Pewarta: Agoes Tinus Lis Indrianto (CR-203) | Editor: Dhina Chahyanti
TIMESINDONESIA, BANYUWANGI – Mahasiswa Hotel and Tourism Business Universitas Ciputra atau UC Surabaya angkatan 2019 dan 2020 melakukan perjalanan wisata atau fieldtrip perdana selama pandemi di Banyuwangi, Jawa Timur.
Kegiatan yang mengusung tema “Wanderlust, wondering where we lost!” ini diikuti 83 mahasiswa yang dibagi menjadi 2 kloter. Pada kloter pertama dimulai tanggal 15-18 November dan kloter kedua pada 18 -21 November 2021.
Perjalanan ini merupakan bagian dari proses belajar yang wajib bagi mahasiswa. Setelah tertunda selama kurang lebih satu setengah tahun karena pandemi, program National Field Trip yang diadakan oleh prodi Hotel and Tourism Business Universitas Ciputra ini akhirnya dapat terlaksana dengan mematuhi protokol kesehatan selama perjalanan wisata berlangsung.
Tujuan kegiatan ini memberikan pengalaman secara langsung kepada mahasiswa Hotel and Tourism Business Universitas Ciputra dalam mengatur sebuah perjalanan wisata seperti bertugas menjadi Tour Guide hingga Tour Leader.
Menurut Rizki Adityaji, S.S.,Magister Pariwisata, dosen Hotel and Tourism Business yang menjadi koordinator dari kegiatan ini, proses safe travelling dimulai sebelum perjalanan di mana seluruh mahasiswa serta dosen pendamping yang mengikuti kegiatan National Field Trip melakukan Tes Antigen dan wajib sudah vaksin 2 kali sebelum berangkat.
Setiap mahasiswa mendapatkan new normal kit berupa masker, hand sanitizer, dan lain sebagainya yang dapat mereka gunakan selama perjalanan wisata berlangsung. Terdapat juga Divisi Health yang selalu mengingatkan mahasiswa untuk memperhatikan protokol kesehatan sehingga perjalanan wisata tentunya dapat terlaksana dengan aman di tengah pandemi.
Perjalanan hari pertama dimulai dari Surabaya menuju Banyuwangi yang ditempuh selama kurang lebih 6 jam perjalanan. Selama perjalanan, setiap mahasiswa berkesempatan untuk melakukan Guiding, dimana mahasiswa melakukan praktek secara langsung dalam menjadi Tour Guide atau pemandu wisata yang memberikan informasi mengenai sebuah destinasi wisata.

Malam harinya, mahasiswa berkesempatan melakukan Gala Dinner dengan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi, MY Bramuda. Pada sesi pertemuan kali ini, mahasiswa dapat belajar mengenai pengembangan pariwisata di Banyuwangi dan memperoleh informasi tentang destinasi menarik yang ada di Banyuwangi.
Di hari kedua, perjalanan pertama menuju ke De Djawatan Forest. Hutan ini memiliki pesona yang eksotis dimana terdapat ratusan pohon trembesi raksasa yang membuat tempat ini terlihat seperti Fangorn Forest, hutan yang muncul dalam film Lord of the Rings.
Tidak hanya menikmati pemandangan dan berswafoto, mahasiswa juga dapat mengelilingi De Djawatan dengan sensasi lain yakni menaiki delman. Setelah selesai beraktivitas, perjalanan dilanjutkan ke Red Island dan menikmati pemandangan pantai dengan deburan ombak yang sangat indah.
Pada hari ketiga, mahasiswa melakukan aktivitas yang menarik. Sesampainya di Grand Watu Dodol, mahasiswa menaiki kapal dan menyebrang menuju ke Pulau Tabuhan. Pulau Tabuhan adalah pulau tak berpenghuni yang menawarkan keindahan alam dan berbagai aktivitas menarik.
Di perairan yang bening ini, mahasiswa melakukan aktivitas snorkeling untuk melihat keindahan bawah laut dan biota laut yang ada. Kemudian, mahasiswa melanjutkan perjalanan ke Rumah Apung Bangsring, tempat penangkaran hiu.
Mahasiswa dapat melihat hiu dan berbagai jenis ikan lainnya. Yang menarik, saat melemparkan makanan ikan ke laut, berbagai jenis ikan akan bermunculan ke permukaan. Setelah puas beraktivitas di laut, perjalanan dilanjutkan menuju Agrowisata Kalibendo.
Saat tiba di 1911 Cafe & Resto, mahasiswa dijamu singkong dengan saus telur asin serta teh atau kopi yang sangat pas dinikmati setelah beraktivitas di air. Mahasiswa juga berkesempatan untuk mengikuti tour mengelilingi pabrik karet dan kopi serta melihat secara langsung proses pembuatan karet dan kopi. Beberapa dari mereka bahkan ikut berpartisipasi secara langsung dalam pembuatan karet dan kopi seperti melipat gulungan karet dan memilah biji kopi.
Destinasi wisata pada hari keempat sangat menantang dan begitu dinantikan oleh para mahasiswa yaitu Ijen yang terkenal akan keindahan kawahnya dan sunrise yang mempesona. Mahasiswa berangkat pada tengah malam dan begitu tiba, mereka disambut dengan hawa yang sangat dingin.

Tetapi hal tersebut tidak menghentikan semangat mahasiswa dalam melakukan pendakian. Mereka bergegas melakukan pendakian agar dapat menikmati sunrise di puncak Gunung Ijen. Jalur pendakian sudah tertata dengan baik dan aman, namun karena jalur menanjak, dibutuhkan tenaga ekstra untuk mencapai puncak dan itu tidak mudah terutama bagi pemula. Dalam pendakian, mahasiswa tentunya saling menjaga satu sama lain.
Pemandangan langit yang indah bertaburan bintang pada malam hari juga membakar semangat mahasiswa dalam melakukan pendakian. Begitu tiba di puncak, waktunya bertepatan dengan matahari yang akan terbit dan mereka dapat menyaksikan fenomena sunrise yang sinarnya perlahan menyinari dan menunjukkan keindahan Kawah Ijen. Perjuangan mahasiswa dalam melakukan pendakian pun terbayarkan oleh pemandangan Kawah Ijen yang begitu mempesona.
Disampaikan oleh Rachel Augie, sebagai salah satu peserta National Field Trip ini yang menyatakan bahwa banyak pengalaman baru yang didapatkan oleh mahasiswa khususnya dalam merencanakan dan menjalankan perjalanan wisata selama pandemi. Dia merasa perjalanan kali ini dapat mendukung kelanjutan karier mahasiswa di masa depan untuk membantu berkontribusi dalam memajukan pariwisata di Indonesia.
Selain itu, kegiatan National Field Trip membuat mahasiswa saling bekerja sama dan lebih mengenal satu sama lain yang mungkin tidak akan terjadi tanpa berjalannya kegiatan ini. National Field Trip ini juga menunjukkan bahwa perjalanan wisata masih dapat dilakukan dengan aman di masa pandemi sehingga adanya pandemi bukanlah suatu hambatan bagi dunia pariwisata apabila dilakukan dengan mengedepankan safe travelling.
Dalam hal ini safe traveling meliputi pengaturan kapasitas tempat duduk dalam perjalanan untuk menjaga jarak, memilih sarana akomodasi dan resto yang menerapkan dan tersertifikasi CHSE (Clean, Heath, Safety and Environmental Sustainability).
Semua peserta wajib antigen dan sudah vaksin dua kali, termasuk para driver dan crew yang melayani perjalanan. Selama perjalanan, tentu saja memakai masker dan menggantinya selama 4 jam sekali dan mencuci tangan menjadi sebuah kewajiban mutlak setiap mahasiswa yang mengikuti fieldtrip UC Surabaya ini. (*)

