
Hotel Majapahit merupakan salah satu ikon Kota Surabaya yang menjadi saksi sejarah peristiwa heroik perobekan bendera Belanda menjadi bendera Merah Putih. Kesan dan nuansa kolonial pada hotel ini masih sangat terasa walaupun sudah lebih dari 100 tahun berdiri.
Hotel ini semula bernama Oranje Hotel yang dibangun oleh Lucas Martin Sarkies dari keluarga Armenia pada tahun 1910. Pada tahun 1936 dilakukan penambahan bagian depan sebagai area lobby yang bergaya Art Deco. Penambahan area lobby ini merupakan penambahan terakhir yang dilakukan sampai akhirnya pada 1969 dibeli oleh pengusaha lokal dan kembali dibuka sebagai boutique hotel yang memiliki banyak kenangan didalamnya.
Sebagai hotel yang memiliki arsitektur dan kaitan dengan sejarah kemerdekaan Indonesia yang menarik, Hotel Majapahit ini mendapatkan beberapa penghargaan. Salah satu penghargaannya adalah National Geographic Award in Architectur and Design.
Lobby bergaya Art Deco sangat menonjol dengan detail ornmen-ornamen geometris dan kaca patri warna-warni. Kolom-kolom bangunan dibuat lebar dan dilapisi dengan kayu jati. Plafon pada area tengah dibuat lebih tinggi dan dihiasi chandelier klasik.
Dari lobby terdapat selasar menuju atrium, atrium ini pada tahun 1910 digunakan sebagai lobby. Dari atrium menuju kamar hotel melewati dua selasar yang berbatasan langsung dengan taman taman di dalam hotel. Selasar ini dibatasi oleh kolom-kolom bergaya colonial yang memeberi memory masa colonial Belanda ketika melewatinya.
Di Hotel Majapahit ini terdapat juga Presidential Suite terbesar di Asia Tenggara yang terletak di antara dua sayap bangunan dan berukuran ±800 m2. Presidential Suite ini terdiri atas dua lantai. Pada lantai satu terdapat ruang makan formal, ruang keluarga, dan foyer sementara di lantai dua terdapat 2 ruang tidur, untuk ruang tidur utama dilengkapi dengan area kerja dan ruang kerja yang bernuansa warm.
Sumber: Rumahku. Oktober 2017. Hal 34-35
