Memboyong Toko Roti Favorit Artis Korea

29 November 2021. Hal. 12

Erajaya Group mulai merambah bisnis baru di bidang F&B. Distributor gadget ini membuka cabang kafe bakery asal Korea Selatan, Paris Baguette.

Demam hallyu wave tampaknya memang benar-benar sedang melanda tanah air. Tak hanya pemain drama dan penyanyi asal Korea Selatan, budaya dan makanannya juga menjadi incaran konsumen di Indonesia.

Risa salah satunya. Seolah tak ingin ketinggalan dengan lainnya, karyawati swasta ini langsung bergegas menyambangi toko roti asal Korea, Paris Baguette, yang baru saja membuka gerainya di Jakarta. “Baru 2 hari atau 3 hari buka saya datang. Kan ini brand besar dari Korea,” cetusnya.

Rupanya Risa memang sudah lama penasaran dengan merek tersebut. Katanya, Paris Baguette sering diulas oleh video mukbang yang sering ditontonnya. Meski bukan tergolong pecinta drakor, tetapi ia cukup menyukai budaya dan makanan asal Negeri Ginseng.

Apalagi, menurutnya, kompetitor Paris Baguette, Tours Less Jours yang juga berasal dari Korea Selatan, sudah lebih dulu masuk Indonesia. “Nah, saya tertarik mencobanya juga karena itu,” timpalnya.

Beruntung saat datang, antrean tidak terlalu panjang. Hanya 15 menit menunggu dan pesanan pun datang. Menurutnya, dari segi rasa, rotinya memang enak, tetapi ia belum menemukan menu yang ‘wow’. Hnya, dari sisi harga, Paris Baguette sedikit lebih mahal ketimbang kompetitor.

Paris Baguette sebenarnya tergolong toko roti prancis legendaris asal Korea Selatan. Ia berdiri sejak tahun 1945 dengan nama Sangmidang, kemudian di tahun 1988 berganti nama jadi Paris Baguette.

Mungkin tidak banyak yang mengira, ternyata kehadiran merek roti ternama asal Korea ini diboyong oleh perusahaan retail gadget, Erajaya Group. Ini menjadi bisnis kuliber pertama yang dikembangkan setelah manajemen memutuskan membuat divisi baru dibidang F&B, supermarket, dan groceries di awal tahun 2020 lalu.

Erajaya membentuk anak usaha baru berjuluk Erajaya Food & Nourishment (EFN). Oktober lalu, manajemen EFN resmi meneken kesepakatan kerjasama dengan Paris Baguette untuk membuat perusahaan patungan yang diberi nama Era Boga Patiserindo (EBP). Sayang nilai investasinya tidak disebutkan. Perusahaan inilah yang akan mengelola gerai Paris Baguette di Indonesia.

Gabrielle Halim, CEO of Erajaya Food & Nourishment, bilang, keputusan Erajaya untuk mencoba bisnia baru di luar gadget bukan diambil dalam waktusingkat. Katanya, manajemen sudah mulai melakukan persiapan sejak sebelum pandemi Covid-19 dimulai. Namun hasil riset yang dilakukan di tengah pandemi malah menunjukkan kalau F&B menjadi salah satu pilihan member Erajaya.

Segmen F&B telah membuktikan kemampuannya bertahan di tengah situasi sulit. Walaupun hampir seluruh sektor bisnis cukup terdampak, tetapi kuliner mampu bangkit kembali dan peluang ke depannya masih cukup menjanjikan. “Prinsipnya kita selalu melihat peluang. Kalau peluang bagus, ya kita garap itu,” ujarnya.

Sayangnya saat ditanya seperti apa rencana pengembangan divisi anyar ini, Gabrielle bilang, sekarang ini pihaknya masih ingin fokus membesarkan merek Paris Baguette di Indonesia terlebih dulu. Pengembangan bisnis selanjutnya akan dilakukan berdasarkan hasil riset, uji kelayakan, dan potensi pasarnya.

Apakah nantinya akan membentuk perusahaan patungan lagi, atau akan membeli franchise atau mengembangkan merek sendiri, itu masih mungkin saja terjadi. Menurut Gabrielle, EFN terbuka untuk mengoperasikan dan mengelola restoran, kafe, supermarket, dan gerai kelontong (groceries). “Yang penting harus dipastikan dan secara jangka panjang menguntungkan,” cetusnya.

Demam Korea

Sebagai produk baru yang diboyong ke Tanah Air, Erajaya memilih memanfaatkan fenomena hallyu yang tengah mendunia. Pengaruh demam Korea yang sedemikian besar di kalangan masyarakat di Indonesia menjadi salah satu alasan pemilihan Paris Baguette sebagai proyek ekspansinya.

Kata Gabrielle, sekarang ini Paris Baguette merupakan cafe bakery nomor 1 di Korea Selatan. Jumlah gerainya sudah mencapai lebih dari 3.000. Bahkan tak hanya di Negeri Ginseng, merek ini juga sudah mampu masuk ke Prancis hingga Amerika Serikat. “Kalau bisa survive di Korsel dan Paris, kita semakin yakin dengan brand-nya,” imbuhnya.

Konsep pembentukan perusahaan patungan sengaja dipilih agar bisa mengembangkan Paris Baguette bersama-sama. Tidak seperti sistem franchise yang konsepnya sudah diatur sejak awal.

Di antara berbagai konsep yang dikembangkan di Korsel, EFN memilih mengadopsi konsep kafe yang mengincar segmen keluarga untuk dikembangkan di Indonesia. Pasae yang dibidik adalah B+. Ini tercermin dari pemilihan Astha District 8 di kawasan SCBD sebagai mal tempat beroperasinya Paris Baguette.

Meski tidak menggunakan selebriti Korea sebagai bintang seperti kebanyakan merek di Tanah Air yang sedang naik daun, tetapi manajemen punya cara sendiri untuk mempromosikan produknya. Erajaya memilih memanfaatkan tagline tidak langsung yang sudah terbangun selama ini, yang menyebut Paris Baguette sebagai toko roti favorit para artis Korea.

Sebelum resmi beroperasi di Indonesia, saat menggelar penerimaan karyawan untuk ditempatkan di Paris Baguette, Erajaya melalui akun instagramnya @erajaya_career sudah mulai mempromosikan merek ini dengan menampilkan drama Korea, The King. Drama seri ini mengambil toko roti Paris Baguette sebagai salah satu lokasi syutingnya.

Namun Gabrielle memastikan, walaupun mengadopsi merek besar dari Korea, tetapi pada akhirnya pengembangannya akan tetap disesuaikan dengan permintaan pasar di Indonesia. Ini jugalah yang membuat manajemen memilih mengembangkan konsep cafe bakery. “Di Korea, mereka punya banyak konsep, tetapi kami memilih konsep ini dulu. Kalau ada konsep lain yang diminati, pasti kami akan pertimbangkan,” terangnya.

Belum genap sebulan beroperasi, sejauh ini Paris Baguette telah cukup mendapatkan respons positif. Pengunjungnya datang dari konsumen yang belum pernah mencoba maupun konsumen yang pernah mencicipi Paris Baguette di negara asalnya. Ada yang makan di tempat ataupun untuk memesan dibawa pulang. Menu andalannya adalah peanut crumble red bean bread, tuna tartare croisant sandwich, dan Fresh cream cake.

Sayangnya sampai sekarang, kafe ini masih belum terkoneksi pada jaringan pesan antar. Gabrielle bilang, kalau memang konsumen menghendaki layanan ini nanti pihaknya juga akan membukanya. Katanya, manajemen juga sedang dalam tahap mengkaji untuk memasukkan bisnis barunya ini kedalam jaringan omnichannel Erajaya, Eraspace.

Menyesuaikan dengan peraturan pemerintah terkait pencegahan Covid-19, sekarang Paris Baguette hanya melayani 75% kapasitas outlet-nya untuk layanan makan di tempat. Jika beroperasi penuh, satu gerai ini bisa menampung sekitar 58 pengunjung.

Gabrielle cukup optimis prospek bisnis baru Erajaya ini masih cukup menjanjikan. Sebelum pergantian tahun, EFN akan kembali membuka gerai Paris Baguette di salah satu mal di kawasan Jakarta Selatan. Targetnya ada 2 gerai yang akan beroperasi di tahun ini.

Selain Paris Baguette, sebenarnya di bulan September lalu, Erajaya juga telah mengambil langkah strategis dengan melakukan investasi di Sushi Tei. Tanpa memerinci berapa dana yang ditanamkan, ini menjadi tonggak pertama yang menandai Erajaya masuk ke bisnis food & beverage (F&B).

Strategi tapi Ada Risiko

Erajaya Group baru saja memasuki lini bisnis barunya di bidang F&B. Setelah hanya menanamkan investasi pada jaringan restoran Jepang. Sushi Tei, kini manajemen memilih membuka gerai cafe bakery Paris Baguette di kawasan Jakarta Selatan.

Angga Ranggana Putra, pengamat manajemen Universitas Pertamina, melihat sekarang ini Erajaya Group sedang mengembangkan strategi bertumbuh. Pengembangan bisnisnya dilakukan dengan melihat sektor-sektor yang memiliki potensi besar. “Kalau ini dilihat bukan sekadar F&B, tetapi dari Koreanya,” ujarnya.

Beberapa tahun belakangan, apa pun yang berhubungan dengan Korea pasti akan ramai peminat. Tak heran kalau cara ini juga ditempuh Erajaya untuk memperluas jaringan bisnisnya. Waktu yang dipilih untuk memboyong Paris Baguette cukup tepat, mengingat pasar Indonesia juga sedang dilanda demam Korea.

Kendati begitu, Angga mengingatkan, langkah strategis ini juga memiliki risiko yang harus diwaspadai. Pertama, pada pemilihan produk roti. Menurutnya, penggemar roti di Tanah Air tidak sebanyak minuman ringan kekinian di Tanah Air. “Orang Indonesia juga jarang yang makan roti,” cetusnya.

Kedua, terletak pada harga. Harga jual Paris Baguette yang tergolong premium dinilai sulit untuk bisa diterima semua kalangan. Apalagi jika melihat sejarahnya, penggemar Korea di Indonesia rata-rata berasal generasi Z yang secara pendapatan belum sepenuhnya mapan. Mungkin mereka hanya akan membeli saat awal saja. Akan sulit untuk mendapatkan pembelian berulang mengingat harganya yang termasuk mahal. “Manajemen juga harus mencari harga yang tepat untuk menghadapi kompetitor,” pesannya.

Terakhir, yang perlu diingat adalah harus bersiap menghadapi pelemahan demam Korea. Bukan tidak mungkin suatu saat nanti tren Korea ini akan menghilang. Jadi manajemen harus punya cara sendiri untuk membangun brand ketika kondisi tersebut terjadi.

Live draw hk