Mahasiswa UC & Disabilitas Malang Angkat Batik Topeng ke Panggung Fashion Kontemporer
1 Mei 2025
jatim.jpnn.com, SURABAYA – Ketika empati diterjemahkan dalam karya, hasilnya bisa menjadi jembatan antara kreativitas dan kemanusiaan.
Hal itulah yang dilakukan mahasiswa Fashion Design and Business (FDB) Universitas Ciputra Surabaya di bawah bimbingan dosen Janet Teowarang, dalam proyek kolaboratif bersama Yayasan Dmart Tithiek Tenger, lembaga sosial yang menaungi anak-anak berkebutuhan khusus di Kota Malang.
Proyek itu lahir dari keprihatinan atas produk batik Topeng Malangan karya para artisan disabilitas Yayasan Dmart yang dinilai belum memiliki nilai jual tinggi serta kurang diminati pasar muda.
Melihat potensi besar di balik keterbatasan, Janet bersama para mahasiswanya berinisiatif membeli tiga lembar kain batik bermotif berbeda dari para artisan, lalu mengolahnya menjadi karya fashion kontemporer berkonsep inklusif dan berbudaya.
Dalam mata kuliah Fashion and Culture, kain batik yang berukuran 2,5 m x 1,20 m dipindai menggunakan scanner beresolusi tinggi, kemudian dicetak dalam ukuran mini menggunakan tinta ramah lingkungan. Hasil cetakan diaplikasikan ke media boneka Barbie, sebagai bagian dari eksplorasi desain yang terinspirasi dari sejarah fashion dunia yang dimodernisasi.
“Dari kreasi miniatur itulah lahir interpretasi nyata berupa tiga koleksi busana yang memukau,” ujar Janet.
Koleksi pertama karya Vallysha Christian Happy dan Jennifer Christella Wijaya, terinspirasi gaya feminin tahun 1940–1950-an. Siluet A-line, atasan putih berkerah tinggi, dan aksesori elegan menciptakan nuansa vintage yang berkelas, berpadu dengan motif batik khas Malang.
Koleksi kedua karya Gusti Agung Istri Krisna Kirana Kepakisan dan Audriana Clarissa, membawakan semangat era 70-an yang berani dan penuh warna. Celana flare dari batik kontemporer, atasan halter, dan warna-warna psychedelic menciptakan gaya bohemian-ethnic yang segar dan atraktif.
Koleksi ketiga hasil karya Rebecca Hagia Pranoto dan Melanie Gunawan Puteri, mengusung siluet khas 1950–1960 berupa balloon skirt yang dinamis. Atasan sleeveless dengan aksen pita dan kerah dihiasi batik motif topeng menciptakan kesan feminin klasik yang tetap kekinian.
Tak hanya menciptakan busana, para mahasiswa juga melakukan re-desain motif batik yang ada, agar lebih relevan dengan selera generasi muda. Hasilnya, motif-motif ini tampil lebih hidup, segar, dan siap menyasar pasar yang lebih luas.
Pada Sabtu (26/4), karya itu dipresentasikan langsung kepada Ketua Komisi D DPRD Kota Malang Eko Hardiyanto. Dia mengapresiasi tinggi atas kolaborasi tersebut.
“Ini contoh nyata inklusivitas dan kreativitas bisa berjalan berdampingan. Komisi D mendukung penuh pelestarian budaya yang juga memberdayakan masyarakat rentan,” ujar Eko.
Ketua Yayasan Dmart Djoko Rendy menyampaikan kebanggaannya atas kerja sama ini.
“Teman-teman disabilitas kami mendapat pengalaman berharga dalam menciptakan karya besar. Ini wujud nyata kolaborasi lintas komunitas yang memberdayakan,” jelasnya.
Sebagai tindak lanjut, Yayasan Dmart kini mendapat ruang penjualan karya batik di gedung DPRD Kota Malang. Janet berharap nilai tambah dari desain ini akan meningkatkan penghasilan artisan disabilitas.
Dimas Rachmadhani, salah satu artisan batik disabilitas, mengungkapkan rasa bangganya.
“Saya lihat desainnya bagus luar biasa. Favorit saya desain kelompok 1 dan 2, warnanya bagus,” ungkapnya. (mcr12/jpnn)

