Sumber:https://surabaya.pikiran-rakyat.com/metrolife/pr-3929853703/mahasiswa-uc-surabaya-sulap-sayur-asem-jadi-keripik-renyah-bikin-gempar-dunia-kuliner-di-akhir-2025?page=3

Mahasiswa UC Surabaya Sulap Sayur Asem Jadi Keripik Renyah Bikin Gempar Dunia Kuliner di Akhir 2025

10 Desember 2025

PR SURABAYA – Tak ada yang menyangka bahwa aroma segar sayur asem, hidangan rumahan yang melekat dalam ingatan keluarga Indonesia bisa berubah menjadi keripik renyah berwarna cokelat keemasan yang kini mencuri perhatian dunia.

Tiga mahasiswa Teknologi Pangan Universitas Ciputra (UC) Surabaya berhasil menciptakan inovasi yang langsung menembus panggung internasional.

Mereka adalah Devina Angela, Melvina Tjan, dan Cindy Kristina, trio inovator muda yang berhasil membawa “Oat Chips Sayur Asem” masuk Top 4 SIAL Innovation 2025, kompetisi inovasi pangan bergengsi berskala global.

Dari Aroma Dapur Nusantara ke Panggung Dunia

Inovasi ini bermula dari pencarian rasa autentik Indonesia yang bisa bersaing dengan tren pangan internasional.

Dosen pembimbing, Mitha Ayu Pratama Handojo, mengungkapkan bahwa proyek ini lahir dari keinginan menghadirkan identitas kuliner lokal yang tidak sekadar unik, tetapi punya daya jual global.

“Korea bangga dengan kimchi, Jepang punya matcha. Indonesia? Kita punya banyak rasa khas, dan sayur asem adalah salah satu yang paling ikonik,” ujarnya.

Hasilnya adalah camilan berbentuk bulat dan tipis yang renyah, sehat, serta kaya serat, kaya sayur, tapi tetap “nge-snack banget”.

Teknologi Pangan Bertemu Tradisi, Semua Serat Sayur Diolah, Tidak Ada yang Terbuang

Keistimewaan camilan ini tidak hanya pada rasanya yang kecut-segar seperti sayur asem, tetapi juga metode pengolahannya:

Seluruh bahan sayur digunakan tanpa limbah: labu siam, jagung, dan kubis dihaluskan bersama oat.

Tanpa minyak: keripik dikeringkan 20 jam pada suhu 80°C dengan mesin dehydrator.

Serat alami tetap utuh, vitamin terjaga.

Devina menjelaskan bahwa tantangan terbesar ada pada keseimbangan tekstur dan bumbu.

“Kami ingin keripik tetap renyah, tapi rasa sayur asemnya tidak hilang. Segar, sedikit asam, tapi tetap gurih,” jelasnya.

Keripik ini hanya mengandung 20 kkal per 20 gram, dengan serat tinggi dan tanpa minyak, menjadikannya camilan sehat yang cocok untuk diet.

Berawal dari Eksperimen Biasa, Berbuah Prestasi Internasional

Sebelum hadirnya keripik sayur asem, tim ini sempat bereksperimen membuat keripik stroberi, nanas, hingga jagung.

Namun dorongan menciptakan rasa yang benar-benar “Indonesia banget” membawa mereka kembali ke hidangan Nusantara.

Saat melihat peserta Korea Selatan membawa produk kimchi, mereka semakin yakin: Indonesia pun harus tampil dengan rasa kebanggaannya sendiri.

Perjuangan mereka membuahkan hasil. Dari puluhan peserta dari Korea, Malaysia, Filipina, hingga Indonesia, Oat Chips Sayur Asem melaju ke 10 besar, lalu masuk Top 4 SIAL Innovation, sebuah capaian langka bagi mahasiswa.

“Penggunaan sayur asli sebagai keripik sehat adalah terobosan yang kini dicari pasar global,” puji Kaprodi Teknologi Pangan UC, Mitha Ayu.

Laris di Media Sosial, Siap Dipatenkan

Meski diproduksi skala kecil, keripik ini kini mulai dijual melalui media sosial dengan sistem pre-order. Harganya: Rp25.000 per kemasan 20 gram.

Saat dipamerkan di Jakarta, permintaan melonjak hingga mencetak omzet dua digit. Ketiganya kini tengah mengurus paten produk dan menyiapkan varian rasa baru untuk memperluas pasar.

“Ini bukan sekadar keripik, tapi cara kami memperkenalkan kekayaan rasa Indonesia ke dunia,” ujar Cindy.

Generasi Muda, Inovasi Besar

Kisah tiga mahasiswa ini membuktikan bahwa kreativitas, teknologi pangan, dan kecintaan pada kuliner lokal bisa melahirkan produk berkelas global.

“Inovasi ini hanyalah langkah awal. Dunia sedang mencari pangan masa depan, dan anak muda Indonesia siap bersaing di sana,” tutup Mitha.***