Menari Bersama Anak-Anak Tunarungu.Kompas.1 Februari 2016.Hal.16

Tak ada yang lebih melegakan bagi Sri Aemi dan suaminya, I Made Lila Arsana, selain melihat anak-anak tunarungu didikan mereka mampu menari bali. Gerakan mereka indah, menyatu dengan music. Tidak ada bedanya dengan penari-penari lain yang bukan penyandang disabilitas.

OLEH AYU SULISTYOWATI

“Mereka sama. Mereka adalah anugerah. Kami hanyalah sedikit lebih sempurna dari mereka. Dan, kami tak pernah sulit berkomunikasi karena hati yang menyatukan setiap dialog kami,” kata Sri Aemi, awal Januari lalu.

Bagi Emi, demikian sapaan akrab Aemi, sudah menjadi garis Tuhan ketika ia harus bersama anak-anak yang memiliki kelemahan pada pendengaran. Sejak 2004, ia setia menjadi guru sekolah luar biasa (SLB) tuna rungu di Sesetan, Denpasar, hingga sekarang. Saat itu, gajinya boleh di bilang pas-pasan. Padahal, anak didiknya banyak,sekitar 100 orang.

Emi lantas diangkat sebagai pegawai negeri sipil tahun 2007 dengan gaji lebih baik. Pengangkatannya sebagai PNS bersamaan dengan diakuinya yayasan sekolah sebagai SLB negeri oleh pemerintah setempat.

Pengakuan tersebut membuatnya tambah semangat untuk mengangkat martabat anak-anak tuna rungu yang ia didik. Pada saat yang sama, Pemerintah Kota Denpasar juga aktif—terutama tiga tahun terakhir—membantu kegiatan social itu melalui dinas social dan tenaga kerja ataupun Koordinator Kegiatan Kesejahteraan Sosial, seperti mengajak anak-anak tampil dalam pentas tari, darama musical, rekaman lagu lagu, dan pembuatan film.

Menyemangati anak-anak

                Ibu enam anak ini tak pernah lelah membangkitkan rasa percaya diri pada anak-anak. “Saya selalu menekankan kepada mereka agar tidak minder. Paras mereka ayu dan ganteng. Bahkan, kemampuan berkesenian mereka melebihi anak normal. Mereka mukjizat,” tutur Emi.

Arsana, suami Emi, juga tak putus-putus menyemangati nak-anak didiknya. Arsana, yang punya segudang pengalaman mengajar tari dan menata musik sampai ke mancanegara, ikut melinatkan diri. Awalnya ia sempat ragu apakah bisa berkomunikasi langsung saat mengajar tari. Namun, ia akhirnya mencoba tantangan itu.

“Saya bekerja di Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kota Denpasar dan sering ikut kegiatan yang melibatkan anak-anak penyandang disabilitas. Hanya saja, saya belum pernah mengajari mereka menari. Ini tantangan buat saya,” ungkap Arsana.

Selanjutnya, ia menyiapkan format bahasa isyarat menari yang mudah dipahami anak-anak tunarungu. Ini tak mudah karena mere sama sekali tak bisa mendengar music gamelan. Arsana mengandalkan gerakan tangannya sebagai isyarat.

“Saya berpikir, saya bisa mengajari orang asing di negaranya. Kadang, saya pun tak menguasai bahasanya, hanya mengandalkan bahasa Inggris, tetapi tetap bia lancer mengajar tari. Jadi, saya kira pasti bisa mengajar tari anak-anak tunarungu ini. Kan, tidak ada beda dengan mengajari orang asing,” kata Arsana.

Di depan anak-anak, biasanya Arsana memperagakan gerakan sambil tangannya member kode-kode tertentu, mencakup gerakan tangan, kaki, mata, dan memainkan selendang. Anak-anak lantas mengikutinya meskipun tidak bisa mendengar music pengiring tarian.

Namun, ada satu hal yang masih menjadi ganjalan bagi Emi dan Arsana, yaitu penyamaan kesempatan penari tunarungu dan penari normal di ajang perlombaan. Menurut mereka, selama ini penari-penari tunarungu hanaya dianggap pengggembir, itu tidak adil.

“Saya kecewa karena dipersyaratan lomba tidak ada penjelasan siapa yang boleh atau tidak boleh mendaftar lomba. Uang pendaftaran lomba di terima, tetapi kekurangan mereka tidak diterima. Isyarat tangan (diberikan) hanya agar penari bisa menyesuaikan diri dengan music, urusan gerakan adalah tanggung jawab penari,” tutur Emi sambil menahan tangis.

Ia sakit hati kepada semua dewan juri lomba tari itu. Bagaimana tidak, anak didiknya berlatih serius dan tak asal menari sebagai penggembira.

“Saya berani bertaruh, penari-penari tunarungu punya taksu (talenta) dan sama bagusnya sesuai penari bali. Saya melatihnya disiplin dan tidak ada beda dengan anak normal. Saya berani pentas bersama,” kata Arsana.

Membangun Sanggar

Agar masyarakat menghargai anak tunarungu yang berbakatseni, suami istri itu membentuk Sanggar Sandhi Muni Kumara. Sanggar ini terbentuk juga lantaran ada dorongan dari anak-anak tunarungu yang ingin mendapatkan ilmu lenih dalam menari. Anak-anak tunarungu dan penyandang disabilitas lain bisa ikut kegiatan sanggar secara gratis.

Emi dan Arsana tidak hanya memikirkan bagaimana anak-anak bisa berlatih, tetapi bagaimana mereka juga bisa tampil. Hal itu memerlukan biaya. Suami istri itu melakukan upaya apapun yang halal agar bisa mendanai anak-anak tunarungu didikan mereka untuk tampil. Tekor atau rugi karena harus mengeluarkan uang sendiri demi anak-anak didik sudah tidak ada lagi dalam kamus kehidupan mereka.

“Kami sudah memiliki fisik sempurna. Maka, kami tak perlu lagi memungut biaya apa pun dari mereka (anak-anak tunarungu). Bisa membagikan ilmu menari dan berkesenian kepada mereka sudah luarbias buat kami berdua. Mereka semangat kami dan begitu pula mereka menyemangati hidup dengan berkesenian,” kata Arsana.

I MADE LILA ARSANA·         Lahir :

·         Anak :

1.      Della (sudah menikah)

2.      Rahma ( kuliah smt IV)

3.      Anshar (SMP)

4.      Tio (SD)

5.      Ima (SD)

6.      Bagas (TK)

·         Pendidikan :

–          SD 28 Dangin Puri (1974-1980)

–          SMP 5 Denpasar (1980-1983)

–          SMK 1 (Kokar), Denpasar (1983-1986)

–          S-1 STSI Denpasar (lulus 1992)

·         Pekerjaan : Penata tari Sanggar Tari Sandhi Murni Kumara

SRI AEMI·         Lahir : Trenggalek, 26 Mei 1969

·         Pendidikan :

–          SDN Prambon V Trenggalek, Jawa Timur (1979-1982)

–          SMP Taman Dewasa Trenggalek (1982-1985)

–          SMA Merdeka Trenggalek (1985-1988)

–          Jurusan Seni Tari Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatika Surabaya (1988-1990)

–          S-1 Jurusan Pendidikan Luar Biasa IKIP PGRI Surabaya

–          Pascasarjana Undiksha, lulus Agustus 2015

·         Pekerjaan : Pemimpin Sanggar Tari Sandhi Muni Kumara

 

 

UC LIB-COLLECT

KOMPAS.SENIN.1FEBRUARI 2016.HAL.16