Petani merupakan profesi yang sangat penting bagi keberlangsungan ketahanan pangan dunia. Akan tetapi, semakin sedikit generasi muda yang mau menekuni bidang ini. Oleh sebab itu, profesi petani harus dikemas menjadi seksi, layaknya bintang film ataupun foto model. Petani harus menarik perhatian.

OLEH LARASWATI ARIADNE ANWAR

Prinsip itu dipegang teguh oleh Cherrie Atilano (31), pendiri perusahaan agribisnis Agrea dan Yayasan Agrea yang berbasis di Pulau Marinduque, Filipina. “Profesi petani sama dengan pekerjaan lainnya. Harus dikembangkan dan di promosikan sesuai dengan perkembangan zaman,” kata atilano saat ditemui di Jakarta, akhir Oktober lalu.

Ia menjadi salah satu pembicara dalam Forum Pangan Asia Pasifik yang menampilkan pakar pertanian, kesehatan, pangan, dan berbagai bidang terkait dari wilayah Asia, Australia, dan Oseania. Acara yang diprakarsai oleh Kementerian Kesehatan dan Yayasan EAT dari Norwegia ini merupakan diskusi pangan terbesar di dunia.

Perjuangan Cherrie membuat anak muda menyukai bertani dilakukan melaui sekolah vokasi pertanian yang ia dirikan. Sekolah seluas 2 hektar ini berfungsi sebagai balai latihan terakreditasi pemerintahnya. Sekolah tersebut resmi mengantongi izin mengajar sejak 2015. Setiap angkatan kursus terdiri atas 25 orang yang merupakan putra-putra daerah Masrinduque.

Di sana, anak-anak muda tersebut mengikuti kursus selama 20-29 hari mengenai pertanian organik hingga peternakan ayam yang ramah lingkungan. Mereka juga mendapat pelatihan pembuatan pupuk ataupun ramuan pertanian organik. Ketika lulus, selain mendpat ijazah, mereka juga tidak dilepas begitu saja. Akan tetapi, mereka mendapat pelatihan untuk memulai usaha di bidang pertanian.

“Bentuknya berupa penyuluhan di bidang literasi keuangan, penanaman kesadaran membentuk keluarga petani sehat, dan penguatan organisasi petani,” papar Cherrie.

Ia percaya bahwa petani yang sukses tidak hanya karena faktor panen berlimpah, tetapi juga karena memiliki kemampuan manajemen kesejahteraan keluarga dan strategi bertani modern.

Bahkan, kini sekolah pertanian Agrea juga memberikan kursus pertanian selama libur sekolah kepada anak-anak “gedongan” dari perkotaan. Mereka diajarkan untuk peduli dengan makanan yang tersaji di piring setiap hari. Melalui kepedulian itu, anak muda perkotaan juga berkontribusi kepada nasib petani dan pelestarian lingkungan. Anak muda perkotaan harus mendapatkan pengertian bahwa keberadaan petani dan profesi petani adalah profesi yang penting dalam kehidupan dan harus mendapat perhatian semua pihak. Berkat merekalah berbagai sumber pangan diproduksi dan memberi penghidupan kepada konsumennya.

Anak petani

Kehidupan petani bukan hal baru bagi Charrie. Darah petani mengalir di dalam tubuhnya. Kedua orangtuanya dalah tuan tanah di Bacolod. Provinsi Negros Occidental, Filipina. Mereka memiliki lahan pertanian tebu. Tidak heran jika sejak kecil Cherrie kerap dibawah ayah untuk melihat-lihat kondisi lahan pertaniannya dan bertemu dengan para petani. Melalui ayahnya pula, ia belajar cara mengelola pertanian yang menguntungkan, baik bagi pemilik lahan, pekerja, maupun lingkungan hidup.

Rupanya, masa kecilnya yang berhubungan dengan petani dan pertanian berdampak pada kehidupan dia selanjutnya. Beranjak dewasa, Cherrie memutuskan untuk kuliah di jurusan pertanian. Meskipun begitu, ketika lulus kuliah, ia tidak langsung bekerja di sektor pertanian. Ia justru masuk ke sebuah perusahaan pengembang properti dan berprofesi sebagai perancang penataan lahan.

Namun, gaji besar tidak membuat Cherrie betah atau bertahan di pekerjaannya itu. Dunia pertanian seperti memanggilnya terus. Dua tahun kemudian, ia memutuskan bergabung dengan sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang pemberdayaan petani. Keahliannya di bidang pertanian sangat berguna dalam merancang lahan untuk bertani, beternak, dan perumahan. Bersama LSM itu, Cherrie sudah membantu 1.000 desa di Filipina.

Setelah tujuh tahun berkiprah di LSM, Cherrie memutuskan untuk keluar dan mencari hal baru. “Awalnya berat saya meninggalkan pekerjaan karena energi yang sudah dicurahkan di sana. Namun seorang kerabat bilang di luar sana masih ada petani yang membutuhkan bantuan. Akhirnya, saya bersemangat kembali,” tuturnya.

Kerabat tersebut membawa Cherrie ke Pulau Marinduque yang terletak 8 jam perjalanan darat dan laur dari ibu kota Manila. Marinduque yang berpopulasi 260.000 jiwa adalah provinsi termiskin ke-4 dari 12 provinsi termiskin di Filipina.

Dulu, pulau tersebut merupakan tambang perunggu. Pada 1996 terjadi banjir dan longsor akibat pola penambangan yang tidak ramah lingkungan. Indutri pertambangan pun lumpuh dan penduduk terperosok dalam kemiskinan. Menurut Cherrie, ketika pertamakali ia menginjakkan kaki di Marinduque pada 2014, sebanyak 91 persen beras yang dikonsumsi penduduk diimpor dari Vietnam.

“Padahal, dari segi alam, Marinduque sangat potensial. Kalau diolah dengan baik, bisa diproduksi beras tiga kali lipat dari kebutuhan penduduk,” katanya. Hal tersebut belum termasuk potensi produksi sayur-matur dan hewan ternak.

Cherrie lalu mendirikan perusahaan pertanian Agrea yang bermarkas di ibu kota Provinsi Marinduque, Boac. Ia merekrut sarjana-sarjana lokal sebagai pegawai. Selain terdidik, mereka juga menegal budaya lokal dan memiliki jejaring dengan petani, tokoh masyarakat, dan tokoh agama setempat.

Perlahan, Agrea menjangkau kelompok-kelompok tani dan berbagai ilmu mengenai ketahanan pangan, diversifikasi pangan, serta cara penanaman yang ramah lingkungan. Setiap kelompok tani juga dilatih membuat koperasi agar bisa belajar mengelola lahan serta pemasukan dan pengeluaran hasil produksi. Total ada 15 kelompok tani yang dibina. Setiap kelompok beranggotakan 70 petani.

“Kami juga mendatangkan profesinal untuk melatih petani membuat produk turunan dari hasil produksi. Misalnya, dari panen kelapa juga buat kopra, santan kemasan, dan gula merah,” papar Cherrie. Ada pula pelatihan cara mengemas produk yang higienis serta menarik minat pembeli.

 

Cherrie Atilano

Lahir                      : Silay City, Provinsi Negros Occidental, Filipina, 15 September 1986

Pendidikan         :

  • Sarjana Pertanian dari Visayas State Univercsity (lulus 2007)
  • Kursus Intensif bisnis dan kepemimpinan di Yale University Amerika Serikat (Maret 2015)

Pekerjaan           : Pendiri perusahaan pertanian Agrea dan Yayasan Agrea, Marinduwue, Boac, Filipina.

 

Sumber: Kompas.27 November 2017.