Oleh F Rahardi, Pengamat Agribisnis

 

Menjelang Hari Kasih Sayan (Valentine’e Day) 14 Februari 2018 lalu, seklompok mahasiswa Bogor berunjuk rasa, menyebut cokelat sama dengan maksiat. Orang boleh setuju atau tak setuju dengan pendapat itu. Pertanyaany, mengapa hanya cokelat?

Padahal ada dua komoditas yang identic dengan Hari Kasih Sayang: cokelat dan mawar lebih kuat dari pada cokelat. Mawar sudah dikenal sejak zaman sumeria, mesir, dan Babilonia. Sementara hari Valentin baru pada abad 14 (decade 1.300).

Pada zaman Yunani dan Romawi kuno, mawar sudah menjadi symbol kasih saying. Diduga, mawar sudah mulai dibudidayakan di daratan china pada tahun             5.000 SM. Kemudian tahun 3.000 SM mawar berkembang di Timur Tengah, sebagai elemen taman, buket, persembahan, dan didestilisasi untuk diambil minyaknya.

Belakangan, variasi mawar makin beragam. Di Jawa ada mawar tabor. Mawar merah dan putih yang ditetik setelah mekar, untuk ditaburkan di makam saat berziarah, atau saat pemakaman. Selain untuk ziarah dan pemakaman, mawar tabor juga di gunakan sebagai sarana sesasji tujuh bunga. Ada pula mawar pagar, karena digunakan sebagai pembatas taman. Mawar pagar juga dirambatkan di gerbang, gazebo, oergola, lengkungan lorong taman, dan patio.

Perkebungan mawar potong

Untuk destilasi, mawar tabor Bandungan dan mawar Damaskus, dipetik setelah mekar. Sementara mawar valentine, sama dengan mawar untuk vas dan rangkaian, dipetik saat masih kuncup, menjelang mekar.

Sebelum decade 1989, mawar belum lazim untuk vas dan rangkaian. Waktu itu agroindustri bunga masih sebatas sedap malam  dan aster untuk masyarakat bawah; dan gladiol dahlia lily putih serta krisan tunggal untuk kalangan atas. Aster diproduksi di beberapa lokasi, sedap malam di produksi di Bangil, Bandungan dan Cicuruh. Galdiol, dahlia, lily putih dan krisan tunggal diproduksi di Bandungan.

Pada decade 1980, masuklah benih, teknologi, danmodal agroinustri bunga potong dari Aalmeer, Belanda. Sejak itulah krisan sprai berkembang pesat. Mawar yang dulunya tak laku di pasaran, mulai dibudidayakan. Hasfarm salah satu pemain yang serius menekuni mawar potong, dengan membuka kebun di Goalpara, Sukabumi, Jawa Barat. Beberapa pengusaha pernah masuk ke agroindustri mawar potong, tapi bertumbang. Salah satunya haryanto Dhanutirto, mantan Menteri Negara Urusan Pangan, dan Menteri Perhubungan di era Soeharto.

Meskipun sudah ada mawar Hasfarm yang memasok ke pasar kembangRawa Belong, namun untuk memenuhi kebutuhan pada hari raya tertentu, atau ketika ada tokoh meninggal, Indonesia masih mengimpor mawar.

Pada awak decade 2000, Hasfarm memindahkan kebun mawarnya ke Dallat, Vietnam. Sejak itulah Indonesia “krisis mawar”. Padahal pada decade 2000, tren merayakan Valentine mulai marak di kalangan remaja kota besar di negeri ini. Dan, Valentine identic dengan mawar, selain cokelat.

Melihat peluang ini seorang pengusaha membangun greenhouse mawar di Pengungan Halimun, Jawa Barat. Mawar Halimun ini diberi nama Nirmala Rose, karena di lokasi itu juga ada kebun teh Nirmala. Praktis sejak itu, Bungan mawar potog yang beredar di kota – kota besar Indonesia, terutama Jakarta, merupakan produk Nirmala Rose. Sama dengan produk anggrek Phalaenopsis yang merajai pasar Indonesia, hampir 100% berasal dari kebun Ekakarya di Cikampek, Jawa Barat. Pendatang baru sulit untuk masuk ke bisnis dua jenis bunga ini.

Sejak decade 2000 itu, produksi mawar nasional terus naik, meskipun  kadang juga terjadi fluktuasi. Badan Pusat Statistik mencatat produksi mawar Indonesia 2005 sebesar 60.719.517 tangkai. Tahun 2006 turun menjadi 40.394.027 tangkai. Tahun 2007 naik lagi menjadi 59.492.699 tangkai. Tahun 2008 kembali turun ke 39.265.696 tangkai. Tahun 2009 naik lagi menjadi 60.191.362 tangkai. Tahun 2010 kembali naik menjadi 82.351.332 tangkai. Kemudian 2011 turun lagi menjadi 74.319.773. Tahun 2012 kembali turun ke angka 68.624.998 tangkai. Setelah greenhouse baru Nirmala Rose berproduksi, tahun 2013 produksi mawar nasional melonjak menjadi 152.0066.469 tangkai. Tahun 2014 naik menjadi 173.077.811 tangkai, 2015 naik lagi menjadi 188.302.152 tangkai, tapi di 2016 turun jadi 181.884.630 tangkai.

Produksi mawar tahun 2016 itu sebanyak 56,5 ton diekspor dengan nilainya Rp US$ 481.381,82. Dengan kurs Rp 13.300, nilainya Rp  6,4 miliar.

Kita agak suli memperkirakan beraoa persen produksi mawar nasional yang dikonsumsi dalam negeri, dan berapa persen yang diekspor. Sebab Kementerian Pertanian menyajikan data per tangkai, sementara Kementerian Perdagangan mencantumkan kilogram.

Tetapi praktis impor mawar kita hampi total berhenti. Selama 2016 impor mawar kita hanya 3,1 ton denga nilai US$ 39,361 (Ro 523,5 juta).

Anggrek yang justru keok. Produksi anggrek nasional 2016 sebesar 19,9 juta tangkai, berada jauh di bawah produksi mawar 181,8 juta tangkai. Bahkan disbanding produksi sedap malam yang pada tahun 2016 sebanyak 117 juta tangkai, danmelati 31 183 991 kilogram, anggrek masih sangat ketinggalan. Dampak dari kecilnya produksi anggrek nasional, selama 2016 kita masih mengimpor komoditas ini sebesar 24,3 ton dengannilai US$ 142.244 (Rp 1,8 miliar). Sebagian besar anggrek yang kit aimpor jenis Dendrobium, sebab yang dihasilkan Ekakarya jenis Phalaenopsis. Jadi produksi bunga nasional tertinggi adalah krisan, menyusul mawar, sedap malam, melati, dan anggrek. Gerbera, gladiol, anthurium, anyelir dan helikonia; masih berada di bawah anggrek.

Anggrek potong untuk Valentine selalu berwarna merah hati, sangat jarang yang warna pink atau oranye. Mawar merah memang paling umum diproduksi di dunia maupun di Indonesia. Menyusul pink, oranye, dan putih. Mawar putih biasanya masuk ke floris sebagai rangkaian atau unutk vas. Jarang orang membawakan mawar putihkepada orang yang di cintainya.

Sebenarnya, selain Nirmala Rose, tetap ada petanin yang menanam mawar potong, tetapi dalam skala kecil. Para petani krisan dan bunga potong lainnya, sebagian juga membudidayakan mawar. Tetapi disbanding Nirmala Rose, produk si mawar para petani itu relative kecil

Sumber: Tabloid-Kontan.26-Februari-4-Maret-2018.Hal_.23