
Oleh Ekuslie Goestiandi (Pengamat manajemen & Kepemimpinan)
Seorang pengusaha senior pernah bertutur bahwa ia bercita-cita membangun perusahaan yang tak hanya besar, namun sekaligus juga bermartabat. Ini sebuah tantangan dangan kesulitan tingkat kuadrat. Membesarkan perusahaan saja begitu sulit, apalagi harus di tambah lagi dengan kesadaran menjaga martabat organisasi. Akan tetapi, seperti bunyi pepatah bijak,” sulit bukan berarti tak bisa. Justru di balik kesulitan, terletak tantangan dan peluang”. Demikian pula yang menjadi kepercayaan sang pengusaha tersebut.
Prihal “kebesaran” perusahaan, rasanya tak sulit bagi kita untuk membayangkannya. Ukuran-ukuran kuantitatif, semisal nilai penjualan, angka keuntungan, jumlah karyawan, sebaran wilayah operasi bisnis, dan nilai kekayaan sang pengusaha, adalah indicator yang dapat kita lihat dengan jelas. Bagaimana dengan “martabat” organisasi? Apapula ukurannya? Bagi sang pengusaha, walaupun tak dapat di takar secara kuantitatif, namun jelas dapat di bangun secara kualitatif.
Martabat organisasi tercermin dari keutamaan-keutamaan positif yang di tunjukkan oleh organisasi, semisal kepemimpinan yang penuh tanggung jawab dan integritas, budaya yang sehat dan produktif, sistem kerja yang rapid an transparan, dan karyawan yang kompeten nankompak. Keutaman-keutamaan seperti ini memang tak mudah di ukur dengan angka, namun sangat bisa dilihat dan di rasakan oleh public di sekitarnya.
Perusahaan yang bermartabat tak hanya sekedar eksis di tengah-tengah komunitas bisnis, namun juga stand-out dan mendapatkan “tempat tersendiri” di mata public. Dan, kalu sudah demikian halnya, kesempatan perusahaan untuk menciptakan dampak (creating difference) pun menjadi terbuka. Bukankah semestinya tujuan sebuah organisasi bisnis tak hanya mendatangkan manfaat bagi pemilik dan karyawannya, namun juga bagi komunitas sekitarnya. Masyarakat luas, bahkan juga dunia secara keseluruhan.
Ini bukanlah sebuah utopi, karena toh saat ini sudah ada perusahaan-perusahaan yang mendapatkanpengakuan sebagai organisasi pengubah dunia alias change the world- company, semisal Apple, Toyota, Novartis, Unilever, dan juga Go Jek dari Indonesia (Fortune September 2017)
“Your kids share your last name, not your business and properties”
Menjaga martabat diri
Sejatinya, urusan martabat tak hanya lekat pada sebuah organisasi. Setiap entitas hidup, entah itu individu, keluarga, komunitas, masyarakat, dan bahkan bangsa, juga memiliki martabat. Salah satu pelopor gagasan “martabat” (dignity) adalah Immanuel Kant, filsuf besar dari Jerman. Bagi Kant, setiap fasilitas yang di miliki atau dinikmati manusia mempunyai “harga” sendiri-sendiri.
Keinginan manusia terhadap sesuatu, apakah itu barang, jasa bahkan juga kedudukan dan jabatan, memiliki “harga” yang dapat disertakan dengan “nilai” tertentu. Kita membeli sebuah produk dan layanan, maka kita akan membayar sejumlah “nilai” tertentu. Sama halnya pula, karya seseorang dalam kedudukan dan jabatan tertentu, akan di tebus dengan bayaran sejumlah “nilai” tertentu pula.
Namun, bagi Kant, ada satu milik manusia yang tidak dapat di hargai dengan sejumlah “nilai” tertentu, yakini martabat.
Martabat adalah pantulan sejati dari kemanusiaan itu sendiri. Yanpa martabat, seorang manusia tak lebih dari sesosok tubuh, sekalipun ia menggenggam harta yang melimpah, kuasa yang menumpuk dan popularitas yang mengguncang.
Makanya, tidaklah mengherankan, bila kita melihat sosok yang punya nama besar,namun senantiasa berjalan menunduk; punya kekuasaan, tapi khawatir bersua khalayak banyak; punya harta, malah di hantui rasa bersalah. Bahkan karena merasa “dikejar-kejar”, diam-daim melipir lewat pintu belakang, tak sanggup berjalan tegak lewat gerbang utama. Padahal, seperti kata pepatah bijak knowing when to walk away is wisdom; being able to, is courage. Walking away with your head held high is… dignity.
Bebarapa waktu yang lalu, secara kebetulan saya menerima kiriman pesan seorang sahabat. Bunyinya, your kinds share your last name, not your business and properties. Sang sahabat tak menjelaskan makna di balik kalimat bersayap tersebut. Saya mencoba merenung, dan akhirnya mengamini isinya. Dalam tafsir pribadi, saya mengartikan kalimat tersebut sebagai pesan untuk menjaga martabat diri. Karena, pada akhirnya, anak cucu kita akan mewarisi, dan menyandang “nama keluarga” (di belakang “nama pribadi”), bukannya menyandang harta dan kepemilikan atau jabatan kita di belakang mereka.
Harum tidaknya nama keluarga, sangatlah tergantung kepada martabat yang kita jaga, bukan kepada harta dan kekuasaan yang kita punya. Apalagi, bila seluruh kepunyaan tersebut di peroleh dengan cara-cara yang tak pantas.
Sumber: Tabloid-kontan,27 November 2017,- Halaman 29
