Memang bukan merupakan jalan protokol, namun Comediestraat atau sekarang dikenal dengan Jalan Merak memiliki fungsi yang penting kala itu. Lokasinya masuk ke dalam dari jalan protokol, seperti jalan pintas atau jalur penghubung. Dan masyarakat memanfaatkannya sebagai jalur untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

 

Menurut pemerhati sejarah yang juga anggota Surabaya Heritage Society Chrisyandi, Comediestraat saat itu menjadi jalan bagi orang lewat. Tetapi jika dilihat dari Gedung yang ada di sana, maka bisa disimpulkan menjadi beberapa aktivitas atau tujuan. Saan kekuasaan Jepang, aktivitas di sana cenderung dipakai hilir mudik militer menuju ke markas tantara Jepang. Dimana saat itu berada di Gedung Haandels Vereeniging Amsterdam (HVA) atau Gedung PT Perkebunan Nusantara (ptpn) XI.

“Sedangkan pada masa revolusi atau masa kemerdekaan, antara Agustus-November 1945, jalan itu masih dipakai aktivitas militer tapi kali ini militer Indonesia,” jelasnya kepada Radar Surabaya.

Selain itu, di tahun sebelum 1900-an jalan tersebut juga digunakan untuk melintas masyarakat menuju ke gereja. Karena ada gereja Katolik pertama yang dibangun dilahan PTPN XI di Jalan Kepanjen, yaitu Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria atau lebih dikenal masyarakat dengan Gereja Kepanjen. Lokasi gereja yang terletak di antara Jalan Krembangan Barat, Jalan Merak, dan Jalan Sriti, sehingga orang-orang saat itu memanfaatkan Jalan Merak agar lebih dekat menuju ke gereja.

Jalan merak juga dimanfaatkan masyarakat untuk menuju Gedung Kesenian dan memakamkan orang yang meninggal di pemakaman Krembangan. Sesudah tahun 1900-an, aktivitas di jalan tersebut lebih cenderung ke arah bisnis.

“Mungkin Kawasan sekitar sana (sekitar Jembatan Merah, Red) berkembang menjadi Kawasan niaga. Jadi jalan Merak juga menjadi jalur bagi para pedagang maupun barang dagangannya. Mengingat di sekitar Kawasan tersebut banyak Gudang-gudang,” imbuhnya.

 

 

 

Sumber: Rada Surabaya, 29 April 2019. Hal.3