Memberdayakan Desa dengan Kincir Air.Kompas.28 Januari 2016.Hal.16

Pendidikan rendah bukan penghalang bagi seseorang untuk berguna bagi sekitarnya. Tanpa pemahaman rumit rumus-rumus matematika dan fisika, Irhamto (36), pemuda di pelosok Banjarnegara, Jawa Tengah, membuat kincir sederhana untuk mengalirkan air bagi ribuan jiwa.

OLEH GREGORIUS MAGNUS FINESSO

 

Suatu siang, medio 2012, Irhamto menemukan titik balik dalam hidupnya. Saat itu ia hendak menumpang shalat Dzuhur di rumah kerabatnya di Desa Mertasari, Kecamatan Purwonegoro. Namun, tak ada air yang bisa ia gunakan untuk wudu. Padahal, tak jauh di bawah pemukiman warga, gemercik air terdengar jelas dari aliran sungai.

“Tidak ada air setetes pun. Untuk wudu, harus jalan kaki hingga 1 kilometer jauhnya menuju sungai di lereng bukit di bawah pemukiman,” ujarnya mengenang pengalaman tiga tahun silam.

Kegusaran Irhamto memuncak saat menyaksikan warga lanjut usia harus bolak-balik ke sungai dengan melintasi lereng jalan curam nan terjal demi mengangkut air dengan jeriken. Acap kali, mereka terpeleset dan terjatuh di jalan gelap dan licin.

Sulitnya mendapatkan air di Desa Mertasari memberatkan kehidupan warga. Hampir lima jam sekali, mereka harus bolak-balik turun-naik sungai untuk mengambil air. Ini tentu menyita banyak tenaga dan waktu. Akibatnya, produktivitas warga minim dan perekonomian lambat.

Tergerak dengan kondisi itu, Irhamto mulai saksama memperhatikan lingkungan di desa itu. Dia gemas. Desa ini sebenarnya dikelilingi aliran sungai dengan debit 30 liter per detik, tetapi warga justru sulit memanfaatkannya.

Kondisi itu terjadi karena posisi sungai jauh lebih rendah dibandingkan permukiman warga. Jaraknya lebih kurang 2 kilometer dengan beda ketinggian 200 meter.

Dari situ, terbesitlah ide untuk merangkai sebuah mesin sederhana yang dapat menaikkan air dari sungai ke atas. Hal itu dilakukan untuk mendekatkan limpahan air yang sehari-hari hanya dilihat warga tanpa mereka bisa menikmatinya.

 

Akrab dengan kegagalan

Irhamto bukanlah insinyur lulusan perguruan tinggi. Ia hanya memegang ijazah SMP yang diperolehnya melalui ujian persamaan Paket B. Selain itu, dia tujuh tahun hidup di pesantren. Sehari-hari, dia bertani kentang. Namun, kondisi itu tak menghambatnya untuk berbuat sesuatu bagi warga desa.

Ia bersemangat untuk belajar bagaimana membuat mesin yang bisa mengangkat air. Ia membuat kincir air dan berkali-kali gagal. Uang jutaan rupiah untuk riset dan membuat kincir pun menguap begitu saja. Namun, dia tidak kapok untuk mencoba dan mencoba lagi.

Berkat kegigihannya, awal 2013 Irhamto berhasil membuat kincir air pertamanya. Kincir air itu sederhana saja. Aliran air sungai dibendung agar lebih tenang. Selanjutnya, air dialirkan ke pipa utama, lalu masuk ke pipa sekunder yang memiliki beda ketinggian 200 meter.

Air yang deras kemudian memutar turbin dengan 16 penampang dan selanjutnya menggerakkan pompa piston. Pompa ini yang mampu menggerakkan air ke atas hingga sejauh 2 kilometer dengan ketinggian vertikal 300 meter. Air kemudian ditampung sebelum dialirkan ke rumah-rumah warga.

“Saya terinspirasi mesin pompa diesel yang banyak digunakan petani di Dieng untuk menyedot air. Hanya saja, saya berpikir untuk mengganti bahan bakar solar dengan aliran air yang deras,” ujar ayah dua anak itu.

Dari debit sungai 30 liter per detik, air yang terpompa mencapai 25 liter per menit. Artinya, dalam sehari dihasilkan sekitar 36.000 liter air.

Sukses membangun kincir pertamanya di Desa Mertasari, Irhamto mulai mengembangkan teknologi yang sama di beberapa desa lain.  Kincir-kincir itu dibagun di Desa Kepakisan, Kecamatan Batur, Desa Glempang, Kecamatan Mandiraja, dan Desa Winong, Kecamatan Bawang.

Kini, ribuan warga di ketiga desa tersebut bisa menikmati air yang diangkat kincir ciptaan pemuda itu. Tidak hanya memenuhi kebutuhan sehari-hari warga, kincir itu juga digunakan untuk keperluan pertanian dan perikanan.

Di Desa Glempang, puluhan rumah tangga menggantungkan perekonomian dari pembesaran ikan lele. Namun, mereka selalu terhambat pada penyediaan air untuk mengisi kolam-kolam ikan. Padahal, sumber air bukannya tidak ada yang dekat dengan lokasi desa. Hanya saja, posisinya berada dibawah kolam-kolam milik warga.

Warga di desa yang mendapatkan air dari kincir tenaga hidro itu juga berlatih mengelola manajemen pengairan secara swadaya. Mereka membayar iuran untuk perawatan instalasi kincir dan pipa. Mereka tak bergantung pada infrastruktur PDAM. Untuk menjaga agar tidak cepat rusak, warga mengatur operasional kincir.

“Saya menyerahkan mekanisme manajemennya kepada warga. Tetapi, untuk perawatan alat, saya terus mendampingi mereka,” katanya.

Pemuda-pemuda di desa dilibatkan dalam membuat kincir. Mereka biasanya membuat komponen-komponen kincir di rumah Irhamto sebelum dipasang di lokasi.

 

Batubana

Irhamto menamai kincir buatannya dengan nama Batubana, singkatan dari Batur Banjarnegara. “Saya ingin mengangkat nama tempat kelahiran saya di Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara,” ucapnya sembari tertawa.

Kincir kreasi Irhamto pun mendapat apresiasi pada anugerah Kreai dan Inovasi Masyarakat (Krenova) tingkat Kabupaten Banjarnegara pada 2013. Setahun berikutnya, dia kembali mendapat juara pertama Krenova untuk tingkat Provinsi Jawa Tengah.

Hadiah menjuarai Krenova itu digunakan untuk membuat kincir air tenaga hidro di tempat lain. Maklum, biaya pembuatan kincir masih cukup mahal, berkisar Rp 45 juta sampai Rp 75 juta per unit.

Jiwa membangun desa memang lekat pada pemuda kelahiran Dataran Tinggi Dieng itu. Di antara aktivitas bertani kentang. Irhamto tetap bersemangat menjadi personel pengamanan swakarsa pariwisata Kompleks Dataran Tinggi Dieng.

Kini, lewat kincir Batubana, Irhamto berharap bisa memperluas jangkauannya berkarya. Dia tengah mengajukan proposal ke Kementrian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi untuk membangun 11 kincir serupa di desa lain di seluruh Nusantara.

“Masih banyak warga desa yang dekat dengan sumber air tanpa bisa menikmatinya. Saya ingin sedikit meringankan beban mereka,” ujarnya.

Selain mengangkat air, kincir Batubana kreasi Irhamto juga mampu menghasilkan listrik tenaga mikrohidro dengan daya 2 kilowatt. Kincir tenaga hidro Batubana karya Irhamto telah dipatenkan di Kementrian Hukum dan HAM. Dia membuktikan, pengetahuan tidak semata lahir dari bangku sekolah, tetapi juga eksplorasi tanpa henti di lapangan.

 

IRHAMTO

▪ Lahir : Banjarnegara, 20 Juli 1979

▪ Pendidikan Formal : SD Negeri Karangtengah, ujian persamaan Paket B (tingkat SMP)

▪ Istri : Ruminah (36)

▪ Anak :

  • Faqih Al Fajar (12)
  • Rahma (6)

▪ Penghargaan :

  • Juara 1 Kreasi dan Inovasi (Krenova) tingkat Kabupaten Banjarnegara (2013)
  • Juara 1 Krenova tingkat Provinsi Jawa Tengah (2014)
  • Mewakili Jawa Tengah pada Ristek Expo Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi di Jakarta (2015)

▪ Aktivitas : Ketua Pengamanan Swakarsa Pariwisata Kawasan Dataran Tinggi Dieng

UC Lib-Collect

Kompas. Kamis. 28 Januari 2016.Hal. 16