PUSTAKAWAN Universitas Ciputra Surabaya Chrisyandi Tri Kartika mengatakan, untuk denah berbentuk empat persegi panjang dan konstruksi bentuk Basilika dibangun oleh arsitek Huswit-Fermont. Gereja baru dengan daya tampung 900 orang itu diberkati oleh Mgr Edmundus Sybrandus. Luypen, SJ pada 21 Juli 1921. “Jumlah umat Katolik saat itu 2.000 orang.” katanya kepada Radar Surabaya. Chrisyandi menambahkan, tahun 1982 jumlah umat semakin meningkat dan paling banyak menggunakan mobil, akibatnya halaman gereja yang dari tanah menimbulkan debu yang sangat mengganggu. Maka atas kesepakatan Romo Paroki, dilakukan pengaspalan seluruh halaman gereja yang selesai pada bulan Juli 1982.

“Agar umat merasa benar-benar berdoa secara khusuk dalam devosi kepada Bunda Maria maka pada tanggal 15 Januari 1982 Romo Paroki, Romo Dr Reksosubroto mengemukakan gagasan untuk mendirikan Gua Maria, namun baru tanggal 8 Desember 1987 bisa terwujud,” katanya

Menurutnya, pada bidang sosial ekonomi dibentuk Koperasi Kredit (Kopdit) Warung Broto yang diresmikan pada tanggal 28 September 1989 dengan pemberkatan oleh Pastor Paroki Romo Dr Reksosub roto. Kemudian dibuka resmi pada 2 Oktober 1989 dengan jumlah anggota 36 orang. Kopdit ini berkarya di lingkungan pengemudi-pengemudi becak, penjual rokok, bahkan guru-guru sampai ibu-ibu rumah tangga. (bersambung/nur)

 

Sumber: Radar Surabaya. 28 September 2021. Hal.6,7.