Mahasiswa Desain Tak Lagi Sekadar Pamer Karya Tapi Menciptakan Solusi Nyata untuk Gen Z dan Industri Kreatif
23 Mei 2026
PR SURABAYA – Program Studi Visual Communication Design di Universitas Ciputra Surabaya kembali mencuri perhatian lewat gelaran Outlining Design 2026 bertema CH2OMA.
Bukan sekadar pameran tugas akhir biasa, ajang ini menjadi panggung lahirnya brand dan creative venture mahasiswa yang siap masuk ke pasar nyata.
Melalui konsep CH2OMA, mahasiswa tidak hanya memamerkan karya visual, tetapi juga menghadirkan solusi kreatif berbasis riset, strategi branding, pengalaman audiens, hingga pengembangan bisnis yang aplikatif.
Pendekatan ini memperlihatkan bagaimana desain komunikasi visual berkembang menjadi disiplin yang mampu menjawab tantangan sosial, budaya, hingga kebutuhan industri kreatif modern.
Pameran yang digelar di Ciputra World Surabaya pada Jumat, 22 Mei 2026 tersebut menghadirkan berbagai proyek inovatif dari mahasiswa semester akhir.
Mulai dari permainan edukasi bertema sustainability dan nutrisi, mainan interaktif berbasis gerak untuk anak, material seni handmade, aplikasi produktivitas digital, edukasi keamanan siber anak, hingga lini streetwear independen yang menyasar pasar anak muda.
Mahasiswa UC Surabaya Dorong Desain Jadi Solusi Nyata Bukan Sekadar Pajangan
Ketua Program Studi Visual Communication Design Stevanus Christian Anggrianto menegaskan bahwa paradigma desain saat ini harus melampaui sekadar visual yang menarik.
Menurutnya, mahasiswa didorong untuk menciptakan karya yang relevan dengan kondisi sosial dan kebutuhan pasar saat ini.
Karena itu, tugas akhir di VCD UC tidak berhenti sebagai karya konseptual, tetapi diarahkan menjadi solusi desain yang terintegrasi dengan branding, strategi komunikasi, hingga model bisnis kreatif.
Ia menilai keberagaman karya mahasiswa membuktikan bahwa pendidikan desain mampu melahirkan gagasan aplikatif yang responsif terhadap isu keberlanjutan, kesehatan mental, literasi digital, hingga budaya generasi muda.
“Desain bukan hanya menciptakan karya estetis, tetapi harus punya fungsi lebih sebagai solusi kreatif yang berdampak bagi masyarakat,” ujarnya.
Isu Mental Health Jadi Sorotan Lewat Aplikasi dan Media Reflektif Gen Z
Salah satu karya yang mencuri perhatian datang dari Nicole Clarence melalui proyek bertajuk Scribesoul.
Aplikasi tersebut dirancang guna membantu generasi muda lebih terbuka terhadap persoalan kesehatan mental.
Nicole menilai banyak Gen Z masih memilih memendam masalah pribadi akibat stigma sosial dan rasa takut mendapat penilaian negatif dari lingkungan sekitar.
Karena itu, ia menghadirkan platform yang memungkinkan pengguna terhubung dengan terapis sekaligus memiliki fitur journaling digital untuk membantu mengekspresikan emosi secara lebih sehat.
“Dari hal tersebut akhirnya saya membuat aplikasi ini dengan tujuan untuk membuat mereka-mereka ini bisa lebih terbuka dengan dirinya,” ucap Nicole.
Menurutnya, journaling menjadi salah satu metode efektif untuk membantu seseorang memahami dan mengelola kondisi emosionalnya secara perlahan.
“Kemudian yang tadi saya juga mention ada journaling, dimana journaling ini cukup efektif untuk membuat orang ini lebih mengekspresikan dirinya,” tutup Nicole.
Soul Quest Hadirkan Pendekatan Reflektif untuk Generasi Muda yang Sulit Bercerita
Isu serupa juga diangkat oleh Celine Christie lewat proyek Soul Quest. Media kreatif tersebut menggabungkan refleksi diri dengan elemen terapi ringan untuk membantu anak muda menghadapi tekanan emosional sehari-hari.
Celine menyebut banyak anak muda memiliki masalah pribadi namun kesulitan untuk berkomunikasi secara terbuka. Melalui Soul Quest, pengguna diajak menjalani perjalanan reflektif yang lebih personal dan emosional.
“Melalui Soul Quest ini aku jadi lebih interested untuk lebih lanjut menulis refleksi Ini kayak ada alur yang sedih, jadi ini tuh lebih ke masalah mental health ringan sih,” terang Celine.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bagaimana desain kini mampu menjadi jembatan antara teknologi, empati, dan kebutuhan psikologis generasi modern.
CH2OMA Tegaskan Masa Depan Desain Ada pada Inovasi dan Kewirausahaan
Outlining Design 2026: CH2OMA menjadi bukti bahwa pendidikan desain tidak lagi terpaku pada estetika visual semata.
Kolaborasi antara kreativitas, teknologi, sustainability, dan kewirausahaan kini menjadi fondasi baru dalam membentuk desainer masa depan.
Lewat karya-karya inovatif mahasiswa, Universitas Ciputra Surabaya menunjukkan bahwa tugas akhir dapat berkembang menjadi produk, layanan, hingga bisnis kreatif yang relevan dengan kehidupan masyarakat dan siap bersaing di era ekonomi kreatif digital.***

