nilai tambah. Entrepreneurship yang menurut kami mengubah jadi emas,” tuturnya.

 

Telepon langsung, Ngajak makan, atau lewat SMS

Saya mengingat satu hal. Beliau (Pak Ci, Red) mengatakan kalau sudah komitmen untuk membina, baik memberi sumbangsih berupa materi maupun ide, beliau akan tetap komitmen sampai berhasil. Sampai menyumbangkan pemain yang berprestasi untuk Indonesia. Itu sudah terbukti,” tutur Rudy.

Pemilik delapan gelar All England tersebut menilai pak Ci sebagai orang yang sangat berjasa dalam perkembangan bulu tangkis Indonesia. Komitmennya dibuktikan dengan lahirnya juara-juara dunia seperti susy susanti hingga Hendra setiawan. Banyak atlet yang lahir dibina PB Jaya Raya.

“Itu hanya untuk bulu tangkis, beliau juga berjasa dibidang lain seperti pendidikan,” kata Rudy. Hal itulah yang patut dicontoh dari sosok Ciputra. “beliau konsisten dan bisa menghasilkan atlet berprestasi yang terus ada bibit-bibitnya sampai nanti,” lanjutnya.

Rudi menuturkan, semangat Pak Ci terus hidup melalui PB Jaya raya. Klub tersebut saat ini menjadi salah satu klub besar ditanah air. Setiap tahun rutin digelar turnamen usia muda seperti pembangunan Jaya raya Junior Grand Prix. “kami memang kehilangan. Tetapi komitmen ini akan jalan terus. Beliau sebagai panutan yang harus dicontoh para penerusnya. Semoga ini menjadi motivasi bagi generasi penerusnya untuk lebih berprestasi bagi dalam bidangnya,” katanya.

Hendra setiawan mengakui bahwa kesuksesannya dibulu tangkis tidak bisa dipisahkan dari sosok Pak Ci. Atlet 35 tahun itu memulai perjalanan karir di PB Jaya Raya. Tidak sekadar kenal, bapak tiga anak itu juga memiliki kedekatan yang cukup mendalam dengan sosok pak Ci.

Semasa sehat, pak Ci pernah mengajak beberapa atlet Jaya Raya sekadar makan bersama. Tidak sering. Hanya dikala Hendra dkk memiliki waktu luang disela-sela padatnya jadwal turnamen. “terakhir ketemu awal tahun ini. Waktu itu saya dikasih buku otobiografi beliau. Setelah kejuaraan dunia, saya sebenarnya berencana menjenguk beliau. Berhubung waktunya ngak pas, jadi belum sempat juga sempat  juga sampai sekarang,” sesal Hendra.

Juara Dunia empat kali itu ingat betul bagaimana pak Ci selalu memberikan ucapan selamat ketika dia (Hendra) menjadi juara dunia tahun ini. Padaha;, saat itu pak Ci tengah sakit. “seringnya beliau telepon langsung. Biasanya dilakukan kalau sang juara saja. Soalnya standar pak Ci itu tinggi. Tapi, waktu jadi juara dunia hanya komunikasi melalui SMS,” ungkap Hendra.

Sesibuk apapun, pak Ci selalu memberikan semangat dan motivasi. Jika tak bisa dilakukan secara langsung, support itu disampaikan lewat layanan pesan singkat. “beliau pernah bilang, walau sering juara, jangan cepat puas. Selalu haus akan gelar. Kamu lagi kalah, katanya, sudah ngak apa-apa, nanti pertandingan berikutnya coba lagi. Jangan putus asa,” kenang peraih emas Olimpiade 2008 Beijing tersebut.

Terlalu banyak momen yang pernah dilalui Hendra bersama Pak Ci. Tidak hanya dekat, pak Ci juga begitu perhatian. Termasuk pada atletnya yang berhasil berprestasi dikancah dunia. Kalau juara, pasti diberi bonus.

Ada suatu momen yang tidak dilupakan Hendra, yaitu ketika dirinya merebut Emas Asian Games 2014 bersama Ahsan. Melalui sambungan telepon, pak Ci berujar, “selamat sudah juara. Ini bikin saya bangga dan Jaya Raya bangga. Tetap semangat. Semoga kedepan bisa jadi juara lagi diturnamen-turnamen berikutnya.”

Doa itu terkabul. Hingga saat ini Hendra dan Ahsan menjadi ganda putra terbaik kedua dunia. Usia tidak menghalangi mereka untuk berprestasi. Tapi Hendra tetap bersiap jika saatnya gantung raket tiba.

“beliau lebih banyak kasih wejangan. Pas terakhir ketemu saya sempat Tanya, ‘setelah ngak main mau jadi apa? Apa saya bisa masuk jadi entrepreneur? Beliau mendukung dan malah menyarankan saya masuk ke sekolah dia buat diajarin berbisnis,” papar Hendra.

Sementara itu, bagi Susy susanti, pak Ci tidak hanya pendiri Jalan Raya. Dia merupakan sosok ayah yang begitu perhatian kepada anak asuhnya.

“jasa-jasa beliau luar biasa sekali untuk bulu tangkis,” katanya. Mulai perhatian, nasihat, hingga dukungan dana yang terus menerus dalam membina atlet-atlet muda. “dari dukungan itulah muncul juara-juara baru yang telah mengharumkan nama Indonesia,” sambung perempuan yang kini menjabat Kabid Binpres PBSI itu.

Susy tercatat menjadi pemain binaan PB jaya Raya pada 1985. Prestasinya terbilang mentereng. Selain meraih emas Olimpiade Barcelona 1992, dia ikut mengantar Indonesia merebut piala Sudirman 1989 serta piala Uber pada tahun 1994 dan 1996.

 

Satu blok dengan Makan Orang Tua dan Mertua

Disitu berdiri monument Yesus Memberkati seperti yang ada dimanado, Sulawesi Utara. Tiga makam lainnya terletak disisi Utara. Ketiganya adalah saudara Ciputra. Salah satunya sang kakak Tjie Tjin Hok, yang wafat 23 Desmber 2012.

Memorial Park tersebut selesai dibangun sekitar awal 2018. Tujuh anggota keliarga yang telah meninggal kemudian dipindah kepemakaman keluarga tersebut.

Hingga kemarin sore belum terlihat persiapan khusus dimemorial park untuk pemakaman pak Ci. Hanya tampak empat patok merah sebagai penanda letak makam Begawan property tersebut. Satu blok dengan orang tua dan mertuanya, persis didepan Monumen Yesus Memberkati yang menghadap ke Barat.

Pak Ci sengaja membangun monument tersebut untuk mengenang penderitaan rakyat Manado ketika perang fisik 1942 – 1945. Termasuk dia yang harus kehilangan sang ayah saat berusia 12 tahun. Tjie Siem Poe ditangkap pasukan Jepang lantaran dituduh sebagai mata-mata Belanda. Akhirnya, Tjie Siem Poe harus mendekam dan meninggal didalam sel tahanan.

Pengurus memorial Park Mat Arsin menuturkan, belum ada instruksi lebih lanjut terkait pemakaman Pak Ci. “hanya dikabari (bahwa) Pak Ci wafat. Terus memasang patok merah,” kata pria yang akrab disapa Arsin itu. Pihak keamanan Citra Indah juga mengunkapkan belum ada koordinasi khusus untuk protoker pihak keluarga besar Ciputra.

Suryoso, pengelola memorial park lainnya, menceritakan bahwa pak Ci sangat mencintai kawasan Citra Indah, insinyur lulusan Intitut Teknologi Bandung tersebut memiliki memori indah ditempat itu.

Ketika terjadi krisis moneter 1998, kerusuhan meledak. Beberapa tempat usahanya terdampak. Misalnya, mal ciputra di Tanjung Dures dan Taman Impian Jaya Ancol. Bahkan Bank Ciputra akhirnya ditutup. “tapi Citra indah terkena imbas. Masih bertahan. Itu memorinya. Makanya beliau cinta dengan Citra Indah ini.” Papar pria asal Temanggung itu.

 

“Kiai Langitan” dibisnis Properti

Banyak juga yang diperantauan hanya jadi beban orang lain atau sesame perantau dari satu daerah asal.

Tapi, saya memang tidak bisa membayangkan kalau Ciputra setiap tinggal didesanya yang terpencil di pojokan Sulawesi Utara. Begitu jauhnya sehingga desa itu sudah nyaris berada di Sulawesi Tengah.

Jauh dari manado, ibu kota Sulawesi Utara, jauh dari Palu, ibu kota Sulawesi Tengah. Kalau saja Ciputra tetap terikat dengan desanya yang damai, yang pantainya senang, yang nyiur-nyiurnya melambai-lambai, barangkali kalau toh dia tetap jadi pengusaha, kelasnya tidak akan seperti sekarang.

Usia saat merantau saya kira juga amat menentukan. Dia meninggalkan desanya menuju Jawa – lambang kemajuan saat itu ketika tamat SMA. Dia ingin memasuki perguruan tinggi negeri Jawa. Maka masuklah ia ke Institut Teknologi Bandung (ITB).

Sejak kecil dia sudah merasakan kesulitan dan kepahitan hidup. Terutama saat bapaknya ditangkap penjajah dan tidak pernah kembali.

Kalau saja momentum merantau ku terjadi saat ia sudah berumah tangga, apalagi saat sudah agak tua, tentu akan berbeda sekali juga. Merantau pada usia tamat SMA adalah munculnya kebebasan dan rasa tanggung jawab secara bersamaan. Ia bebas berbuat apa saja karena tidak ada rasa sungkan apapun pada lingkungan.

Juga tidak rasa keterikatan pada keluarga. Ia bebas! Mau baik atau mau rusak. Tapi bagi Ciputra kebebasan yang ia peroleh dia ikuti dengan munculnya rasa tanggung jawab.

Suatu saat kelas, Ciputra harus menceritakan momentum yang membuat dia tidak hanya merasa bebas berada di perantauan. Tapi juga apa yang membuat dia mengimbangi kebebasan dengan sebuah tanggung jawab.

Apakah karena harus mencari makan sendiri? Harus membiayai sekolah sendiri? Ataukah malu kelak dinilai gagal oleh kampung halaman yang ia tinggalkan (dan merasa suatu saat akan kembali kesana?). atau adakah rasa tanggung jawab karena didikan sejak kecil? Atau apa?

Saya sering juga mencontohkan mengapa merantau diusia yang tepat menjadi salah satu kunci sukses dalam berkarir. Itu karena si perantau bisa berkonsentrasi penuh pada karirnya.

Berada di kampung halaman, terlalu banyak aturan yang kalau tidak jalani dianggap tidak sopan. Misalnya ia harus tidak masuk kerja karena tetangganya atau keluarga dekatnya sunatan, kawinan, kesusahan. Padahal kerabat dan tetangganya banyak sekali. Bergiliran saja acara seperti itu.

Kadang kala juga harus “jagongan” sampai larut malam. Sebuah kearifan yang tidak produktif sama sekali. Sebagian bisa menjadi candu (kalau tidak jangongan tidak bisa tidur). Sebagian bisa dianggap sebagai orang yang kurang bersosialisasi.

Bagi perantau hal semacam itu tidak aka nada. Biarpun keluarganya dikampung sunatan, dia sah saja tidak hadir. Tidak aka nada yang mengatakan tidak sopan. Paling hanya kalau keluarga amat dekat punya gawe saja yang harus didatangi. Dan itu sangat jarang.

Tentu banyak juga orang yang merantau, tapi sama sekali kesulitan memutuskan romantisme kampung halaman. Dia merantau tapi pikirannya terus berada dikampungnya. Tiap saat dia pulang kekampungnya.

Penghasilannya hanya dikonsentrasikan untuk bagaimana bisa membiayai pulang kampung. Jading penyebabnya tidak sebanding. Sebab dikampung masih punya sedikit sawah atau sebuah rumah kecil yang kosong. Tapi, ada juga yang karena alasannya sangat masuk akal. Ibunya seorang diri dan sudah umur.

Ciputra adalah perantau yang sempurna. Dia juga mendapatkan kebebasan, tapi juga memunculkan rasa tanggung jawab pada dirinya, Ciputra sukses melampaui zaman apa saja: Bung Karno, Pak Harto, dan zaman reformasi.

Dia sukses membawa perusahaan daerah maju, membawa perusahaan sesame koleganya maju, dan akhirnya juga membawa perusahaan keluarganya sendiri maju.

Dia sukses menjadi contoh kehidupan sebagai seorang manusia. Keliuarganya boleh di bilang amat sempurna. Rukun dengan istrinya, anak-anaknya, menantu-menantunya, dan cucu-cucunya.

Gairah inovasi membuat bisnisnya terus berkembang. Dia the best dibidangnya. Sebutan dia adalah “kiai langitan” untuk sekitar tersebut.

Ketika akhirnya memikirkan pengabdian masyarakat apa yang harus dia besarkan, dia pilihlah pendidikan. Sekolah dan Universitas Ciputra.

Tentu ditengah sudah begitu banyaknya sekolah dan Universitas akan terasa biasa saja. Tapi Ciputra mencoba menemukan value dibidang tersebut: sekolah yang menitik beratkan pada Entrepreneurship. Bukan sekolah biasa.

Ini juga akan jadi puncak pengabdian masyarakat yang sudah sejak lama dia terjuni: olahraga (khususnya bulu tangkis), kesenian (Khususnya patung dan lukis), serta dibidang keagamaan.

Dengan sekolah kewirausahaan dia ingin menyiapkan bangsa ini menjadi bangsa pengusaha! Ciputra dilahirkan dari keluarga pengusaha. Dia tumbuh menjadi pengusaha. Dia menciptakan lingkungan keluarganya jadi pengusaha. Dan ini akan menciptakan masyarakatnya jadi masyarakat pengusaha.

 

Pencinta seni yang visioner

Menurut toto, bukti bahwa Ciputra mencintai seni bisa dilihat di Ancol. Disana Pak Ci memiliki sebuah tempat khusus seni. Namanya kampung Seni. Disana para seniman bisa berkreatif dan memamerkan karya mereka dengan leluasa.

Ciputra juga mendirikan Ciputra Art preneur, sebuah pusat seni yang terdiri atas teater, galeri, dan museum. Teater Ciputra artpreneur merupakan teater pertunjukan berskala internasional 1.157 tempat duduk. Ciputra art preneur juga memiliki galeri dan exhibition center 1.500 meter persegi.

“beliau juga kolektor lukisan Hendra Gunawan, asal tahu saja pak Ci memiliki 125 lukisan Hendra Gunawan atau sekitar 50 persen dari total lukisan yang pernah dilukis Hendra. Dari situ beliau membuat banyak patung yang inspirasinya ya dari Hendra Gunawan,” papar pria 58 tahun tersebut.

Salah satu karya orisinil pak Ci adalah patung entrepreneur yang berada dihalaman Universitas Ciputra. Patung berlambang dua pemuda-pemudi berdiri diatas bola dunia itu memiliki sebuah makna. Toro mengungkapkan, pesan dari patung tersebut adalah Ciputra ingin lulusan universitasnya mampu menjadi entrepreneur kelas dunia.

Hasil karya Ciputra lainnya adalah bangunan performing art preneur di Citraland Surabaya. Namanya Ciputra Ciputra Hall dengan kapasitas 700 orang. Ciputra berharap bangunan itu bisa menjadi salah satu gedung pentas seni terbaik di Surabaya. “saya kira sampai sekarang masih tetap jadi gedung pentas seni terbaik di Surabaya. Bisa dipakai saja. Tarifnya juga murah,” jelas toto yang mengenal pak Ci sejak bergabung dengan Ciputra Group pada tahun 1989.

Salah satu karya lainnya dibidang olahraga adalah PB Jaya Raya yang sudah melahirkan banyak atlet bidang bulu tangkis. Salah satunya adalah susi susanti. “PB jaya raya dilahirkan Pak Ci melalui sayap usaha PT Pembangunan Jaya,” terang toto.

Bisnis Ciputra tidak hanya berkembang di Jakarta, tapi juga merambah keberbagai daerah di Surabaya. Ciputra mengawali bisnis property dengan mengembangbiakan proyek Citraland.

Menurut toto, pengembangan Citraland Surabaya dimulai pada 1988. Saat itulah dimodal pengurusan perizinan. Lokasi Citraland Surabaya dipilih sendiri oleh Ciputra. “Beliau visioner, melihat jauh kedepan, juga confidence dan beramal. Ketika kami semua belum bisa membayangkan, pak Ci sudah bisa melihat,” tuturnya. Misalnya, Citraland Surabaya kala itu belum memiliki akses dan saluran air. Namun, pak Ci dengan optimis justru berbelanja tanah dikawasan Surabaya barat. Tanah yang semula tidak ada peminatnya itu akhirnya berkembang pesat menjadi kawasan perumahan besar.

Proyek property yang dikembangkan Ciputra yang dikembangkan Ciputra memiliki kekhasan. Bukan secara fisik, tapi lokasoi proyek yang dikembangkan cukup besar didaerah tersebut. “meski tidak perumahan sebesar, tapi setidaknya nomor dua terbesar didaerah itu,” jelasnya. Lahan yang luas memudahkan untuk memaksimalkan pengembangan lengkap dengan segala fasilitasnya.

“pak Ci itu suka keindahan. Karena itu, proyek yang dikembangkan selalu rapi dan indah,” lanjut sutoto, sampai akhir hayatnya, pak Ci masih menjabat komisaris utama. Meski tidak intens, setidaknya dalam setahun pak Ci masih bertemu dengan para direksi. Dalam pertemuan itu, dia selalu memberikan arahan, visi, dan ide-ide untuk pengembangan baru.

“jadi, tiap ada proyek besar masih memberi warna,” kenangnya.

 

Sumber: Jawa Pos. 28 November 2019