Memahami “Airport Photography”
TIPS & CATATAN
Arbain Rambey
Fotografi yang sudah demikian berkembang dalam kehidupan sehari-hari terus menelurkan cabang-cabang baru. Genre fotografi terbagi dalam beberapa kelompok besar, yaitu kelompok lokasi (street photography, aerial photography, underwater photography), kelompok subyek (model still life, animal), dan juga kelompok cara (high speed, slow speed, infrared).
Dan khususnya kelompok lokasi, ada cabang yang sesungguhnya tidak baru, tetapi baru mulai marak akhir-akhir ini, yaitu airport photography. Dulu, memotret di bandara bukanlah sesuatu yang lazim karena belum banyak orang yang memiliki kamera atau juga belum banyak orang yang merasa bahwa memotret di bandara adalah sesuatu yang menarik.
Juga, di masa lalu kebanyakan bandara sekaligus merupakan bandara militer. Secara umum, di bandara militer orang memang dilarang menggunakan kamera karena alasan keamanan dan rahasia negara. Kini, di badanra sipil, area yang memang tidak dizikan untuk memotret adalah area imigrasi serta bea dan cukai, dengan alasan keamanan dan privasi.
Baiklah, kini memotret di bandara memang sangat populer. Tengoklah betapa banyak orang menggunakan kamera di sana. Bahkan ada pepatah yang mengatakan bahwa “tembok bandara mendengar tangis dan doa tulus lebih banyak daripada tembok rumah ibadaha”. PT Angkasa Pura II (Persero/0, salah satu badan usaha milik negara yang bergerak di bidang layanan terkait dengan bandara di Indonesia bagian barat, dalam rangka hari ulang tahunnya yang ke-29 tahun ini, mengadakan lomba foto tentang bandara. Hasilnya sungguh mengejutkan. Bandara ternyata bisa sangat fotografis dan menakjubkan secara visual seperti tampak di halaman ini.
Memotret bandara bisa anda lakukan saat take off, menjelang mendarat dari kursi anda di dalam pesawat, dalam perjalanan masuk pesawat, atau juga saat duduk-duduk di ruang tunggu. Bagaimanapun bandara.
Sumber Kompas 19 Agustus 2014 | Hal 36

